Senin, 13 Agustus 2012

hari-hari di januari

Aku lupa untuk menuliskan tentang kisahku akan hari-hari bersama Januari. Padahal sudah berlalu bulan-bulan yang lewat setelahnya. Ia adalah penghujung awal dari kisah bicara bulan yang seharusnya tertulis lengkap dari awal hingga akhir nantinya. Maka, pada memori yang masih teringat jua akan hari-hari di Januari inilah, kutuliskan tiap penggalan kisah yang terjadi bersamanya.

Januari, maafkan aku. Bukan maksudku untuk mengabaikanmu. Bukan maksudnya kisahmu tiada pentingnya sebagaimana kisah di bulan lainnya. Bukan maksud kesengajaanku dengan berdalihnya aku akan kesibukan sehingga terlupa untuk menuliskan hari-hari bersamamu.

Januari, bicaralah engkau akan kisah kita yang telah lampau dan akan kutuliskan semampu yang aku bisa. Kisahmu adalah awal dari bicara bulan ini. Kisahmu ini seharusnya menjadi awal mula dari kisah-kisah bulan lainnya. Kisahmu kini tertuang dalam tulisanku kini...

3 Januari 2012, “Menjadi Sang Penjaga Harta”

Surat sakti itu akhirnya sampai jua di suatu hari mula-mula bersamamu, Januari. Suatu surat yang mengubah drastis peran lakon yang kujalani dalam parodi dunia kerja. Aku tiada lagi berkedudukan di garda depan dari pelayanan tempatku bekerja. Surat sakti yang ada padaku saat itu menjadikanku harus berpindah kedudukan. Menjauh dari tempat yang sebelumnya, berada di garda belakang.

Menjadi sang Penjaga Harta. Tugas yang semula sangat aku elak akan hal itu. Membayangkannya dalam mengembannya saja sudah terasa sedemikian beratnya, apalagi jika harus benar-benar melakoninya. Namun, surat sakti itu mempunyai pengaruh yang sedemikian kuatnya sehingga aku tak bisa berkutik banyak.

Aku yang baru saja dapat menikmati dengan kedudukan yang semula ada, kini sudah harus berpindah dengan segala resiko dan konsekuensi yang harus ditanggung. Berat tentu kurasakan itu, apalagi jika teringat akan masa-masa peralihan itu.

Semogalah diri amanah dalam mengemban tugas ini. Semogalah diri mampu menyesuaikan dengan ritme lakon yang baru ini. Semogalah diri bisa menyelesaikannya dengan baik hingga di akhir tugas nanti...

7 Januari 2012, “Ketika Perantau Ranah Minang Berkumpul Ria”

Kabar bahagia tersiar di suatu hari bersamamu, Januari. Kabar akan lahirnya seorang putri cantik dari pasangan kawan yang kau kenal. Pasangan ini adalah pasangan yang asli berasal dari Ranah Minang yang kita rantau sekarang ini. Pasangan kawan Minang yang satu ini sudah lama tak dijumpai diri karena mereka merantau ke ranah pulau lain, bukan ranah asalnya sendiri.

Pada suatu kesempatan yang tak dapat ditampik akan ajakan berkumpul dari para sesama perantau Ranah Minang bersama itulah, menjadi suatu momen yang tepat untuk sekaligus menjenguk putri pasangan Minang ini. Saat itu pasangan ini dan putrinya itu tengah berada di titik pusat dari Ranah Minang ini, yakni Kota Padang.

Bertemulah kami dari beberapa penjuru kota yang ada, seperti Painan, Bukittinggi, Solok, bahkan pun ada yang dari kota Medan. Di kota Padanglah akhirnya jua para perantau ranah Minang dapat berkumpul untuk pertama kalinya dalam rangka menjenguk putri pasangan Minang ini. Sungguh suatu momen yang sangat berkenang.

8 Januari 2012, “Bersama Spesial Travelmate Menikmati Pantai Carocok”

Januari, kau tentu tahu tempat kesukaan dari diriku bersama spesial travelmate saat jalan-jalan. Ya, pantai Carocok. Pantai ini memang pantas menjadi primadona andalan pariwisata di kota ini. Nuansa alamnya memberikan kenyamanan tersendiri. Laut biru yang terbentang luas, langit beserta awannya yang berarak-arakan, pasir putih yang berserakan, dan hijaunya biota pinggir pantai menjadi daya tariknya. Tentu keindahan semacam itu menjadi lebih lengkap dengan didampinginya diri oleh spesial travelmate yang mampu lebih memunculkan suasana menyenangkan di tempat itu.

12 Januari 2012, “Tugas ke Padang: Rekonsiliasi Laporan Tahunan”

Tempatku bekerja memberikanku tugas untuk pergi ke Padang dalam rangka melakukan rekonsiliasi laporan tahun yang sudah berjalan. Waktu itu jelas terasa kekikukanku dalam menjalankannya karena baru kali inilah aku melakukannya, Januari. Aku masih miskin pengalaman, pun dalam penyusunan laporan tahunan ini, aku tak mengambil peran andil yang sangat. Memang tugas ini kuemban karena dalam periode setahun selanjutnya nanti, akulah yang bertanggung jawab akan hal semacam ini sehubungan dengan peran Sang Penjaga Harta. Akan tetapi, dapat dimaklumi kemudian, ini akan menjadi pembelajaran bagiku untuk selanjutnya, walau laporan yang telah disusun sebelumnya itu bukan menjadi tanggung jawabku.

15 Januari 2012, “Mempelajari Ilmu Baru tentang Herbal”

Hal baru yang kualami bersamamu adalah tentang ilmu baru yang kudapati dari ajakan mengikuti seminar sederhana tentang Ilmu Herbal, Januari. Di salah satu rumah kawan yang kita kenal dari Painan ini, kita ikuti bersama acara itu dan banyak hal yang bisa kita peroleh. Memang kental terasa nuansa promosi produk dalam acara itu dan juga diajaknya para peserta menjadi agen pemasaran, tetapi selain dari ilmu baru yang kita dapati, semakin tambah dekatnya kita dengan kawan-kawan kita asli Painan ini. Aku memilih untuk tidak terlalu terlibat dalam promosi dan agen produk ini kemudian. Akan tetapi, jelasnya mendapati suatu ilmu baru menjadikan kita memperluas wawasan, bukan, Januari?

22-23 Januari 2012, “Rihlah Lintas Kota”

Kedekatan dengan kawan asli Painan ini tidak hanya pada seminar sederhana tentang ilmu herbal yang kita ikuti. Pada kesempatan selanjutnya, mereka menawarkan ajakan untuk melakukan rihlah bersama. Rihlah yang direncanakan menempuh beberapa kota di Ranah Minang dan bertemakan rihlah wirausaha untuk semakin menambah wawasan.

Maka, kita bersama mereka kemudian menempuh perjalanan lintas kota dari Painan-Padang-Pariaman-Lubuk Basung-Kelok44-Maninjau-Bukittinggi-Padang Panjang hingga akhirnya kembali ke Painan lagi. Perjalanan ini tentu menjadikan satu sama lain menjadi lebih mengenal masing-masing pribadi. Ilmu wawasan baru pun bertambah saat bertandang ke salah satu teman mereka di Maninjau yang berusaha keramba ikan. Yang menjadi hal yang sangat berkesan bagi kita sendiri adalah semakin kita mengenal pula keelokan keindahan pesona Ranah Minang yang kita lalui pada lintas antarkota ini.

25 Januari 2012, “Tugas ke Padang: Mengikuti Sosialisasi Pengadaan Secara Elektronik”

Tak selang begitu lama, ternyata tugas pun datang kembali dan mengharuskan diri pergi ke Padang lagi. Masih sama seperti tugas sebelumnya pula, kekikukan masih saja ada. Bagaimana tidak? Tugas kali ini pun baru sedikit yang aku pahami tentangnya, tentang pengadaan secara elektronik. Seharusnya bukan aku memang yang ditugaskan untuk itu, namun kendalanya yang bersangkutan sudah ditugaskan untuk hal lain, sehingga akulah yang menjadi penggantinya. Januari, kau pun tahu kemudian, betapa tertatih-tatihnya aku untuk mampu menyerap ilmu baru itu. Namun, inilah suatu awal dari semakin terbukanya wawasan. Ya, belajar hal yang baru bukanlah hal yang harus dihindari, bukan, Januari?

28 Januari 2012, “Bersama Spesial Travelmate Menikmati Pelabuhan Tarusan”

Ada ada saja yang membuatku kagum dan salut dengan spesial travelmate-ku, Januari. Betapa dirinya sungguh mempunyai hasrat untuk dapat menikmati keindahan alam pesona Ranah Pesisir Selatan ini. Hasrat itulah yang kemudian menular padaku dan bersama kemudian kami menikmati daerah pelabuhan Tarusan. Senja hari di sana tampak begitu cantik dengan tenangnya air teluk, semburat warna jingga sang surya tenggelam, dan meliuk-liuknya perbukitan yang mengitari kawasan pelabuhan itu. Sungguh, pilihan yang tak dapat disesali sudah memutuskan bersama spesial travelmate menikmati pelabuhan Tarusan sore hari itu, Januari.

29 Januari 2012, “Bersama Spesial Travelmate Menikmati Lintas Selatan Pesisir”

Tak puas dengan pelabuhan Tarusan pada hari sebelumnya, spesial travelmate mengajak kita untuk menikmati pesona daerah lainnya. Pada kesempatan ini pula, tak hanya kami berdua yang menikmatinya, kami ajak pula kawan-kawan yang lain. Jalanan lintas selatan pesisir yang menjadi tujuan penjelajahan kami pada hari itu. Ah sungguh, bagiku yang baru pertama kali melakukannya, kudapati kian memikatnya pesona daerah ini. Jalanan di tepi pesisir pantai ini memberikan pemandangan yang indah, pun juga jalanan yang dilewati saat menempuh kelokan perbukitan nan hijau. Lintas selatan pesisir ini mempunyai keelokannya sendiri dan sungguh tak mengecewakan untuk dapat melintasinya. Semoga saja ada kesempatan lagi untuk dapat menempuhnya.

***

Januari, tak dapat kusangka sedemikian banyaknya hal yang dapat kubongkar kembali memori akan kebersamaanku bersamamu di hari-hari itu. Kisah bicara bulan tentangmu ini menjadi hal yang memang sudah seharusnya untuk ditulis. Akan kukenang selalu, Januari, tiap kisah akanmu ini, sebagaimana kisah-kisah bulan sesudahmu telah kutulis pula.

Painan, 13 Agustus 2012, 23.57

also posted in new house http://nazhalitsnaen.wordpress.com/2012/08/14/hari-hari-di-januari/

lilitan juli

Tulislah semua yang sudah kita alami, Juli. Maka kau akan mengingat kembali bagaimana sungguh terasa bertubi-tubi lilitan demi lilitan yang ada dalam perjalanan kita bersama. Kita paham bahwa lilitan itu bisa menjadikan kian sulit menempuh perjalanan bernama kehidupan ini. Akan tetapi, bersamamu, Juli, kau jadikan aku lebih tangguh daripada apa yang kukira, hingga akhirnya perjalanan ini beralih pada tahapan yang selanjutnya.

Juli, walau perjalanan denganmu dihiasi lilitan, tetapi kau sebagaimana Februari dengan memorinya (Memori Februari), Maret dengan retasannya (Meretas Maret), April dengan kerikilnya (Kerikil April), Meiku tersayang (My May), dan Juni yang penuh kejutan (Kejutan Juni), kesemuanya itu merupakan satu bagian perpaduan dari harmonisasi kehidupan yang terus akan berjalan hingga menuju akhirnya kelak.

Juli, inilah kisah kita bersama...

1 Juli 2012, “Lilitan Perpisahan: Selamat Tinggal, Medan”

Tugas telah berakhir dan kesempatan untuk berkunjung di kota yang satu ini akhirnya sudah habis jua, Juli. Di kota ini, kita dapati pengalaman baru menyambangi daerah yang belum pernah kita jejaki sebelumnya. Kita berlagak seakan-akan seorang wisatawan yang begitu antusias menelusuri keunikan dan pesona-pesona dari kota yang satu ini. Medan memang patut dibilang sebagai kota yang besar di Pulau Sumatera ini. Tak hanya tentang menunaikan tugas semata, Medan telah memberikan kesan perjalanan dengan tempat-tempat baru dan jua ikatan silaturahim dengan beberapa kawan yang dulu begitu akrab di masa yang lampau.

Terima kasih, Medan. Semoga ada kesempatan lagi untuk menyambangimu. Selamat tinggal.

[Medan] Unique Buildings

[Medan] Anasisme Ria

3-5 Juli 2012, “Lilitan Pekerjaan: Laporan Keuangan Kantor Semester I”

Setengah tahun sudah berlangsung tugas sebagai penjaga harta. Pada satu periode waktu inilah kemudian, Juli, kau tahu ada kewajiban yang harus dilaksanakan. Penyusunan Laporan Keuangan Kantor Semester I. Suatu tugas yang kita perkirakan menjadi hal yang berat mengingat waktu dan sumber daya yang begitu terbatas untuk mengerjakannya. Kita begitu terpacu oleh tuntutan, apalagi dari berbagai kehendak untuk dapat menyelesaikannya lebih cepat dari tenggat waktu yang telah ditentukan.

Ah, sungguh, Juli, aku tak dapat mengira kekuatan macam apa yang kemudian dapat mendorongku sehingga kemudian tak kusadari laporan itu tiba-tiba selesai begitu saja. Padahal kau tahu, dengan keadaanku yang baru saja selesai dari tugas di luar kota, tentu hanya mempunyai waktu teramat sedikit untuk dapat selesaikan semua itu. Tak disangka memang, walau kemudian laporan itu harus diperbaiki beberapa kali, tetapi merupakan pencapaian yang memuaskan dapat selesai lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Tentunya tak bisa diabaikan besar pengaruh dari kinerja anggota tim penyusun lainnya, tak hanya aku sendiri, dalam pembuatan laporan ini. Kerja sama menjadi satu hal yang penting agar suatu tugas dapat diselesaikan. Itu menjadi pembelajaran sekali bagiku, Juli...

Kesibukan Semesteran

14-15 Juli 2012, “Lilitan Perjalanan: Ke Lubuk Sikaping”

Dari satu tugas beralihlah pula ke tugas lainnya. Satu tugas selesai, menunggu sudah tugas selanjutnya. Begitulah demikian yang kita alami, Juli. Terasa sekali melilit semua tugas-tugas itu. Akan tetapi, di tengah serba lilitan itu, kita sadari ada begitu banyak pembelajaran atau hal baru yang kita dapatkan, bukan, Juli?

Kau tentu ingat akan perjalanan dalam suatu tugas menuju suatu kota bernama Lubuk Sikaping. Kota yang cukup jauh itu. Kau dapati bahwa dunia ini nyatanya begitu masih luas terhampar dan ada banyak daerah yang belum kita sambangi. Lubuk Sikaping, di sanalah kita kemudian menunaikan tugas selanjutnya, tak hanya sekadar bersenang-senang atau berwisata saja.

Studi antarkantor, inilah tugas yang kita emban di kota ini. Mempelajari bagaimana kantor di kota ini sudah menerapkan standar-standar dari kantor percontohan yang merupakan hajat besar instansi tempat kubekerja di tahun ini. Tak hanya itu tentunya, kita dapati bersama bertambahnya kenalan dari rekan sejawat dan pertukaran pengalaman yang bermanfaat. Tentang kotanya sendiri, tak begitu jauh berbeda dari Painan, kota kecil yang masih belum tersentuh oleh keramaian manusia dan alamnya tampak masih begitu asri...

Kunjungan Antarkantor

21 Juli 2012, “Lilitan Perantauan: Ramadhan in Painan Chapter 2”

Inilah kali kedua, bukan lagi untuk pertama kalinya dalam merasakan nuansa Ramadhan di ranah rantau Minang ini. Kita dapati diri kita begitu lebih mempersiapkan diri karena sudah ada pengalaman pertama setahun lalu dalam menjalaninya. Kau dapat lihat, Juli, bahwa ada perbedaan dalam edisi kedua kali ini. Kau dapati diriku lebih berusaha mandiri, tak mau terlalu bergantung dengan orang lain. Walau memang dengan keputusan semacam itu, acapkali terasa berat bebanmu untuk menjalaninya. Sungguh Ramadhan di rantau edisi kedua ini merupakan suatu tantangan dan semoga saja kita dapat menjalaninya sebaik yang kita bisa, Juli...

24 Juli 2012, “Lilitan Cuaca: Malam yang Mencekam”

Juli, kau tentu ingat ada suatu malam mencekam yang kita alami bersama. Malam itu, hujan badai turun begitu menderu serbu di kota yang kita tinggali. Kita tak bisa berkutik, hanya diam di tempat perlindungan kita. Tak ada cahaya menerangi kala itu karena listrik dipadamkan. Cuaca sungguh menampakkan perubahan drastis dari yang semula dikira tak akan terjadi apa-apa.

Maka, kita dapati di keesokan pagi harinya, berita di media massa mulai menceritakan bahwa lilitan cuaca ini menimbulkan petaka di kota Padang dan sekitarnya. Banjir bandang telah terjadi akibat hujan badai semalam dan tentu ini menjadi ujian yang sangat berat bagi para penduduk di sana dalam menjalankan bulan nan suci ini.

Di kota yang kita tinggali, untung saja tak terjadi kerusakan atau petaka semacam itu. Akan tetapi, tetap saja, bukankah kita harusnya perih pula merasakan penderitaan para korban dan mampu memberikan pertolongan, pun sekecil-kecilnya doa, untuk mereka, bukan, Juli?

Tentang Hujan Badai Semalam

31 Juli 2012, “Lilitan Perseteruan: Kala Sang Penghasut Berulah Lagi”

Alur kisah parodi dunia kerja ternyata tak sudah cukup pada beberapa bagian yang sudah kita ketahui bersama, Juli. Ternyata, pada satu tokoh yang bernama Sang Penghasut itu, rasa-rasanya tak cukup baginya hanya sekadar tampil pada satu atau dua bagian babak belaka. Kali ini ia lebih menggelegarkan hasutannya, lebih menjadi-menjadi perangainya, dan lebih menunjukkan kehasutannya itu.

Hanyalah bermula pada suatu kekecewaan akan kebijakan tertentu dari pimpinan tempat kubekerja menjadi suatu bahan pancingan yang begitu menggoda bagi Sang Penghasut, Juli. Ia sangat memanfaatkan peluang itu dan menjadikan kondisi yang ada semakin keruh. Permusuhan semakin terlihat nyata. Emosi bergejolak bermain tiap antar satu lakon sama lain.

Juli, padahal kita sadar bulan nan penuh berkah ini tak seharusnya dihiasi semacam lilitan perseteruan ini. Sungguh terlalu. Dalam benak kita, selalu saja mempertanyakan bagaimana hal ini bisa terjadi. Bagaimana manusia terlalu mengedepankan egonya. Bagaimana manusia terlalu menonjolkan emosinya. Bagaimana manusia terlalu merasa benar atas pendapatnya sendiri.

Dan dialah Sang Penghasut memang penyebab semua ini. Dia bagaikan serigala berbulu domba. Terlihat oleh kebanyakan orang, dia macam domba yang baik. Sosok yang dianggap memperjuangkan kepentingan bersama, menjunjung tinggi keadilan, dan berani lantang mengungkapkan apa yang ia anggap benar.

Namun, kita tahu, bulu dombanya kian lama kian menipis sehingga terlihat kulit aslinya sebagai serigala. Gigi taringnya semakin tajam dengan hasutannya. Seusai perseteruan itu pun, kau dapati bahwa dia semakin mengganas dengan hasutannya itu. Ceracau ocehan semakin mengaburkan sosok kedombaannya itu.

Yang mengherankan hingga sekarang adalah bagaimana ia berhasil dengan hasutannya itu dan banyak yang masih terpedaya akannya. Ia mampu menangkap kekecewaan-kekecewaan yang terpendam di benak tiap lakon dan kemudian ia kemas dengan cantik menjadi suatu bumbu perseteruan. Sungguh, Juli, hal demikian inilah yang menjadikanku kian takut dan menjauh dari dirinya. Bisa jadi di suatu saat nanti, taring hasutannya yang berbisa itu menusukku. Semoga saja tidak akan terjadi...

***

Juli, demikianlah lilitan-lilitan itu membelit perjalanan kita bersama. Lilitan itu memang terasa menyesakkan pada satu sisi, tetapi kita dapat pahami sekali lagi bahwa lilitan itulah yang menjadikan semakin belajar akan kehidupan ini. Hingga kemudian pada saatnya kita dapat terbebas dari lilitan itu dan menjadikan kita lebih leluasa lagi dalam menempuh perjalanan bersama, di saat itulah nanti seharusnya tak boleh kita lupakan jua lilitan-lilitan yang mendewasakan kita kini...

Painan, 13 Agustus, 22.41

Kamis, 19 Juli 2012

[xenophobia] ketika seorang jawa di ranah minang

“Ala Biso Mangecek Baso Urang Minang, Da?” (Sudah bisa berbicara bahasa orang Minang, Uda?)

“Alun lai. Ambo masih saketek saketek bisonyo. Paralu baraja taruih iko.” (Belum bisa. Saya masih sedikit-sedikit bisanya. Perlu belajar terus untuk itu)

Hahahaha... Demikianlah kiranya percakapan yang sering saya alami kalau berbincang dengan orang Minang yang baru saya kenali dan temui di kota Painan ini. Dengan logat yang masih kerasa medhognya orang Jawa, saya menjawab pertanyaan dalam bahasa Minang itu. Semula saya jawabnya dengan memakai bahasa Indonesia, bahkan pun dulu saat awal-awal di sini malah belum mengetahui apa arti dari pertanyaan tersebut hihihi. Sekarang karena sudah paham beberapa istilah bahasa Minang, yah dicobalah memakai bahasa yang sama untuk menjawabnya. Semoga sih tidak salah ya hehehe.

Nah, bagi seorang yang dalam garis keluarganya tidak ada darah orang Minang seperti saya ini, tentulah merantau ke negerinya orang Minang ini menjadi suatu pengalaman yang sangat berkenang di hati *halah. Mengapa? Karena budaya dan bahasa yang digunakan di sini merupakan hal yang baru saya dapati secara langsung dan jelas sangat berbeda dengan budaya serta bahasa yang saya pakai dalam keseharian, yakni Bahasa Jawa *maklum orang Jawa tulen sih hehehe*. Paling sebelumnya tahunya berbahasa Minang itu dengan pengetahuan terbatas dan tahunya kosakatanya serba diganti vokal O seperti biso, baso, dan akhiran serba -nyo hehehe. Sungguh kelihatan awamnya saya akan bahasa Minang saat itu.

Jelaslah sudah kemudian apa yang terjadi saat benar-benar pindah ke sini. Saya mengalami apa yang kiranya disebut sebagai Xenophobia. Kultur yang selama ini saya hadapi ternyata berbeda nian dengan kultur yang ada di hadapan saya sekarang. Jadilah saya merasa berada di dunia asing yang sama sekali belum saya pahami saat itu.

Roaming Bahasa Minang Di Mana-mana

Ada banyak hal yang saya alami tentang cultural-shock awal mula saya berada di Painan. Kejadian pertama adalah saat saya melayani mitra kerja kantor yang sangat didominasi oleh orang asli Minang. Kesulitan yang saya hadapi bukanlah pada permasalahan teknis yang harus dipecahkan untuk membantu mitra kerja tersebut, tetapi kesulitannya adalah pada komunikasinya. Para mitra kerja itu berbicara dan mengutarakan persoalan yang dihadapinya tidak menggunakan bahasa yang saya sudah pahami, melainkan memakai bahasa Minang yang saat itu jelas menjadi hal baru bagi saya.

Benar-benar dah saat itu saya jadinya coba-coba asal untuk mengerti dan memahami apa maksudnya. Akan tetapi seringnya saya gagal mengerti. Mereka berbicara dengan tempo yang cepat dan tak bisa saya ikuti dan juga banyak sekali kosakata yang terasa asing di telinga, tak hanya sekadar kosakata yang diserba-O-kan sebagaimana saya ketahui sebelumnya huhuhu.

Sekali dua kali saya masih mencoba untuk mengerti. Ah, mungkin saja memang di sini sudah terbiasanya memakai bahasa Minang dalam keseharian, apalagi petugas di kantor saya ini juga banyak yang asli Minang sehingga lebih memilih berbicara dalam bahasa Minang, pun dengan para mitra kerja. Akan tetapi, selanjutnya saya jadi heran sendiri. Apa dikiranya mitra kerja itu semua orang yang sudah tinggal di Ranah Minang ini bisa bahasa Minang ya. Mbok ya pahami kalau saya ini pendatang baru dan terlihat sangat jelas dari logat saya pun, pasti bukan orang Minang.

Hingga kemudian, saya sempat pernah saking mood-nya kemudian menegaskan kepada para mitra kerja yang berbicara memakai bahasa Minang itu, “Maaf Bapak/Ibu, bisa bicara dengan menggunakan bahasa Indonesia saja. Saya tidak mengerti apa yang Bapak/Ibu bicarakan karena saya masih belum bisa bahasa Minang” huhuhu. La bagaimana lagi, kalau saya ngasal mengartikan bahasa Minang takutnya malah persoalan mitra kerja tak bisa diatasi karena kendala komunikasi itu.

Tak hanya saat bekerja saja peristiwa cultural shock saya alami. Saat mau membeli barang di pasar, saat makan di Rumah Makan, saat ditanyai oleh orang dan bertanya arah di jalan, dan saat-saat lainnya bersama dengan orang Minang asli di sini, saya terjebak dengan bahasa asing yang belum saya pahami saat itu. Berasa sekali ibarat istilah komunikasi menggunakan telepon genggam itu kena roaming di mana-mana huhuhu.

Setia Berbahasa Jawa dengan Orang Jawa

Masa-masa awal di Painan dengan serba roaming bahasa Minang itu menjadikan saya yang orang Jawa ini merasa begitu jauh dengan kultur (bahasa dan budaya) orang Jawa. Saya pun semula mengira jangan-jangan di sini pun benar-benar tidak ada orang Jawa dan semuanya orang Minang huhuhu. Bahkan juga sempat terlintas di pikiran, wah lama-lama nih bisa luntur juga identitas saya sebagai orang Jawa, nanti kalau sudah sekian tahun di sini sudah tidak bisa lagi berbahasa Jawa, bisanya berbicara bahasa Minang saja hohoho.

Namun, persepsi demikian itu terhapus dengan sendirinya setelah saya bertemu dengan orang-orang Jawa di Ranah Minang ini. Alhamdulillah sesuatu banget dah saat itu hehehe. Kenalan orang Jawa pertama saya adalah tukang penjual bakso yang ada di sebelah kantor saya. Sebelumnya saya kira malah penjual bakso ini adalah orang Minang karena berbicara dalam bahasa Minang saat berdagang. Akan tetapi, setelah saya simak baik-baik obrolan itu, saya temukan ada logat Jawa yang masih kerasa pada penjual bakso itu. Saat saya ada kesempatan ngobrol dengan dia, ketawanlah benar kalau mas penjual bakso ini adalah orang Jawa yang sudah lama tinggal di sini karena program transmigrasi di jaman dulu.

“Oalah Mase saking Jawa to jubule. Kula nggih saking jawa, Mas. Wong Salatiga. Niki ing mriki kula kerjo ing kantor sebelah.” (Oalah Masnya dari Jawa ya ternyata. Saya ya juga dari Jawa, Mas. Orang Salatiga. Ini di sini saya kerja di kantor sebelah). Begitulah kiranya ucapan saya saat tahu masnya orang Jawa hehehe.

Entah dorongan dari mana, secara spontan setelah tahu dirinya adalah orang Jawa, langsung saya gunakan bahasa Jawa dalam bercakap-cakap. Bbbbbeuh setelah selesai ngobrol, betapa terasa puasnya diri saya telah dapat mempergunakan bahasa yang kerap saya gunakan dulu, yakni bahasa Jawa hehehe.

Salah satu hal yang membuat saya kaget kemudian adalah setiap penjual bakso/mie ayam/semacamnya di kota ini rupanya didominasi oleh orang Jawa. Saya pun yang memang suka makanan semacam itu jadinya ya semakin sering berkunjung. Tak hanya karena makanannya saja, akan tetapi juga dengan alasan kepuasan berbicara dengan bahasa ibu saya ini. Bahkan pun, tak jarang pula di warung-warung ini saya bertambah kenalan orang Jawa lainnya yang sedang mampir. Saya jadi menarik suatu kesimpulan bahwa sepertinya tidak hanya saya sendiri yang kangen ber-Jawa ria di sini, orang-orang Jawa perantau di sini suka berkumpul di warung semacam ini untuk berinteraksi dengan bahasa Jawa rupanya hehehe.

Kala Minang dan Jawa Berpadu Menjadi Satu

Hingga kemudian tak terasa sudah berjalan setahun lebih saya berada di sini. Apakah saya masih dapat mempertahankan kultur orang Jawa dalam diri saya? Atau apakah saya sudah meleburkan diri dalam kultur baru dan lebih pandai berbicara dalam bahasa Minang? Hohoho pada satu sisi memang dengan dominasi penggunaan bahasa Minang di sini dengan sendirinya menjadikan saya lebih memahami bahasa dan budaya orang Minang. Akan tetapi, masih ada juga interaksi sesama orang Jawa dengan masih dipergunakannya bahasa Jawa yang membuat saya masih merasa sebagai orang Jawa, bahkan pun saya jadi keseringan pakai bahasa Kromo yang hitungannya sulit karena di sini orangnya lebih tua daripada saya.

Memang sih, saya masih kelewat lebih kental kultur Jawanya hingga sekarang. Akan tetapi, jika diperbandingkan dengan kondisi awal dulu, sekarang ini pula saya jauh lebih dapat mengerti dan juga mulai menggunakan bahasa Minang dalam keseharian. Dengan dipandu dan dibimbing oleh para pegawai asli Minang di kantor, ibu-ibu penjaga warung dekat kontrakan saya, dan juga spesial travelmate saya yang juga berlatih berbicara bahasa Minang, perbendaharaan bahasa Minang saya menjadi bertambah.

Oya, salah satu tips unik untuk lebih mengerti bahasa Minang itu saya dapati dengan sering mendengar lagu-lagu Minang dan tanya-tanya sama orang Minang apa artinya. Hehehe jadilah sekarang ini beberapa lagu Minang sudah lazim di telinga saya dan saya paham apa maksudnya hihihi.

Jadilah kemudian, sepertinya kesimpulannya ya kultur Minang dan Jawa mulai berpadu menjadi satu dalam diri saya. Ho? Bersatu padu? Bahasanya kayaknya menjodohkan dua hal gitu yaks. Mungkin bisa jadi orang Jawa yang satu ini nanti akan bersatu padu alias berjodoh dengan orang Minang, iya kan? *ups* hihihi

Painan, 19 Juli 2012, 23.13

*diikutsertakan pada lombanya Mbak Lessy pada tautan jurnal Lomba Xenophobia ini

Kamis, 12 Juli 2012

(senyum untuk berbagi) senyum puas setelah berjelajah ria

Semenjak saya berada di ranah Minang ini, saya baru ngeh kalau saya mempunyai hobi baru yaitu jalan-jalan! Padahal sebelumnya saat masih di pulau Jawa yang begitu padat itu, saya tergolong termasuk anak rumahan yang jarang plesiran ke mana-mana. Pun sewaktu kuliah dulu (yang mana ndak bisa jadi anak rumahan mulu tentunya) masih keitung jarang pula jalan-jalan. Jalan-jalan yang ada pun paling terpaksa karena ada acara bersama atau semacamnya.

Nah, karena tuntutan profesilah kemudian saya terpaksalah pula berkenalan dengan alam luar Jawa, lebih tepatnya di Painan, Sumatera Barat ini. Maklum, di sanalah jua penghasilan hidup dapat saya dapatkan hehehe. Yah, lembaran kehidupan semakin berwarna dengan merantaunya diri memang .

Setahun sudah saya di sini (setahun lebih 22 hari lebih tepatnya hihihi diitung banget) dan yaks dari rentang waktu tersebut jadilah saya penjelajah di Ranah Minang ini. Alam dan pesona budayanya itu begitu kaya di sini, jadi sayanglah sekali jika momen selama di sini tidak dimanfaatkan untuk menikmatinya, bukan?

Tersebutlah kemudian Jam Gadang, Air Terjun Timbulun, Pantai Aie Manih, Pantai Muaro, Jembatan Siti Nurbaya, Jembatan Akar, Air Terjun Bayang Sani, Pantai Carocok, Bukit Langkisau, Pantai Gandoriah, Taman Raya Bung Hatta, Museum Adityawarman, Masjid Raya Ganting, Masjid Burhanuddin Ulakan Karang, Danau Maninjau, Danau Singkarak, Pelabuhan Carocok Tarusan, Ngarai Sianok, Benteng Fort De Kock, Lembah Harau, dan apalagi yaks?  Bener-bener dah, dengan membuat daftar ini aja saya merasa sudah menjelajahkan kaki saya ke mana-mana.

Salah satu hal senantiasa ada tiap penjelajahan itu adalah senyum puas yang terkembang pada wajah saya karena akhirnya suatu keinginan penjelajahan bisa dicapai jua. Alhamdulillah sesuatu banget dah pokoknya hehehe. Senyum yang terkembang ini merupakan salah satu bentuk juga dari bagian saya memaknai kata jelajah pada hakikatnya...

Lalu, seperti apakah bentuk senyum saya setelah puas berjelajah ria itu? Ini nih contohnya...

(foto-foto lebih lengkapnya ada di album yang ini http://nanazh.multiply.com/photos/album/44/sungai-nipah , silakan berkunjung )

Foto ini diambil manakala penjelajahan saya bersama Spesial Travelmate saya di daerah Sungai Nipah, arah selatan Painan, pada akhir bulan April 2012 yang lalu. Daerah Sungai Nipah ini sebenarnya bukan tempat wisata, namun saat kami melewati daerah ini, kami menemukan pesonanya yang tersembunyi. Daerah ini mempunyai garis pantai yang panjang dengan pasir putih dan air laut yang begitu jernih berwarna kebiruan. Kombinasi ini kemudian dipercantik dengan gugusan perbukitan nan hijau yang dekat dengan ujung-ujung garis pantai dan juga alaminya dengan pemukiman nelayan yang ada di sekitarnya.

Jelaslah sudah, dengan menemukan pesona yang tersembunyi ini ya tentu senyum saya merekah dengan sendirinya dan jadilah pula momen yang pas untuk didokumentasikan hihihi. Melihat hasil fotonya yang dijepret oleh travelmate saya, wow saya tercengang. Pas banget dah! Latar belakangnya keren sekeren senyuman orang yang ada di sana hehehe. Walau ya minusnya di foto itu wajah saya tampak gosong karena sudah plesiran seharian di bawah terik matahari dan keliatan betapa menggembulnya badan saya huhuhu.

Ya sudahlah dicukupkan saja anasisme-nya untuk kali ini. Mohon maaf ya kalau ada yang kurang berkenan karena saya sudah menjadi pengganggu dari keindahan latar belakang foto saya ini hehehe. Malah memang seharusnya ada sayanya biar bisa diikutkan pada lomba Senyum Untuk Berbagi yang saya ikuti kali ini hehehe...

Painan, 12 Juli 2012, 22.24