Selasa, 15 November 2011

parodi dunia kerja masih berlanjut

Alur waktu telah membawaku hingga ke masa sekarang ini dan tempat yang seperti ini. Sungguh ini adalah suatu perjalanan yang begitu dinamis. Perjalanan itu tidak hanya menjadikanku sebagai penonton, figuran, atau pun penghias panorama belaka, namun diri ternyata telah terlibat sebegitu dalam. Hal tentang aku, dia, mereka, bisa jadi pula kamu, dalam suatu panggung bernama dunia kerja itu masih berlanjut. Parodi dunia kerja ini telah menempuh adegan-adegan selanjutnya.

Bisik Berbisik yang Tak Baik

Aku punya mulut, mata, dan telinga, sebagaimana pula dengan yang lain. Dengan mulut ini, maka aku dapat mengutarakan secara lisan apa pendapatku dan apa yang perlu kusampaikan. Dengan telinga ini, maka aku mendapatkan setiap informasi yang terdengar dan menangkap setiap bentuk suara yang melintas. Dengan mata, maka aku melihat setiap gerak-gerik tingkah aksi para pelaku parodi di sekitarku.

Ah, sungguh luar biasa kemampuan dari tiga indera ini. Di luar kendaliku pun, mereka dapat menembus batas untuk menampung segala peristiwa serta berita dan mengabarkannya. Apalagi dengan mereka, para lakon-lakon jago itu.

Setiap suara dan tingkah akan diperhatikan dengan seksama, entah kabar peristiwa atau berita macam apa pun itu. Suara dan tingkah itu akan diterjemahkan dengan sekehendak kepentingan pribadi dan kemudian keluarlah perkataan melalui mulut-mulut mereka. Hanya saja sayangnya, perkataan itu tak muncul dalam bentuk kelantangan suara, namun ia terbentuk dalam kemasan bisikan-bisikan.

Bisikan itu pun menyebar bagai penaburan benih ke segala penjuru. Namun, manakala apa yang mereka ceritakan itu ada di hadapan mereka, bisikan itu seakan-akan menghilang dengan sendirinya. Kelantangan suara seakan hal yang tabu dan bisik berbisik itu masih ada, entah semua lakon sadar akan hal itu atau tidak.

Ah, memang sepertinya benar apa yang diwasiatkan oleh para lakon yang sudah minggat beralih panggung pentas lainnya, “hati-hatilah dirimu dengan setiap bisikan yang ada”. Karena dalam bisik berbisik itu jarang hal baik yang diutarakan, yang ada adalah hal tak baik. Semula aku tak percaya, namun kian lama bisik berbisik itu menjadi fenomena yang semakin sering kuhadapi.

Wasiat itu juga mengingatkanku agar tak mudah percaya dan berbagi cerita pada siapa pun lakon dalam parodi ini. “Mungkin memang dirimu butuh tempat untuk bercerita dan berbagi, namun ingat dalam pentas parodi ini setiap mata dan telinga yang ada dapat menyampaikan penuturan cerita yang berbeda dari semula”, begitulah nasihatnya. Kepentingan dan perasaan pribadi begitu dominan mewarnai pementasan parodi ini dan bisikan-bisikanlah yang menjadi wujud nyata tendensi hal yang demikian.

Kini, hampir sering terjadi bisikan itu melintas lewat dalam telingaku dan kutahan mulutku agar tak menuturkan sembarang kata, pun hingga mewujud dalam bisikan, apalagi yang tak baik. Namun, kendali diri ini begitu payah, kelihaian indera ini sungguh mengagumkan. Mereka menampung apa pun yang mereka mau dan kemudian menghasilkan keluaran apa yang mereka kehendaki. Ah, indera-inderaku ini, aku perlu penyaring yang tepat untuk kalian agar tak sembarangan seperti itu dan pula agar bisikan-bisikan yang ada bisa kuanggap sebagai angin yang telah lalu.

Kekecewaan Itu Tersirat

Bisikan tak baik itu tidak muncul dengan sebegitunya saja, ia muncul tentunya dengan apa yang menyebabkan ia dapat muncul seperti itu. Kesimpulan yang kemudian kudapati adalah kekecewaanlah yang menjadi penyebab akan bisikan-bisikan ini. Kekecawaanlah yang menjadi bumbu pericuh suasana, manakala antar sudut pandang pribadi begitu bertolak belakang.

Kekecewaan itu tersirat, entah itu melalui bentuk perkataan atau tindakan. Yang jelas, aku dapat merasakannya. Harapan-harapan yang semula ada di benak para lakon, namun kemudian pupus dan menjadikan mereka terpuruk. Mereka, yang menjadi lakon tanpa harapan lagi, kemudian melampiaskan kekecewaan itu dalam bisikan-bisikan tak baik. Mereka seakan berniat untuk menjadikan lakon lainnya sama seperti mereka, percaya akan setiap cerita negatif yang mereka utarakan dan kemudian larut bersama-sama dalam kekecewaan itu.

Padahal sebenarnya ini hanyalah permasalahan sudut pandang. Manakala apa yang terjadi pada diri adalah suatu hal yang memang jauh dari harapan, namun tak selamanya apa yang meleset itu adalah hal yang tidak baik. Karena pada setiap babak itu pastilah ada hikmah yang dapat dipetik untuk tiap pemeran dalam parodi itu. Namun sayangnya, ada (walau tak semuanya) lakon yang menutup mata akan hal ini dan kemudian memilih tenggelam dalam lautan kekecewaan yang tak berujung.

Aku pun terkadang berusaha menempatkan diri seakan-akan ada pada posisi mereka. Ya, memang dapat dimaklumi, dengan kondisi yang ada, rentan sekali kekecewaan itu muncul. Seketika sudah terjerembab dalam kubangan kekecewaan itu, maka kemudian lakon itu terjebak dalam kekangan kekecewaan mereka dan begitu sentimentil  akan keadaan, sehingga yang terjadi adalah kekecewaan itu semakin bertambah saja.

Ah, memang inilah yang terjadi dalam pentas parodi ini. Skenario yang ada dan harus dijalani terkadang bukanlah hal yang dikehendaki. Aku pun pernah merasakan hal ini dan begitu berat untuk menjalani setiap detail skenario yang tak cocok itu sebenarnya. Namun, apakah kekecewaan menjadi hal yang tepat sebagai pelarian? Biarlah yang terjadi itu berlalu saja, karena masih banyak yang akan kutemui. Biarlah kucoba menetralkan diri dari kekecewaan akan harapan yang ada di angan dan kemudian berusaha menumbuhkan harapan baru yang lebih realistis dari semula...

Tua Tak Seharusnya Menjadi Alasan

“Kami sudah tua, kami sudah tak bisa lagi melakukan pekerjaan dengan optimal, lebih baik yang muda saja mengerjakannya.”

Terlalu sering perkataan semacam ini didengungkan berulang kali oleh para lakon yang memang sudah tua itu. Perkataan ini seakan adalah permohonan pemakluman atas kondisi yang terjadi pada mereka. Kecanggihan jaman dan sistem tidak berjalan beriringan dengan penguasaan kompetensi dari para lakon itu. Mereka tertinggal dengan perkembangan yang begitu massif itu dan begitu tertatih dalam mengejar ketertinggalan itu.

Ya, memang pemakluman itu dapat dipahami. Seiring dengan menuanya tubuh, maka kemudian berkuranglah pula daya pikir dan serap akan perkembangan kecanggihan jaman. Akan tetapi, terdapat perbedaan jelas antara para generasi tua yang pasrah akan keadaan dengan yang berusaha benar-benar mengejar ketertinggalan itu.

Justru aku akan memberikan respektasi dan tanda salut yang begitu tinggi bagi para generasi tua yang masih berusaha dalam mengatasi ketidakmampuan mereka. Mereka inilah orang-orang yang tidak menjadi beban persoalan dan tidak merepotkan orang lain. Namun, orang-orang semacam ini begitu langka. Yang begitu dominan adalah mereka yang pasrah akan keadaan, sekadar menjalankan tugas yang mampu mereka jalani seadanya, tak bisa lebih dari itu.

Ah, padahal kecanggihan jaman dan teknologi seperti sekarang ini sebenarnya bukanlah suatu momok yang memberatkan. Kecanggihan ini malah menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih mudah bukan untuk menyelesaikan pekerjaan kita? Untuk dapat mengikuti perkembangan kecanggihan ini caranya sebenarnya hanya satu, yakni mau belajar akan hal tersebut, bukan kemudiaan acuh tak acuh dengan kemajuan jaman ini.

Tua tak seharusnya menjadi alasan. Yang patut menjadi alasan adalah mau tidaknya para lakon-lakon itu, termasuk juga aku, untuk belajar mengiringi perkembangan dan perubahan yang ada. Memang faktor usia sangat mempengaruhi daya pikir dan serap dalam proses belajar itu, tetapi dengan semangat dan kegigihan, tidak ada sesuatu yang mustahil, bukan?

Menjadi Muda dan Diberdayakan

Syahdan, lihatlah kemudian para lakon-lakon muda atau yang masih baru pula seperti aku ini. Satu bagian dalam skenario parodi ini begitu panjang, rumit, dan menumpuk untuk mereka. Seakan-akan menjadi lakon utama, namun nyatanya sebenarnya hanyalah tokoh sekunder belaka.

Banyak bagian dalam skenario itu yang dijalankan sebenarnya bukanlah ranah yang tepat pula untuk dimainkan oleh mereka. Skenario itu merupakan skenario yang seharusnya dijalankan oleh para lakon generasi tua. Akan tetapi, keacuhan mereka tak mau mengambil peran untuk itu menjadikan skenario ini beralih kepada para lakon muda yang sebenarnya sudah memiliki skenario yang panjang untuk dirinya sendiri.

Begitulah kemudian tampil saat pementasan, para lakon mudalah yang begitu berdaya, walau itu bukan atas kehendak mereka, tetapi lebih tepatnya mereka sedang ‘diberdayakan’, bahkan kalau bisa diperas habis kemampuan mereka semaksimal mungkin dalam menjalani pengalihan skenario yang bukan jatah mereka itu.

Ah, mungkin ini titik bagi ujian keikhlasanku dalam memerankan lakon yang diberdayakan ini. Toh pula, kalau kugunakan sudut pandang lain, malah ini menjadi hal yang baik. Pengalihan skenario ini menjadikan wawasan diri bertambah dan penguasaan kompetensi tak terkungkung pada satu ranah jenis peran saja.

Namun, kalau pemberdayaan itu sudah pada tahap pemerasan kemampuan, bagaimana bisa tahan lagi? Lihat saja pengalaman yang telah lalu dengan para lakon yang sudah minggat dari pentas ini. Ada momen-momen di mana mereka begitu payah akan keadaan, hingga pun kemudian tak dapat membendung emosi lagi karena tak sanggup menanggung beban peran yang dijalankan.

Huh, jalani saja sebaik mungkin, sepertinya itu solusinya. Para lakon yang telah berlalu itu jua sepertinya memilih solusi ini. Emosi yang sudah terluap biarlah berlalu, biarkan semuanya berjalan normal kembali seusainya, semoga saja lakon-lakon yang lain dapat mengerti kemudian dan tak lagi acuh mengabaikan peran mereka masing-masing.

Apakah Aku Nanti Akan Menjadi Seperti Mereka?

Generasi tua dan muda, seperti inilah dikotomi yang terjadi dalam pentas ini. Dua kubu yang saling bertolak balik, entah itu dilihat dari sudut pandangnya, cara bersikapnya, berinteraksinya, dan banyak pembeda lainnya. Perbedaan itu menjadi karakter yang melekat pada tiap generasi dan terkadang inilah yang menyebabkan ketidaksepahaman sering terjadi.

Ah, padahal tentang tua dan muda itu bukankah hanya sekadar hal mengenai usia saja sebenarnya kan? Generasi tua diberikan kesempatan telah mencicipi menjalani peran mereka dalam parodi ini terlebih dahulu daripada generasi muda. Kesempatan ini memberikan lebih banyak pengalaman dan kisah bagi para generasi tua. Hm bisa jadi memang ini yang menjadikan dua generasi ini begitu berbeda, ini bukan sekadar perbedaan usia saja.

Lalu, bagaimanakah bila nantinya generasi yang muda itu beralih menjadi generasi tua? Bukankah memang sudah menjadi ketentuan setiap lakon itu akan menjadi lebih senior dan masuk pada generasi tua seiring bertambahnya masa pementasan parodi ini? Akankah kemudaan generasi ini kemudian menjadi beralih menjadi ketidakberdayaan dan keacuhan yang begitu sering terlihat dari generasi tua?

Memang tak selamanya diri akan menjalankan lakon muda ini terus. Akan ada waktunya lakon-lakon yang lebih baru muncul dan masuk dalam pentas ini. Namun, apakah aku kemudian memilih menjadi generasi tua yang merepotkan sebagaimana dulu pernah diri direpotkan? Ini adalah pilihan dan saat ini tentunya aku lebih memilih menjadi generasi tua yang tak pasrah akan keadaan. Menjadi generasi tua yang membimbing generasi lebih muda dengan pengalaman dan kisah lalu yang penuh hikmah, ini yang kuinginkan nantinya saat masa-masa tua itu menjadi suatu hal yang tak bisa dihindari lagi.

Percaya Masih Ada Kebaikan di Sana

Bergabung dan memilih untuk menjadi salah satu pemeran dalam pementasan parodi ini memang suatu keputusan yang sudah tak bisa diganggu gugat kembali. Aku telah memilih dan harus menjalani segala konsekuensi yang menyertai. Jalani dengan sebaik mungkin inilah yang menjadi hal pelak yang harus dilakukan sekarang dan selanjutnya.

Ada banyak momen di mana skenario dalam menjalankan peran itu terasa begitu berat. Apalagi dengan fenomena yang menjadikan pementasan ini begitu terasa sebagai parodi yang aneh dan tak cocok. Dapat diibaratkan jika pekerjaan itu sebagai dedaunan yang menumpuk, ingin rasanya untuk melumatnya habis dan membakarnya hingga hanya bersisa abu belaka. Ah, itu suatu indikasi bilamana emosi terlampau sudah meninggi sepertinya.

Sudahlah jalani saja sisa masa pementasan yang sepertinya bakal masih lama untuk selanjutnya. Tahanlah emosi itu karena tak ada yang baik bilamana emosi menjadi tak terkendali. Jadikan saja ini pembelajaran bagimu untuk dapat mengendalikan emosi. Jadikan saja setiap hal tak baik yang kau lihat itu menjadi pengingat bagi dirimu agar tidak menjadi seperti itu. Jadikan saja setiap peran yang kau emban, sebegitu sulitnya dan membebaninya, adalah suatu proses yang akan menjadikanmu lebih berkompeten dan ahli dalam peran yang kau jalani. Semangat adalah kuncinya dan cinta adalah penggeraknya, dengan keduanya maka peran itu bukanlah sekadar menjadi peran yang biasa...

Painan, 15 November 2011, 22.30

*(diselesaikan tepat pada hari pementasan ke-100 dari berlangsungnya Parodi Dunia Kerja di suatu kota kecil ini)*

34 komentar:

  1. Hmm.. entah mengapa, tulisan yang tersirat selalu menimbulkan berbagai persepsi dari para pembaca..
    yang pertama. saya berpikir tulisan ini menggambarkan beberapa stereotype khas suku di Indonesia (i.e. ngomong di belakang khas orang jawa. dan yang pasrah menerima keadaan seperti stereotype orang melayu -sorry. no offense)
    Kata orang dunia kerja memang keras.. hhee. semoga Anas bisa bertahan :D

    BalasHapus
  2. Semangat, nas. :D begitulah kalo d daerah. Saya di pusat, sejauh ini, hampir2 ga kepake

    BalasHapus
  3. udah 100% ya kalo ikatan kerja, Nas?
    kendali ada pada diri kita yang pasti :)

    BalasHapus
  4. ya begitulah, ada plus minusnya masing2 to di manapun itu.
    berjuang dg medan yg berbeda, dg cara yg berbeda. semangat teman2!! :D

    BalasHapus
  5. parodi seperti itu bukan hanya di daerah kok...di pusat juga ada, meski mungkin g separah di daerah krn kalo di pusat ortu2 'dipaksa' untuk mengerti teknologi, tergantung mau atau tidak ..itu saja. Tetap sabar dan semangat dek...soal bisik2 ahhh...anggap 'vetsin' aja...

    BalasHapus
  6. Pedang yang bagus, dia terbuat dari besi yang kuat tempaannya.

    BalasHapus
  7. Haryo...
    huaaah terhalang oleh maintenance mp pagi ini...
    jadilah silakan pertamax diembat :)

    BalasHapus
  8. lanjut dah buat Haryo
    hahaha yaiyalah... wong emang niatnya gitu hehehe
    hmm bisa jadi analisis Haryo ada benernya, tetapi ya ada gak benarnya juga hehehe

    yes, dunia kerja itu bener2 belantara... *yang diparodikan tentunya :)
    Allahumma aamiin semoga masih bisa bertahan dan juga memberikan dedikasi terbaik
    makasih, Haryo

    BalasHapus
  9. Mbak Ute...
    hohoho inilah yang berkebalikan dengan saya...
    magangnya di pusat terus penempatan di daerah...
    dan dua area itu memang punya karakteristik tersendiri, makanya muncul dua kisah tersendiri akan parodi ini...

    ho? gak kepake, mbak? mosok to? mungkin belum lama di situ sih... belajar php dulu aja mbak hehehe

    BalasHapus
  10. Mas Tanto...
    udah dua kali kalau gak salah menandatangani perjanjian ikatan dinas... saat masih kuliah dan awal magang...
    hufh yap, that's true indeed mas...
    kendalanya pada diri nih, gimana agar bisa berpositive thinking

    BalasHapus
  11. Ifa...
    hohoho emang punya cerita sendiri... makanya saya mengupdate kisah parodi ini..
    dari yang sebelumnya merupakan cerita saat magang dan kini saat berada di kantor daerah...
    di kantor pusat? hmm semoga ada satu bagian cerita tersebut nantinya...
    nggih sami2 semangat semuanya...

    BalasHapus
  12. Mbak Siti Hamidah..
    hmm iya mbak... pernah mengamati juga sewaktu magang di pusat, cuman ya kisahnya baru sebentar saja saat itu... belum menganalisis sebegitunya...
    yap, emang kudu semangat intinya...
    vetsin? yayaya analogi yang pas yo, mbak ~_~a

    BalasHapus
  13. Imam....
    wuaaaaaaaaaaa keren banget tuh quotenya...
    semoga tempaan ini menjadikan hal yang lebih baik
    bukan sampai malah menghancurkan diri sendiri

    BalasHapus
  14. Hehe.. mau gimana lagi. Kadang kita tidak selalu mendapatkan keadaan yang kita inginkan. Itulah hidup... Saya dulu di organisasi kampus juga tantangannya buanyakk.. bukan masalah pekerjaannya. Tapi dengan siapa saya bekerja. Yah..saya pikir di dunia kerja permainan semacam itu pasti lebih berat.. :D

    BalasHapus
  15. Hehe.. mau gimana lagi. Kadang kita tidak selalu mendapatkan keadaan yang kita inginkan. Itulah hidup... Saya dulu di organisasi kampus juga tantangannya buanyakk.. bukan masalah pekerjaannya. Tapi dengan siapa saya bekerja. Yah..saya pikir di dunia kerja permainan semacam itu pasti lebih berat.. :D

    BalasHapus
  16. Hati2 dgn politik perkantoran.kadang tembok jg ada "kuping"nya :-)

    BalasHapus
  17. Haryo
    yayaya when it deals with 'the who aspect', it is really complicated things....
    huhuhu tapi kalau organisasi jaman kampus dulu mah unsur seneng2 dan keakraban masih ada gitu ya

    BalasHapus
  18. Mas Dedy...
    huaaaaaaaa ni salah satu hal yang patut dicamkan banget buat saya...
    saya mulai agak risih dengan hal yang namanya perpolitikan kantor...
    udah njelimet gitu urusannya dan bentrok kepentingan...

    *hmmm tetapi sih untungnya MP ini orang kantor gak ada yang tahu, jadi ya semoga curcolan gini masih menjadi rahasia antar kita, para MPers aja hihihihi*

    BalasHapus
  19. Ada sih ada, tapi unsur politiknya akut juga.. hehee..
    let it flow aja. Orang sukses biasanya banyak cobaannya... :D

    BalasHapus
  20. nggih mas Gun...
    kan punika kula nembe pertama kali merasakan bener...

    nggih dicoba sabar mangke

    BalasHapus
  21. Haryo...
    hohoho semoga sukses beneran deh...
    sukses bareng Haryo juga hehehe

    BalasHapus
  22. Itu artinya saya juga menemui banyak kesusahan nas.. hhee. Amin.. sukses semua dah.dunia akhirat..

    BalasHapus
  23. Haryo...
    ben ra susah dhewe gitu lo hihihi
    nek nggo doane sih Allahumma aamiin :)

    BalasHapus
  24. Jiah.. nek soro ndelek ndelek konco :D..

    BalasHapus
  25. Haryo
    senasib sepenanggungan gitu lo

    BalasHapus
  26. Btw kapan nih anas main ke surabaya..
    Moso dolane nang jakarta tok.. :D

    BalasHapus
  27. Btw kapan nih anas main ke surabaya.. Moso dolane nang jakarta tok.. :D

    BalasHapus
  28. Haryo Haryo...
    tuh ngepas takkomentari di jurnalmu tentang bromo yang kedua...
    itu jawabane hehehe

    BalasHapus
  29. Yoa.. wes diwoco nas.. wes dibales sisan. Haha
    Jadi g jelas gini ya --a

    BalasHapus
  30. gpp nas. kalo merasa terlalu diberdayakan, anak muda kan emang harus kerja keras. tapi tetep inget aja, batas kemampuan fisik dll kita, sehingga emang perlu ada saatnya berhenti.
    yah, namanya kerjaan kan kayak kumis. hari ini dicukur, besok numbuh lagi.

    BalasHapus
  31. Pak Ali yang sederhana nan bijak nian....
    huhuhu baiklah akan kuingat selalu pituturmu, kakanda....
    dirimu kan sudah lama sepak terjangnya *halah

    BalasHapus