Tampilkan postingan dengan label office. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label office. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2012

ini bukan pekerjaan yang mudah

Hufh, rasanya ingin menghela nafas sejenak dan menariknya dalam-dalam.

Di kala pekerjaan ini terasa semakin menjajah waktu dan kesempatan diri. Di kala pekerjaan inilah pula yang menjadikan diri begitu jauh ditempatkan. Di kala pekerjaan ini pada garis besarnya sebenarnya adalah suatu pekerjaan yang beresiko tinggi...

Ah rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk berkeluh kesah dalam tulisan kali ini...

Akan tetapi, berita yang sampai pada diri tentang betapa pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah dan begitu beresiko sungguh menjadikan semuanya itu seakan pada berada pada klimaksnya...

“Dua orang mantan pegawai KPPN Jakarta II telah divonis hukuman bersalah atas terjadinya pemalsuan dokumen Surat Perintah Membayar (SPM) dan persetujuan pencairan dana oleh KPPN atas SPM palsu tersebut, sehingga didakwa dengan tuduhan korupsi.”

Kronologis lebih lengkapnya dapat disimak pada tautan berikut http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/01/10/solidaritas-untuk-ujung-tombak-penyerapan-apbn/

Rekan sejawat satu instansi kami telah dituduh dengan perbuatan korupsi. Padahal mereka sudah menjalankan segala prosedur pemeriksaan dan pengujian agar dokumen berdasarkan Standard Operating Procedures (SOP) yang mengacu pada praktek sehat dan amanat dari Undang-undang tentang Keuangan dan Perbendaharaan Negara. Lalu bagaimanakah SPM yang asli tapi palsu itu kemudian menjerat mereka yang sudah bertindak sebagaimana keharusan mereka?

Perlu diketahui sebelumnya KPPN berfungsi sebagai kantor yang melayani permintaan pengajuan pencairan dana yang bersumber dari APBN untuk seluruh kegiatan operasional, proyek, dan lain sebagainya yang dilakukan oleh aparat satuan kerja pemerintahan. Satuan kerja diharuskan untuk mengajukan SPM sebagai dasar bagi KPPN untuk menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) yang kemudian menjadi landasan sah terjadinya pemindahbukuan dari rekening kas negara kepada rekening-rekening satuan kerja pemerintah berkenaan atau pihak ketiga sehubungan dengan dana pelaksanaan kegiatan tersebut.

Terungkaplah kemudian pada serangkaian pembuktian dan kronologis dari berlangsungnya kasus ini rupanya menyimpan suatu keganjalan di mana SPM tersebut adalah SPM yang sebenarnya memang ditandatangani oleh pejabat yang berkenaan (dari suatu kementerian), sehingga SPM itu nyata keasliannya, hanya saja oleh pihak ketiga dana proyek tersebut diselewengkan tidak sebagaimana untuk peruntukan kegiatan yang tertera pada SPM tersebut.

Lucunya berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun selama persidangan juga sudah jelas terungkap bahwa SPM tersebut pada mulanya adalah kumpulan kertas kosong yang ditandatangani oleh pejabat berkenaan dan pejabat tersebut kemudian tak sempat untuk memeriksa SPM tersebut (bahkan pun melihat setelah dicetak) sebelum diajukan ke KPPN karena alasan hendak berangkat naik haji.

Masih salahkah rekan kami yang tidak tahu menahu tentang SPM asli tapi palsu itu bisa lolos pencairan dana? Bukankah seharusnya pejabat yang sebegitunya lalai dan kurang bertanggungjawab itu juga harusnya didakwakan tuduhan korupsi?

Ah, nyatanya pejabat itu bebas dari tuduhan apa pun dan kemudian petugas KPPN itulah yang dikenakan tuduhan karena malah dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya. Pengajuan SPM yang sudah lengkap dan juga dibubuhi tanda tangan asli bagaimana pula bisa ditolak lagi saat itu? Apalagi dengan konsep pengelolaan keuangan negara yang kini menerapkan prinsip “let’s the manager manage” yang mana berarti pula bahwa kewenangan beserta tanggung jawab sepenuhnya berada pada Kementerian/Lembaga terkait.

Dapat diibaratkan sederhananya seperti ini. Anggap saja KPPN sebagai suatu teller pada suatu bank dan customer yang hendak menarik dananya itu adalah para satuan kerja pemerintah. Customer hendak mencairkan dana melalui cek giro bank yang sebelumnya merupakan cek kosong yang sudah ditandatangani oleh pemiliknya karena keterdesakan suatu keperluan. Oleh pihak customer tersebut disalahgunakan cek kosong itu dengan nilai nominal yang ditarik dipergunakan untuk kepentingan pribadinya. Saat pengajuan cek itu kepada teller tentu dana pun bisa ditarik sejumlah uang yang diinginkan. Kalau cerita seperti ini, apakah teller yang bersalah atau customernya yang lalai? Tentulah kasus lazim seperti ini, yang dicari-cari adalah si customernya, bukan tellernya yang kemudian dituduh atas kelalaian penarikan dana.

“Saya pada saat itu sebagai ujung tombak Reformasi Birokrasi, dan saya hanya melaksanakan tugas sesuai dengan aturan yang diterapkan. Kok tiba-tiba saya dituduh sebagai seorang koruptor!” Ah, sungguh terngiang perkataan rekan yang tertuduh saat memberikan tanggapan atas gugatan yang ditimpakan olehnya. Pun dapat dibuktikan pula bahwa dari keduanya tidak ada aliran dana hasil penyelewengan tersebut ke rekening pribadi mereka.

“Semua pegawai KPPN, khususnya front office (FO) dan seksi-seksi tertentu akan mengundurkan diri daripada tertimpa musibah dalam bentuk menanggung dosa yang tidak pernah mereka lakukan.” Ah, sungguh perkataan yang terucap oleh rekan tertuduh ini begitu terdengar ironis yang miris saat diucapkannya ketika pembacaan pledoi (nota pembelaan) atas dirinya sendiri pada persidangan.

Berbagai reaksi pun berdatangan dari rekan sejawat dari seluruh pelosok negeri ini untuk meminta keadilan yang sebenarnya atas kasus ini. Sungguh ini adalah momen yang sangat kelam bagi instansi kami. Bagaimana tidak? Perjuangan kami dalam mencapai layanan publik seoptimal mungkin dan mendapatkan apresiasi tinggi dalam hal penilaian antikorupsi kini dinodai dengan tuduhan salah alamat seperti ini.

Simak saja beberapa tulisan berikut ini http://www.keuanganpublik.com/2012/01/introduksi-sebagai-rasa-turut-prihatin.html , http://mycatalanz.blogspot.com/2012/01/sebuah-legitimasi-terhadap-perampokan.html, http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2012/01/10/air-mata-untuk-ujung-tombak-apbn, https://www.facebook.com/groups/119945634766368, http://tonipabayo.blogspot.com/2011/04/2-pegawai-kppn-ditahan-terkait.html, dan masih banyak tulisan setema lainnya. Jelasnya, bagi para pejuang perbendaharaan, yang kemudian saya simpulkan bahwa pekerjaan yang kami emban ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Peran sebagai sosok punggawa pengawal keuangan negara begitu terasa dan luput sedikit saja dari pelaksanaan peran ini nyatanya dapat berdampak fatal seperti ini.

Melalui tulisan ini, saya pribadi memohon doa dari pembaca sekalian untuk adanya pencerahan yang jelas untuk kasus ini dengan ditegakkannya keadilan dan dijunjungnya kebenaran untuk mereka yang salah tertuduh. Doakan kami pula, para pejuang perbendaharaan, dapat masih melakukan hal yang terbaik dan menjaga sebaik mungkin pengelolaan keuangan negara ini dari tangan-tangan yang hendak menyelewengkannya.

Ini bukanlah pekerjaan yang mudah memang. Apalagi untuk diri sendiri yang menjadi sang penjaga harta untuk Rp 2.482.068.000,00 yang menjadi anggaran untuk kantor saya selama satu tahun anggaran ini L... Ya Allah mudahkanlah hamba menjalankan amanah ini...

Painan, 11 Januari 2012, 00.28

Minggu, 18 Desember 2011

sekilas perbendaharaan negara

Sungguh tak disangka rupanya. Ternyata tak hanya tema per-Painan-an saja yang sangat mendominasi dalam MP saya ini. Rupa-rupanya ada tema lain yang sering saya bahas, yakni hal yang menyebabkan saya jadi kenal dengan Painan, ya apalagi kalau bukan karena bidang pekerjaan saya sekarang ini, yaitu Perbendaharaan Negara. Huhuhu sudah lumayan banyak ternyata postingan tentang kerjaan saya, entah itu hasil copas seperti DJPB Memperoleh Penilaian Inisiatif Antikorupsi 2010 Terbaik Dari KPK, Membangun Cinta Dan Kebersamaan Melalui Perbendaharaan Adventure, Pengarahan Calon Pegawai Baru DJPB Lulusan STAN (Herry Purnomo:"Saya Juga Mulai Dari Pelosok") (hihihi diambil dari situs resmi instansi pusat saya www.perbendaharaan.go.id), cerita saya yang Babak Baru Itu Pun Dimulai, This Is My Office, Catatan Diklat, Doa Penempatan, [One Of The Most Beautiful Scenario] Office Placement, Mencintai Perbendaharaan Sepenuh Hati, ada juga yang bentuknya puisi dengan judul Di Suatu Tempat Berwarna Biru Itu. Heuheuheu sepertinya saya sedang tergila-gila dengan perbendaharaan juga ya, selain tergila-gila dengan Painan hihihi.

Nah, kali ini perkenanlah saya kembali membahas tema perbendaharaan negara lagi biar lebih afdhol dan juga ya memperkenalkan ranah pekerjaan sipil ini kepada khalayak umum sekalian. Hohoho jangan bosen-bosen ya dan jua yo sebagai kelaziman biasanya ni tulisan bakalan deh panjang. Akan tetapi, karena memilih judulnya “Sekilas Perbendaharaan Negara” jadi ya kali ini tak semua hal ihwal tentang perbendaharaan negara akan saya beberkan sampai ludes hehehe. Pada postingan saya kali ini akan lebih fokus pada 3 hal yang menjadi current issues belakangan ini sehubungan dengan tema ya apalagi kalau bukan perbendaharaan negara J...

Silakan dibaca Uni dan Uda sekalian, ndak ada salahnya dibaca buat nambah-nambah wawasan juga walau Uni dan Uda sekalian bisa jadi tak pernah bersinggungan dengan hal ihwal perbendaharaan negara hehehe...

Layanan SP2D KPPN Menjadi Layanan Nomor 1 dalam Survei Integritas KPK

Seperti yang dilansir dari berita media massa detik.com dan situs resmi instansi saya perbendaharaan.go.id, yap sungguh suatu kebanggaan untuk instansi saya karena layanan instansi saya inilah yang menjadi nomor satu dalam survei integritas KPK pada tahun 2011 ini. Berita ini pun kemudian dipertegas lagi dengan surat langsung dari Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor S-11416/PB/2011 tentang Apresiasi atas Prestasi KPPN dalam Survei Integritas KPK Tahun 2011. Pada surat tersebut, Dirjen kami menyatakan bahwa dari 284 unit layanan instansi vertikal pemerintahan yang disurvei, layanan SP2D kamilah yang mendapatkan posisi tertinggi dengan skor 7,69.

Alhamdulillah pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh para pejuang perbendaharaan seantero nusantara (KPPN itu ada dari Sabang sampai Merauke beneran, untuk tahu di mana saja tersebarnya KPPN silakan dicek di QN saya KPPN Itu Ada dI Mana-mana), telah membuahkan hasil positif dan diapresiasi dengan baik. Layanan SP2D ini memang menjadi layanan unggulan dan prima dari instansi kami untuk membuktikan bahwa instansi kami mempunyai kesungguhan dan komitmen kuat menjalankan amanat Reformasi Birokrasi.

Hohoho tapi sebelumnya sudah pada tahukah tentang apa itu layanan SP2D? Hehehe jelasnya memang layanan ini kurang familiar sebenarnya bagi masyarakat awam, tetapi kalau untuk bagian keuangan/tata usaha satuan kerja  unit pemerintahan hohoho mereka sudah sangat kenal dengan layanan yang satu ini. Maklumlah kalau katanya teman seperjuangan saya yang penempatan di Wamena, Papua, KPPN itu bukan singkatan dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara, tetapi Kantor Pelayanannya Pelayan Negara karena memang yang kami layani bukan masyarakat umum, melainkan unit keuangan dari unit kerja pemerintah.

SP2D merupakan singkatan dari Surat Perintah Pencairan Dana. Dokumen negara ini menjadi dokumen sah yang menyatakan pelaksanaan pengeluaran belanja pemerintah atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jadi ya, dapat dibilang kalau ndak ada SP2D, ya satuan kerja pemerintah ndak bakalan dapat tuh jatah dana APBN. SP2D inilah yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk mencairkan dana APBN ke seluruh unit-unit pemerintahan agar menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan lancar dan baik. Bisa dibilang memang ada peran strategis dari dokumen yang satu ini dalam keterkaitannya dengan kelancaran program pemerintah.

Layanan SP2D yang dikeluarkan oleh instansi kami ini memang diunggulkan dengan dua hal utama, yakni pada penyelesaian waktu dan biaya dalam pemrosesannya. Sistem dan prosedur yang kami terapkan sekarang ini hanya membutuhkan waktu maksimal 1 jam dalam penyelesaian proses Surat Perintah Membayar (SPM) dari satuan kerja pemerintah menjadi SP2D dan dana APBN dapat tersalurkan. Biaya yang diperlukan untuk itu? Hohoho hanya Rp 0,00 lo. Ndak percaya? Buktikan saja pada KPPN terdekat di kota Anda *halah.

Hmmm sangat beda banget deh dengan pengalaman masa lalu kelam kami yang dulu katanya kalau ada satuan kerja  yang mengajukan permintaan pencairan dana APBN pasti ada “amplop pelicinnya” dan ada tidaknya amplop itu sangat mempengaruhi lama-tidaknya pemrosesan SP2D. Ya yang namanya hal ihwal masalah keuangan memang tingkat resikonya sangat tinggi karena kebanyakan orang menginginkan jalan pintas dan singkat untuk itu dan diupayakan dengan segala cara. Namun, itu adalah lembaran masa lalu yang sudah berlalu dan kini era baru perbendaharaan negara sudah menyongsong di depan mata J.

Jadi yo upaya yang dikerahkan instansi saya sehingga dapat meraih prestasi ini bukanlah hal yang biasa saja. Prestasi ini ya diperoleh dengan perjuangan yang cukup berat untuk melepaskan diri dari masa lalu yang kelam tadi. Walau kami sudah mendapatkan nomor 1 sekarang, tetapi kami tidak bisa berpuas diri pada posisi ini. Nilai yang baru mencapai 7,69 kini harus bisa ditingkatkan lebih baik lagi, bahkan kalau bisa mencapai tingkat kesempurnaannya dengan skor 10,0. Pasti bisa, insya Allah... Go Perbendaharaan!

Menuju Pelaksanaan Anggaran Tahun 2012 dengan DIPA

Nah, pada bulan Desember tiap tahun, para pimpinan instansi pemerintahan pasti sudah sangat familiar dengan satu dokumen yang bernama DIPA (singkatan dari Dokumen Isian Pelaksanaan Anggaran). DIPA ini adalah dokumen lain dari instansi kami yang juga mempunyai peran strategis. Karena apa? Karena dokumen inilah yang menjadi landasan sah untuk pencairan dana APBN. Dokumen ini merincikan apa saja pendapatan dan belanja yang sudah tertuang pada APBN untuk setiap satuan kerja unit pemerintahan selama satu tahun anggaran berlangsung ke depannya.

Sekarang bulan Desember ini sudah berjalan pada akhir tahun anggaran ini. Yo, sudah pastilah bakal ada perhelatan dari instansi kami untuk penyerahan DIPA tahun anggaran selanjutnya kepada para pimpinan satuan kerja pemerintahan. Rencananya nanti pada tanggal 20 Desember 2011 nanti di Istana Negara akan ada penyerahan DIPA dari Presiden langsung kepada para pimpinan Kementerian/Lembaga Negara. Cari aja deh beritanya nanti, insya Allah pasti bakalan ada hehehe instansi yang pengen ngeksis banget kan ya..

Bagaimanakah kemudian untuk satuan kerja yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat? Hohoho ndak semua satuan kerja diundang pada perhelatan acara yang ada di ibukota tersebut karena yang diundang di sana adalah para pucuk pimpinan tertinggi dari Kementerian/Lembaga. Nah, kalau untuk satuan kerja yang lingkupnya kabupaten, nantinya pada tanggal 23 Desember 2011 akan ada penyerahan DIPA Tahun Anggaran 2012 oleh Bupati Pesisir Selatan kepada para pimpinan satker pemerintah tersebut. Total alokasi dana APBN untuk kegiatan pemerintahan di Kabupaten Pesisir Selatan ada Rp 289.411.965.000,00. Heuheuheu angka yang lumayan fantastis pula yaaa.

Dan ketahuilah saudara-saudara sekalian, perhelatan pada level kabupaten inilah yang belakangan ini menjadi urusan saya karena saya ditunjuk jadi panitianya heuheuheu. Oleh atasan saya, belakangan ini saya sering dapat tenggat waktu untuk buat ini itu untuk persiapan acara yang satu ini. Yang bikin ribet adalah saya masih awam dan baru banget pada ranah pekerjaan persiapan acara ini, yakni hal ihwal mengenai perdesainan. Hingga kini saya masih belum menguasai penggunaan aplikasi desain grafis dan oleh keadaan saya akhirnya dituntut untuk itu heuheuheu. Yowislah jadilah saya seniman dadakan. Akan tetapi yo dipikir-pikir lumayan juga hasilnya hehehe dan jadi memicu untuk belajar hal baru juga sih ya...

Ini baru tahap permulaan saja. Nanti ketika sudah memasuki tahun anggaran 2012, ada satu tugas lagi sehubungan dengan fungsi Customer Service yang saya emban, yakni membimbing dan memandu para operator satuan kerja pemerintah untuk dapat paham dan menjalankan aplikasi sehubungan dengan DIPA ini yang dikenal dengan aplikasi RKAKL-DIPA 2012. Semoga saja saya ndak menyesatkan para operator aplikasi itu heuheuheu, jadi saya harus paham benar dulu dengan aplikasi ini.

Dokumen DIPA pada tahun anggaran 2012 kali ini berwarna cokelat tua. Hmm ndak tahu juga ya apa filosofinya. Nah, kecoklatan dokumen ini rupanya sinergi juga dengan penggunaan warna yang mendominasi pada background aplikasi RKAKL-DIPA 2012. Background aplikasi ini berwarna hitam dan dihiasi ornamen wayang dan hiasan batik berwarna cokelat yang weuw sungguh cantik nian. Suka banget deh kalau liat background aplikasi ini dan juga jadi mengingatkan akan tanah Jawa yang saya tinggalkan heuheuheu. Kesinergisan tema dan warna ini pula yang saya angkat pada desain persiapan acara penyerahan DIPA, hihihi biar cocok dan sesuai gitu hehehe.

Aaaah begitulah hal ihwal per-DIPA-an, mohon doanya aja agar perhelatan akhir tahun yang satu ini lancar yo. Kalau DIPA sudah diserah-terimakan, ya pencairan dana APBN baru deh dapat dilaksanakan selama satu tahun anggaran ke depan.

Klimaks Penyerapan Akhir Tahun Anggaran 2011

Besok Senin tanggal 19 Desember 2011 ini akan menjadi momok tersendiri untuk seluruh pejuang perbendaharaan seantero Indonesia. Karena apa? Pada tanggal inilah tenggat waktu terakhir untuk satuan kerja pemerintahan dapat mengajukan permintaan pencairan dana yang bersifat langsung (istilah khususnya lebih dikenal dengan Surat Perintah Membayar Langsung atau SPM-LS), pencairan dana untuk belanja gaji pegawai bulan Januari tahun 2012 nantinya, dan hari terakhir diperbolehkannya revisi Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) untuk menanggulangi masalah pagu anggaran yang sudah minus (melebihi realisasinya).

Hufh yayaya memang pada akhir tahun anggaran sudah dapat diperkirakan setiap tahunnya bakal masih seperti ini. Seperti yang sudah pernah saya ungkapkan pada QN End-Of-Budget Year And My Job Is Some Kind Of Arts, para satuan kerja pemerintahan masih punya penyakit lama untuk gila-gilaan dalam menyerap realisasi anggaran dengan meminta pencairan dana sampai semaksimal mungkin.

Besok akan menjadi benar-benar klimaks penyerapan akhir tahun anggaran. Dilihat dari monitoring data yang ada saja, untuk SPM Gaji saja di tempat kami baru masuk 9 permintaan, padahal kalau ditotal semuanya itu harusnya ada 46 permintaan pencairan dana. Nah, belanja kontrak dan honor juga merupakan jenis belanja yang diperkirakan akan mendominasi pula karena masih banyak pula satuan kerja yang belum menyelesaikan belanja jenis ini.

La lalu peran saya di manakah? Heuheuheu ada imbas langsungnya banget dah apalagi sebagai Customer Service. Kebanyakan satker saking berusaha ngebutnya mereka jadi banyak permasalahan yang muncul dan saya ditugaskan untuk menjelaskan persoalan tersebut heuheuheu. Mereka pun juga jadi sering mengerubungi meja saya belakangan ini karena terdapat beberapa teknis yang belum mereka pahami sehubungan dengan penutupan tenggat waktu untuk pencairan dana ini. Aaaaah jadi keder banget dah memperkirakan apa yang terjadi pada keesokan hari. Ini aja akhir pekan saya dihabiskan di kantor doang jadinya gara-gara masih banyak persoalan tentang SP2D bermasalah dan juga tentang persiapan penyerahan DIPA yang saya ceritakan sebelumnya. Semoga saja semuanya berlalu dengan baik dan lancar heuheuheu. Doakan kami ya, saudara saudara sekalian J...

Aaaaah perbendaharaan negara, sungguh terlalu banyak hal yang sebenarnya saya pengen bahas tentang dirimu. Akan tetapi yo, ini keknya sudah kelewat batasnya deh, terlewat puaaaaaaaaaaanjangnya khas ala postingan saya. Jadi yo, cukup sekian saja deh sekilas perbendaharaan negara kali ini. Dilanjutin pada kesempatan selanjutnya aja ya. Semoga akan ada cerita menarik lagi (dan panjang tentunya hahaha) yang bisa dibahas dari hal ihwal perbendaharaan negara ini untuk dapat saya bagi kepada saudara-saudara sekalian hehehe...

Oya, nebeng pesen aja buat seluruh pejuang perbendaharaan di mana pun Anda berada... Semangat Akhir Tahun Semuanya Untuk Akhir Tahun yang Bahagia hehehe

Painan, 18 Desember 2011, 22.53

Selasa, 15 November 2011

parodi dunia kerja masih berlanjut

Alur waktu telah membawaku hingga ke masa sekarang ini dan tempat yang seperti ini. Sungguh ini adalah suatu perjalanan yang begitu dinamis. Perjalanan itu tidak hanya menjadikanku sebagai penonton, figuran, atau pun penghias panorama belaka, namun diri ternyata telah terlibat sebegitu dalam. Hal tentang aku, dia, mereka, bisa jadi pula kamu, dalam suatu panggung bernama dunia kerja itu masih berlanjut. Parodi dunia kerja ini telah menempuh adegan-adegan selanjutnya.

Bisik Berbisik yang Tak Baik

Aku punya mulut, mata, dan telinga, sebagaimana pula dengan yang lain. Dengan mulut ini, maka aku dapat mengutarakan secara lisan apa pendapatku dan apa yang perlu kusampaikan. Dengan telinga ini, maka aku mendapatkan setiap informasi yang terdengar dan menangkap setiap bentuk suara yang melintas. Dengan mata, maka aku melihat setiap gerak-gerik tingkah aksi para pelaku parodi di sekitarku.

Ah, sungguh luar biasa kemampuan dari tiga indera ini. Di luar kendaliku pun, mereka dapat menembus batas untuk menampung segala peristiwa serta berita dan mengabarkannya. Apalagi dengan mereka, para lakon-lakon jago itu.

Setiap suara dan tingkah akan diperhatikan dengan seksama, entah kabar peristiwa atau berita macam apa pun itu. Suara dan tingkah itu akan diterjemahkan dengan sekehendak kepentingan pribadi dan kemudian keluarlah perkataan melalui mulut-mulut mereka. Hanya saja sayangnya, perkataan itu tak muncul dalam bentuk kelantangan suara, namun ia terbentuk dalam kemasan bisikan-bisikan.

Bisikan itu pun menyebar bagai penaburan benih ke segala penjuru. Namun, manakala apa yang mereka ceritakan itu ada di hadapan mereka, bisikan itu seakan-akan menghilang dengan sendirinya. Kelantangan suara seakan hal yang tabu dan bisik berbisik itu masih ada, entah semua lakon sadar akan hal itu atau tidak.

Ah, memang sepertinya benar apa yang diwasiatkan oleh para lakon yang sudah minggat beralih panggung pentas lainnya, “hati-hatilah dirimu dengan setiap bisikan yang ada”. Karena dalam bisik berbisik itu jarang hal baik yang diutarakan, yang ada adalah hal tak baik. Semula aku tak percaya, namun kian lama bisik berbisik itu menjadi fenomena yang semakin sering kuhadapi.

Wasiat itu juga mengingatkanku agar tak mudah percaya dan berbagi cerita pada siapa pun lakon dalam parodi ini. “Mungkin memang dirimu butuh tempat untuk bercerita dan berbagi, namun ingat dalam pentas parodi ini setiap mata dan telinga yang ada dapat menyampaikan penuturan cerita yang berbeda dari semula”, begitulah nasihatnya. Kepentingan dan perasaan pribadi begitu dominan mewarnai pementasan parodi ini dan bisikan-bisikanlah yang menjadi wujud nyata tendensi hal yang demikian.

Kini, hampir sering terjadi bisikan itu melintas lewat dalam telingaku dan kutahan mulutku agar tak menuturkan sembarang kata, pun hingga mewujud dalam bisikan, apalagi yang tak baik. Namun, kendali diri ini begitu payah, kelihaian indera ini sungguh mengagumkan. Mereka menampung apa pun yang mereka mau dan kemudian menghasilkan keluaran apa yang mereka kehendaki. Ah, indera-inderaku ini, aku perlu penyaring yang tepat untuk kalian agar tak sembarangan seperti itu dan pula agar bisikan-bisikan yang ada bisa kuanggap sebagai angin yang telah lalu.

Kekecewaan Itu Tersirat

Bisikan tak baik itu tidak muncul dengan sebegitunya saja, ia muncul tentunya dengan apa yang menyebabkan ia dapat muncul seperti itu. Kesimpulan yang kemudian kudapati adalah kekecewaanlah yang menjadi penyebab akan bisikan-bisikan ini. Kekecawaanlah yang menjadi bumbu pericuh suasana, manakala antar sudut pandang pribadi begitu bertolak belakang.

Kekecewaan itu tersirat, entah itu melalui bentuk perkataan atau tindakan. Yang jelas, aku dapat merasakannya. Harapan-harapan yang semula ada di benak para lakon, namun kemudian pupus dan menjadikan mereka terpuruk. Mereka, yang menjadi lakon tanpa harapan lagi, kemudian melampiaskan kekecewaan itu dalam bisikan-bisikan tak baik. Mereka seakan berniat untuk menjadikan lakon lainnya sama seperti mereka, percaya akan setiap cerita negatif yang mereka utarakan dan kemudian larut bersama-sama dalam kekecewaan itu.

Padahal sebenarnya ini hanyalah permasalahan sudut pandang. Manakala apa yang terjadi pada diri adalah suatu hal yang memang jauh dari harapan, namun tak selamanya apa yang meleset itu adalah hal yang tidak baik. Karena pada setiap babak itu pastilah ada hikmah yang dapat dipetik untuk tiap pemeran dalam parodi itu. Namun sayangnya, ada (walau tak semuanya) lakon yang menutup mata akan hal ini dan kemudian memilih tenggelam dalam lautan kekecewaan yang tak berujung.

Aku pun terkadang berusaha menempatkan diri seakan-akan ada pada posisi mereka. Ya, memang dapat dimaklumi, dengan kondisi yang ada, rentan sekali kekecewaan itu muncul. Seketika sudah terjerembab dalam kubangan kekecewaan itu, maka kemudian lakon itu terjebak dalam kekangan kekecewaan mereka dan begitu sentimentil  akan keadaan, sehingga yang terjadi adalah kekecewaan itu semakin bertambah saja.

Ah, memang inilah yang terjadi dalam pentas parodi ini. Skenario yang ada dan harus dijalani terkadang bukanlah hal yang dikehendaki. Aku pun pernah merasakan hal ini dan begitu berat untuk menjalani setiap detail skenario yang tak cocok itu sebenarnya. Namun, apakah kekecewaan menjadi hal yang tepat sebagai pelarian? Biarlah yang terjadi itu berlalu saja, karena masih banyak yang akan kutemui. Biarlah kucoba menetralkan diri dari kekecewaan akan harapan yang ada di angan dan kemudian berusaha menumbuhkan harapan baru yang lebih realistis dari semula...

Tua Tak Seharusnya Menjadi Alasan

“Kami sudah tua, kami sudah tak bisa lagi melakukan pekerjaan dengan optimal, lebih baik yang muda saja mengerjakannya.”

Terlalu sering perkataan semacam ini didengungkan berulang kali oleh para lakon yang memang sudah tua itu. Perkataan ini seakan adalah permohonan pemakluman atas kondisi yang terjadi pada mereka. Kecanggihan jaman dan sistem tidak berjalan beriringan dengan penguasaan kompetensi dari para lakon itu. Mereka tertinggal dengan perkembangan yang begitu massif itu dan begitu tertatih dalam mengejar ketertinggalan itu.

Ya, memang pemakluman itu dapat dipahami. Seiring dengan menuanya tubuh, maka kemudian berkuranglah pula daya pikir dan serap akan perkembangan kecanggihan jaman. Akan tetapi, terdapat perbedaan jelas antara para generasi tua yang pasrah akan keadaan dengan yang berusaha benar-benar mengejar ketertinggalan itu.

Justru aku akan memberikan respektasi dan tanda salut yang begitu tinggi bagi para generasi tua yang masih berusaha dalam mengatasi ketidakmampuan mereka. Mereka inilah orang-orang yang tidak menjadi beban persoalan dan tidak merepotkan orang lain. Namun, orang-orang semacam ini begitu langka. Yang begitu dominan adalah mereka yang pasrah akan keadaan, sekadar menjalankan tugas yang mampu mereka jalani seadanya, tak bisa lebih dari itu.

Ah, padahal kecanggihan jaman dan teknologi seperti sekarang ini sebenarnya bukanlah suatu momok yang memberatkan. Kecanggihan ini malah menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih mudah bukan untuk menyelesaikan pekerjaan kita? Untuk dapat mengikuti perkembangan kecanggihan ini caranya sebenarnya hanya satu, yakni mau belajar akan hal tersebut, bukan kemudiaan acuh tak acuh dengan kemajuan jaman ini.

Tua tak seharusnya menjadi alasan. Yang patut menjadi alasan adalah mau tidaknya para lakon-lakon itu, termasuk juga aku, untuk belajar mengiringi perkembangan dan perubahan yang ada. Memang faktor usia sangat mempengaruhi daya pikir dan serap dalam proses belajar itu, tetapi dengan semangat dan kegigihan, tidak ada sesuatu yang mustahil, bukan?

Menjadi Muda dan Diberdayakan

Syahdan, lihatlah kemudian para lakon-lakon muda atau yang masih baru pula seperti aku ini. Satu bagian dalam skenario parodi ini begitu panjang, rumit, dan menumpuk untuk mereka. Seakan-akan menjadi lakon utama, namun nyatanya sebenarnya hanyalah tokoh sekunder belaka.

Banyak bagian dalam skenario itu yang dijalankan sebenarnya bukanlah ranah yang tepat pula untuk dimainkan oleh mereka. Skenario itu merupakan skenario yang seharusnya dijalankan oleh para lakon generasi tua. Akan tetapi, keacuhan mereka tak mau mengambil peran untuk itu menjadikan skenario ini beralih kepada para lakon muda yang sebenarnya sudah memiliki skenario yang panjang untuk dirinya sendiri.

Begitulah kemudian tampil saat pementasan, para lakon mudalah yang begitu berdaya, walau itu bukan atas kehendak mereka, tetapi lebih tepatnya mereka sedang ‘diberdayakan’, bahkan kalau bisa diperas habis kemampuan mereka semaksimal mungkin dalam menjalani pengalihan skenario yang bukan jatah mereka itu.

Ah, mungkin ini titik bagi ujian keikhlasanku dalam memerankan lakon yang diberdayakan ini. Toh pula, kalau kugunakan sudut pandang lain, malah ini menjadi hal yang baik. Pengalihan skenario ini menjadikan wawasan diri bertambah dan penguasaan kompetensi tak terkungkung pada satu ranah jenis peran saja.

Namun, kalau pemberdayaan itu sudah pada tahap pemerasan kemampuan, bagaimana bisa tahan lagi? Lihat saja pengalaman yang telah lalu dengan para lakon yang sudah minggat dari pentas ini. Ada momen-momen di mana mereka begitu payah akan keadaan, hingga pun kemudian tak dapat membendung emosi lagi karena tak sanggup menanggung beban peran yang dijalankan.

Huh, jalani saja sebaik mungkin, sepertinya itu solusinya. Para lakon yang telah berlalu itu jua sepertinya memilih solusi ini. Emosi yang sudah terluap biarlah berlalu, biarkan semuanya berjalan normal kembali seusainya, semoga saja lakon-lakon yang lain dapat mengerti kemudian dan tak lagi acuh mengabaikan peran mereka masing-masing.

Apakah Aku Nanti Akan Menjadi Seperti Mereka?

Generasi tua dan muda, seperti inilah dikotomi yang terjadi dalam pentas ini. Dua kubu yang saling bertolak balik, entah itu dilihat dari sudut pandangnya, cara bersikapnya, berinteraksinya, dan banyak pembeda lainnya. Perbedaan itu menjadi karakter yang melekat pada tiap generasi dan terkadang inilah yang menyebabkan ketidaksepahaman sering terjadi.

Ah, padahal tentang tua dan muda itu bukankah hanya sekadar hal mengenai usia saja sebenarnya kan? Generasi tua diberikan kesempatan telah mencicipi menjalani peran mereka dalam parodi ini terlebih dahulu daripada generasi muda. Kesempatan ini memberikan lebih banyak pengalaman dan kisah bagi para generasi tua. Hm bisa jadi memang ini yang menjadikan dua generasi ini begitu berbeda, ini bukan sekadar perbedaan usia saja.

Lalu, bagaimanakah bila nantinya generasi yang muda itu beralih menjadi generasi tua? Bukankah memang sudah menjadi ketentuan setiap lakon itu akan menjadi lebih senior dan masuk pada generasi tua seiring bertambahnya masa pementasan parodi ini? Akankah kemudaan generasi ini kemudian menjadi beralih menjadi ketidakberdayaan dan keacuhan yang begitu sering terlihat dari generasi tua?

Memang tak selamanya diri akan menjalankan lakon muda ini terus. Akan ada waktunya lakon-lakon yang lebih baru muncul dan masuk dalam pentas ini. Namun, apakah aku kemudian memilih menjadi generasi tua yang merepotkan sebagaimana dulu pernah diri direpotkan? Ini adalah pilihan dan saat ini tentunya aku lebih memilih menjadi generasi tua yang tak pasrah akan keadaan. Menjadi generasi tua yang membimbing generasi lebih muda dengan pengalaman dan kisah lalu yang penuh hikmah, ini yang kuinginkan nantinya saat masa-masa tua itu menjadi suatu hal yang tak bisa dihindari lagi.

Percaya Masih Ada Kebaikan di Sana

Bergabung dan memilih untuk menjadi salah satu pemeran dalam pementasan parodi ini memang suatu keputusan yang sudah tak bisa diganggu gugat kembali. Aku telah memilih dan harus menjalani segala konsekuensi yang menyertai. Jalani dengan sebaik mungkin inilah yang menjadi hal pelak yang harus dilakukan sekarang dan selanjutnya.

Ada banyak momen di mana skenario dalam menjalankan peran itu terasa begitu berat. Apalagi dengan fenomena yang menjadikan pementasan ini begitu terasa sebagai parodi yang aneh dan tak cocok. Dapat diibaratkan jika pekerjaan itu sebagai dedaunan yang menumpuk, ingin rasanya untuk melumatnya habis dan membakarnya hingga hanya bersisa abu belaka. Ah, itu suatu indikasi bilamana emosi terlampau sudah meninggi sepertinya.

Sudahlah jalani saja sisa masa pementasan yang sepertinya bakal masih lama untuk selanjutnya. Tahanlah emosi itu karena tak ada yang baik bilamana emosi menjadi tak terkendali. Jadikan saja ini pembelajaran bagimu untuk dapat mengendalikan emosi. Jadikan saja setiap hal tak baik yang kau lihat itu menjadi pengingat bagi dirimu agar tidak menjadi seperti itu. Jadikan saja setiap peran yang kau emban, sebegitu sulitnya dan membebaninya, adalah suatu proses yang akan menjadikanmu lebih berkompeten dan ahli dalam peran yang kau jalani. Semangat adalah kuncinya dan cinta adalah penggeraknya, dengan keduanya maka peran itu bukanlah sekadar menjadi peran yang biasa...

Painan, 15 November 2011, 22.30

*(diselesaikan tepat pada hari pementasan ke-100 dari berlangsungnya Parodi Dunia Kerja di suatu kota kecil ini)*

Sabtu, 29 Oktober 2011

mencintai perbendaharaan sepenuh hati

Yang saya maksudkan dengan “perbendaharaan” pada tulisan ini adalah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB), Kementerian Keuangan RI. Tulisan ini didedikasikan untuk mengenang satu tahun bergabungnya saya dengan instansi ini dan sekaligus dalam rangka memperingati Hari Uang RI ke-65.

Apa yang tersirat dalam benak pembaca sekalian kalau mengaitkan sesuatu dengan pemerintah negara kita? Sesuatu yang negatifkah? Ya memang tak bisa dipungkiri bahwa pada eranya sekarang ini dengan jelasnya kita melihat banyak kejanggalan dengan berjalannya proses pemerintahan kita, khususnya apabila dipandang dari sudut pandang perpolitikan.

Dengan profesi yang saya jalani sekarang, yakni sebagai Pegawai Negeri Sipil (sebenarnya sih masih calon, belum diangkat jadi PNS hehehe), jelaslah keberadaan dan sudut pandang saya kini ada pada sisi pro-pemerintah seharusnya. Saya sudah menjadi salah satu bagian dari aparatur penyelenggara pemerintahan dengan profesi ini, keterikatan ini sudah menjadi kewajiban saya untuk dijalankan sebaik mungkin karena ada amanah rakyat yang teremban pada profesi ini.

Tentu dengan kesadaran saya akan citra, resiko, dan baik-buruknya profesi ini, saya telah memilihnya sebagai profesi saya. Sejauh pengalaman saya bergabung dan menjalani profesi hingga sekarang, memang sudah saya temui, walau masih belum banyak, fenomena riil dari apa yang sering dikatakan oleh masyarakat atau media massa, baik itu dari segi positif atau negatifnya.

Lalu, bagaimanakah kecenderungan saya setelah menjalani profesi ini untuk paruh waktu hingga sekarang? Sudahkah saya mampu menghayatinya dengan baik dan dapat menjalankannya pada koridor yang tepat? Sudahkah saya memiliki kecintaan pada instansi pemerintahan tempat saya bergabung?

Rasa cinta memang merupakan suatu kekuatan yang menjadikan seseorang dapat mencapai kemampuan optimalnya meraih suatu tujuan. Dalam kaitannya dengan profesi dan instansi tempat saya bergabung, saya membutuhkan adanya rasa cinta itu agar saya dapat mengoptimalkan peran serta saya sesuai yang diharapkan.

Mencintai perbendaharaan sepenuh hati, inilah yang terlintas dalam pikiran saya dengan mengulas ulang perjalanan saya bergabung dengan instansi ini. Kecintaan inilah yang harus saya tumbuhkan dan senantiasa untuk ditingkatkan lagi ke depannya. Cinta ini bukan cinta yang buta, sehingga mengabaikan kekurangan-kekurangan yang ada pada sosok yang dicintai, tetapi cinta yang ini adalah cinta yang membangun, turut serta memperbaiki kekurangan-kekurangan yang hingga sekarang masih ada menuju kondisi yang lebih baik dan ideal lagi.

Kalau ditanya, memangnya apa sih yang membuat saya cinta dengan instansi saya sekarang ini. Agak susah sebenarnya bagi saya pribadi untuk menjawab pertanyaan ini karena cinta pada dasarnya adalah suatu hal yang begitu subyektif dan abstrak, sehingga penjelasan yang diperlukan membutuhkan kata-kata dan pendiskripsian yang tepat untuk itu. Hm tetapi kiranya berdasar apa yang telah saya amati, berikut inilah yang menjadikan cinta saya ini tumbuh dan semoga dapat saya cintai sepenuh hati...

Menjadi Pengelola Perbendaharaan Negara yang Profesional, Modern, dan Akuntabel

Visi Ditjen Perbendaharaan inilah yang pada mulanya menjadikan saya begitu kagum dengan instansi saya ini. Memang pencantuman visi dengan kata-kata yang demikian rasanya seperti ‘obralan janji khas pemerintah’ yang sering dianggap oleh masyarakat atau media massa sebagai hal yang belum bisa dibuktikan.

Namun rangkaian kata ini bukanlah sekadar pernyataan normatif saja rupanya. Visi yang sudah ditetapkan ini terbentuk melalui proses penjabaran ilmiah dan mempunyai strategi secara rinci, sehingga menjadikannya tidaklah sekadar pernyataan normatif belaka.

Seluruh unit pada Kementerian Keuangan RI, termasuk DJPB di dalamnya, sekarang ini sudah menerapkan mekanisme pengelolaan kinerja dengan sistem Balance Scorecard. Sistem ini merupakan best practice yang sudah diterapkan pada organisasi pemerintahan ataupun swasta sehubungan dengan aspek pengelolaan kinerja. Pada sistem ini, semua item tugas pokok dan fungsi mempunyai skema strategi penilaian berjenjang dan merupakan penjabaran turunan dari visi yang sudah ditetapkan oleh organisasi. Pada setiap jenjang penilaian inilah terdapat Indikator Kinerja Utama (IKU) yang menjadi tolak ukur pencapaian kinerja secara konkret sudah sesuai dengan tujuan atau tidak. Dengan demikian, apakah suatu organisasi sudah menjalankan visinya atau tidak, dapat diukur secara objektif melalui mekanisme ini. Lebih lanjutnya mengenai balance scorecard dapat dipelajari melalui unduhan file pada tautan ini.

Spirit untuk menjalankan visi ini tampak kentara begitu gencar ditanamkan pada seluruh pegawai DJPB. Seluruh proses pelaksanaan dari tugas pokok dan fungsi dari setiap lini dapat dipastikan terdapat ketersinggungannya dengan upaya pencapaian visi ini. Riilnya yang saya amati dari apa yang saya jalankan dari profesi dalam instansi ini, visi tersebut diterapkan dalam keprofesionalan menjalankan seluruh proses bisnis organisasi sesuai dengan Standard Operating Procedures (SOP) dan peraturan teknis perbendaharaan yang berlaku, modernitas sistem dengan digitalitasi proses bisnis melalui berbagai aplikasi perbendaharaan, dan akuntabilitas penyelenggaraan kinerja organisasi dengan kesediaan menandatangani kontrak kinerja yang mengikat seluruh jajaran dari pejabat hingga pelaksana.

Memang pencapaian akan visi ini masih belum 100% dijalankan dengan sempurna secara idealnya. Pencapaian kinerja DJPB pada tahun 2010 lalu dapat dilihat pada Annual Report DJPB 2010 (dapat diunduh pada tautan ini). Hal ini dikarenakan masih adanya kendala-kendala yang dihadapi organisasi dan masih belum ditemukan solusi terbaik untuk itu. Walaupun begitu, tekad untuk menuju kesempurnaan itu masih ada dan seluruh jajaran terkait dikerahkan pada hal tersebut.

Menuju Transformasi Kelembagaan (Reformasi Birokrasi Jilid II)

Perjalanan munculnya DJPB sebagai salah satu unit pemerintahan (khususnya dalam bidang keuangan negara) menempuh begitu panjangnya lika-liku sejarah dan proses penyempurnaan seiring dengan sejarah bagaimana negara kita berdiri.

Hal ihwal keuangan negara memang termasuk dalam hal yang begitu penuh resiko dan rentan dengan segala bentuk penyimpangan. Hal inilah yang menjadi bagian kelam yang pernah dialami oleh DJPB. Tak dapat dipungkiri pada masa lalu, praktek-praktek tidak sehat ada dan merajalela. Korupsi , suap, penyalahgunaan wewenang, dan berbagai macam bentuk penyimpangan dahulu menjadi hal yang dianggap wajar agar suatu fungsi pemerintahan dapat berjalan. Namun, apa yang terjadi bukanlah fungsi pemerintahan bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan, yang kemudian terjadi adalah kebobrokan yang ternyata sudah sedemikian akutnya dan memberikan berbagai bentuk dampak negatif.

Dengan dirasakannya kebobrokan dan dampak negatif itu, maka pembenahan organisasi merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan. Semangat pembenahan ini kemudian dicetuskan dalam program yang disebut dengan Reformasi Birokrasi. Reformasi birokrasi inilah yang menjadikan DJPB lahir kembali dengan wajah dan spirit yang baru.

Tahun 2004 menjadi era Reformasi Birokrasi tersebut berjalan dan berimbas secara nyata pada DJPB. Semula hal ihwal perbendaharaan negara termasuk ke dalam salah satu bagian dari Direktorat Jenderal Anggaran. Namun, dengan adanya pembenahan organisasi dengan penajaman fungsi pada seluruh unit Kementerian Keuangan sesuai dengan amanat Reformasi Birokrasi, maka tugas perbendaharaan negara dipisahkan sendiri dan muncullah Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagai unit eselon I di Kementerian Keuangan.

Reformasi Birokrasi tidak hanya seputar pembentukan unit baru dengan fungsi DJPB yang lebih spesifik, namun perangkat sistem juga diubah dengan menganut pada paket Undang-undang Keuangan Negara baru yang memang dijiwai oleh semangat pembaruan dan melepaskan diri dari cengkraman praktek KKN yang tidak sehat. Perlu diketahui, pada era sebelumnya, keuangan negara menganut pada peraturan perundang-undangan yang belum disesuaikan dengan perkembangan keilmuan terkini, masih menggunakan peraturan yang berlaku dari sejak masa kolonial Belanda.

Kini Reformasi Birokrasi telah berjalan selama kurang lebih 6 tahun dan perjalanan penyempurnaan tahap yang sudah dijalankan ini sudah memasuki pada tahapan selanjutnya, yakni Reformasi Birokrasi Jilid II dengan Transformasi Kelembagaan. DJPB sebagai unit bentukan dari Reformasi Birokrasi ini mendapatkan amanat untuk dapat mentransformasikan dirinya lebih sempurna dan baik lagi. Tahapan awal untuk berlepas dari segala bentuk ‘dosa masa lalu’ kini sudah hampir selesai dan saatnya untuk berbenah dengan menganut best practise yang sudah diterapkan oleh organisasi lain dan juga kajian ilmiah secara mendalam agar visi organisasi dapat benar-benar tercapai. Inllah yang menjadi inti dari Transformasi Kelembagaan.

Menuju Sistem yang Terintegrasi (Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara)

Terintegrasinya seluruh sistem yang dijalankan dalam rangka tugas pokok dan fungsi merupakan idaman yang sangat diharapkan dapat diimplementasikan di DJPB. Hal ini juga adalah salah satu bentuk perwujudan aspek modernitas yang menjadi bagian dari pernyataan visi DJPB. Pengintegrasian sistem inilah yang sedang diusahakan untuk dicapai dengan pencanangan sistem baru bernama Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN).

SPAN sudah menjadi salah satu amanat paket Undang-undang Keuangan Negara yang harus dijalankan DJPB dan juga beberapa unit lainnya di Kementerian Keuangan. Untuk membentuk sistem ini memang diperlukan perencanaan dan persiapan yang matang dan dalam waktu yang panjang. Sistem ini diharapkan baru dapat berjalan pada tahun anggaran 2013 dan proses perumusannya sudah diinisiasikan semenjak tahun 2004 yang lalu.

Dengan semakin dekatnya implementasi sistem baru ini, pada seluruh unit DJPB sudah terasa gaung persiapan menyambut sistem ini. Pada tiap unit dibentuk Duta SPAN yang memberikan wawasan kepada seluruh pegawai akan gambaran sistem ini sehingga semuanya siap menjalankannya. Sosialisasi-sosialisasi pun kerap dilaksanakan dan pembahasan kajian ilmiah untuk itu sudah disediakan.

Pengimplementasian SPAN akan membawa era baru perbendaharaan dengan integrasi database yang sekarang ini masih terpencar-pencar berbeda tiap unitnya, digitalisasi proses sehingga birokrasi menjadi less paper, dan penyempurnaan proses bisnis agar lebih efektif serta efisien. Bagi saya pribadi, hal ini merupakan konsep yang benar-benar luar biasa dan mencerminkan begitu kuatnya semangat perubahan pada DJPB.

Nilai-nilai Kementerian Keuangan dan Hari Uang Republik Indonesia

Pada setiap organisasi pasti terdapat nilai-nilai yang dijunjung tinggi sebagai spirit utama dan pedoman yang menjiwai seluruh pelaksanaan kinerja organisasi. DJPB juga mempunyai nilai-nilai organisasi sendiri yang kemudian dileburkan menjadi satu dengan unit-unit Kementerian Keuangan lainnya menjadi nilai-nilai Kementerian Keuangan berikut ini :

[INTEGRITAS]  Berpikir, berkata, berperilaku dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral [PROFESIONALISME] Bekerja tuntas dan akurat atas dasar kompetensi terbaik dengan penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi [SINERGI] Membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas [PELAYANAN] Memberikan layanan yang memenuhi kepuasan pemangku kepentingan yang dilakukan dengan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat dan aman [KESEMPURNAAN] Senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik.

Nilai-nilai Kementerian Keuangan memang masih berupa hal yang baru dicetuskan berdasar kesepakatan bersama, walaupun nilai-nilai tersebut sebenarnya sudah ada dan diusahakan diterapkan seiring dengan semangat reformasi birokrasi dari sejak awal. Karena masih terhitung baru, maka belakangan ini saya rasakan nilai-nilai ini kerap disosialisasikan dan diinternalisasikan pada seluruh pegawai, tak terkecuali pada DJPB.

Memang terkesan mulanya nilai-nilai ini hanyalah kata-kata yang begitu tinggi keabstrakannya. Namun, bila ditilik lebih jauh lagi, pengaruh akan nilai ini bila semua pihak pada Kementerian Keuangan dapat menjiwainya dengan baik, maka akan sangat mempunyai pengaruh positif dalam mendukung pencapaian visi organisasi.

Nilai-nilai Kementerian Keuangan inilah yang tampak menjadi spirit utama pada peringatan Hari Uang Republik Indonesia ke-65 ini yang jatuh pada tanggal 30 Oktober 2011. Sejarah telah mencatat pada tanggal 30 Oktober 1946 silam lahirlah Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah dan beredar di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tanggal inilah yang kemudian dijadikan sebagai momen peringatan akan semangat pembaruan keuangan negara agar terus menyala pada organisasi Kementerian Keuangan. Hal lebih lanjut mengenai Hari Uang RI dapat dibaca pada tautan berikut.

Dirgahayu Uang Republik Indonesia. Dirgahayu Kementerian Keuangan. Kementerian Keuangan semoga terus berjaya.

Menjadi Bagian dari Perubahan, Yes I Will

Dua puluh Oktober 2010 menjadi tanggal yang begitu berkenang untuk saya pribadi. Pada tanggal inilah saya ditempatkan pada unit eselon I Kementerian Keuangan yang bernama Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Cerita lengkap mengenai bagaimana peristiwa ini berlangsung setahun yang lalu dapat dibaca pada postingan saya yang berjudul Babak Baru Itu pun Dimulai.

Setahun itu dijalani dalam proses yang terasa begitu singkat. Walaupun terasa sesingkat itu, ternyata setelah saya kilas ulang kembali telah terjadi begitu banyak peristiwa antara saya dengan instansi DJPB ini. Saya kini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari instansi ini dan lebih khususnya ditempatkan pada salah satu unitnya yakni Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Painan.

Rasa cinta saya dengan instansi ini mengalami dinamika dalam proses saya menjalani kebergabungan saya di DJPB. Berbagai macam hal telah dialami, baik itu hal yang cocok atau pun tidak menurut saya pribadi. Namun, mengingat keterikatan saya padanya dan juga pencapaian visi organisasi ini, rasa cinta harus tetap ada dan senantiasa tumbuh seiring dengan waktu.

Ini baru setahun yang sudah berlalu dengan instansi ini. Ke depannya masih terbentang pelbagai kemungkinan perkembangan saya dan organisasi ini. Yang saya prediksikan dengan apa yang terjadi pada masa depan organisasi ini adalah adanya perubahan. Ini sudah menjadi tuntutan zaman dan mutlak suatu keharusan bagi organisasi yang terbaik.

Setahun sudah saya menjadi bagian dari DJPB dan DJPB membutuhkan personel-personel yang siap mengawalnya menuju perubahan. Proses perubahan itu kini tengah berlangsung dan dengan kecintaan yang sedah saya genapkan sepenuh hati, maka mau tak mau saya harus menyatakan kesiapan saya untuk menjadi bagian perubahan. For DJPB, Yes I Will Be a Part of Change.

Painan, 30 Oktober 2011, 00.30

Rabu, 12 Oktober 2011

ke Jakarta lagi....

Start:     Oct 15, '11
End:     Oct 21, '11
Location:     Jakarta dan Ciloto, Puncak, Jawa Barat
yap, sungguh sesuatu banget hari Rabu (12/10) ini karena atasan saya tadi memanggil saya dan kemudian mengutus saya untuk mengikuti

Bimbingan Teknis Aplikasi KPPN 2011 terkait Mekanisme Koreksi Data TA 2011
hari, tanggal : 17-21 Oktober 2011
tempat : Ciloto, Puncak, Jawa Barat (registrasi di Kantor Pusat DJPB, Jakarta)

Hohoho harusnya nih acara buat supervisor kantor saya, tetapi karena orang yang bersangkutan sedang ada dinas luar juga, jadilah saya yang jadi supervisor sementara ni yang mengikuti acara tersebut.

Bahagiakah? Yaaah lebih tepatnya campur-campur. Soalnya yang pertama saya masih awam banget dengan hal ihwal supervisor ini (baru gantiin aja beberapa hari yang lalu). Senengnya ya jelas bisa ke Jakarta lagi, maen lagi hahaha. *inget aja nih dalam rangka urusan kantor juga, nas ~_~a* Huhuhu tempat bimteknya Puncak pula, kok berasa kek liburan aja hehehe...

Yah sudahlah jalani sebaik mungkin, Ni kan juga amanah gitu lo. Hmm sehubungan dengan maen-maen di Jakarta pula, sungguh suatu kebetulan yang tak dinyana karena ngepas kemaren ada undangan

Gathering ++ Panitia National Accounting Challenge STAN
hari, tanggal : 16 Oktober 2011
tempat : Radix Pizza, Cempaka Timur

Huaaaa.... Semula pesimis ndak bakalan bisa ikut acara ini, tetapi yah ada hal yang unpredictable rupanya saya bisa mengikutinya insya Allah nanti..

Huhuhu jadi berkesimpulan, 'ah kantor saya kok baik banget sih, ngasih kesempatan pegawai daerahnya sering-sering ke Jakarta gini hihihi'

Tunggu saya di Jakarta ya, kawan hehehe...