Kesendirian ini adalah sangkar belenggu yang memenjarakan diri dalam kekalahan diri. Kalah dan menderakan hati saat diri tak bisa menyesuaikan dengan perubahan drastis yang begitu terasa. Diri terjebak dengan segala hal yang tak bisa ia inginkan dan terpaksa harus ia hadapi. Padahal, masa depannya ada di kota ini, terbentang dengan sejuta kemungkinan. Namun, apa daya, kekuatan untuk sekadar menerka masa depan saja tak ada karena gelayut kepesimisan begitu membutakan diri. Tak tahu akan jadi seperti apa nantinya jika diri telah menua di kota ini.
Begitulah akibat dari kehidupan sebelumnya yang begitu memanjakan diri, menjadikan diri begitu merasa nyaman akan masa lalu. Masa lalu telah membuatnya takjub akan kenikmatan hidup dan membuatnya enggan untuk beralih. Takdir pun menyimpangkan perjalanan diri dan terdamparlah diri di kota ini.
Diri telah begitu sumbang mencerna kehidupan. Kerasnya kota ini sebenarnya tak bisa dijadikan sebagai alasan untuk menjadikan diri serendah ini, sosok yang begitu kelam dan tanpa harapan. Deraan dalam kesendirian di sini adalah suatu kisah untuk mengacukan diri pada ketegaran dalam kehidupan. Hidup ini bukan hanya sekadar hal bersenang-senang belaka, ada perjuangan yang harus dilalui dengan berat apabila diri sudah menekadkan suatu cita yang tinggi.
Wahai diri, dirimu bukanlah selayaknya seekor hewan yang hanya menjalani kehidupan yang dimilikinya ala kadarnya, dirimu adalah manusia dan manusia sanggup menjadi sosok yang terbaik. Sosok yang terbaik adalah sosok yang telah lulus dan berhasil melewati berbagai kesulitan yang dihadapi untuk mencapai citanya.
Duhai diri, jadilah engkau sekokoh karang yang tak akan hancur, walaupun terhempas ombak berkali-kali...
Di kota ini, senandung kesendirian itu masih mengalun... Semoga saja ini hanyalah satu senandung yang memang harus terngiang agar pada suatu saat nantinya senandung lain akan menggantikan dan menjadikan segala sesuatunya lebih baik lagi... Tentu dengan doa dan usaha...
Rawa Tengah, 4 April 2011, 21.04
Hmm.. Masih terlalu luas dan lebar prosanya hehehe..
BalasHapustapi tidak mengapa, tetap semangat berkarya ya!
SABUDI 'sastra budaya indonesia'
mari kita jaga bersama!
dikocok arisannya...horee dapet mas anazh...
BalasHapusseru yah..pingin ikutan deh...:D
hohoho emang jadi "penyakit" nih mas, suka nulis yang panjang-panjang... ajari dong cara nulis yang singkat, padat, dan jelas he...
BalasHapusni juga dalam rangka latihan, masih newbie sekali ikutan arisan kata he...
-_-a
BalasHapusiye ya... arisan mah diidentikkan dengan kocokan... lah ini yang dikocok apaan? eh, ada deng,... kata-kata he...
ayo ikutan kak ario... pengen liat juga apresiasi sastra dari kak ario he...
Terus menulis saja intinya sembari membandingkan tulisan baru dengan yang dulu.
BalasHapusSABUDI 'sastra budaya indonesia'
mari kita jaga bersama!
Hanya mencoba memadatkan tanpa harus menambahi apapun dan hanya mengilangkan. Semoga berkenan.
BalasHapus___________________________________________________________________________________________
Kota ini terasa begitu keras, menjadikan diri melantunkan senandung hati mengalun lirih diiringi ironis dan perih yang terasa. Kesendirianku ini adalah sangkar belenggu, memenjarakan diri dalam kekalahan. Kekalahan yang menderakan hati yang tak lagi bisa menyesuaikan diri dengan perubahan drastis. Diri ini terasa terjebak oleh segala hal yang tak diinginkan, dan terpaksa harus dihadapi. Padahal, masa depan kota ini, terbentang dengan sejuta kemungkinan. Namun apa daya, tiada lagi kekuatan tuk sekadar menerka masa depan, karena gelayut kepesimisan begitu membutakan diri. Tak tahu akan seperti apa nantinya, jika diri telah menua di kota ini.
Kehidupan yang memanjakan diri, menjadikanku begitu merasa nyaman akan masa lalu. Masa lalu yang telah buatku takjub akan kenikmatan hidup dan enggan tuk beralih. Takdir pun menyimpangkan perjalananku, terdampar di kota ini. Diriku begitu sumbang mencerna kehidupan, dan kerasnya kota tak seharusnya menjadi alasan tuk merendahkan diri layaknya sosok yang begitu kelam, tanpa harapan. Deraan kesendirian adalah kisah tuk mengacukan diri pada ketegaran dalam kehidupan. Hidup bukan hanya sekadar senang-senang belaka, ada perjuangan yang harus dilalui dengan berat apabila diri sudah menekadkan suatu cita yang tinggi.
Wahai diri, diriku bukanlah seekor hewan yang hanya menjalani kehidupan yang dimilikinya ala kadarnya, diriku adalah manusia yang sanggup jadi sosok terbaik. Sosok yang telah lulus dan berhasil melewati berbagai kesulitan tuk mencapai citanya. Duhai diri, jadilah engkau sekokoh karang yang takkan hancur, walaupun terhempas ombak berkali-kali...
Di kota ini, senandung kesendirian masih mengalun... terngiang sampai suatu saat nanti, dikala senandung lain kan hadir menggantikan, dan menjadikan segalanya lebih baik lagi... dengan doa dan usaha.
___________________________________________________________________________________________.
SABUDI 'sastra budaya indonesia'
mari kita jaga bersama!
kayaknya asik ya arisan ini.
BalasHapuskayaknya asik ya arisan ini.
BalasHapusOwh yaiya dung hehehe..
BalasHapusSABUDI 'sastra budaya indonesia'
mari kita jaga bersama!
wuah naz.. Tnyata kamu pintar jg merangkai kata
BalasHapusWow.. Aku keknya ga bisa deh merangkai kata kek gini...
BalasHapushooo senantiasa latihan dan juga terus mengevaluasi yaks...
BalasHapusbetul betul betul...
wuaaaah iya nih... jadi sadar ada beberapa kata yang kurang efisien dan efektif penggunaannya sehingga seharusnya bisa dikurangi...
BalasHapusruh tulisannya juga masih kerasa senada dengan konsep saya sebelumnya...
hmm harus banyak2 tutorial nih ma bung Mus he
wah dinanti nih apresiasi dari kang mas ihwan...
BalasHapusmesti banyak fans yang nunggu *halah
betul betul betul
BalasHapuswuieh,,,, seperti yang dah dibahas ma bung Mus... saya masih perlu banyak latihan euy...
BalasHapusberpuisi dan prosa ria semacam ini sudah lama tidak saya lakukan lagi, mbak...
dulu sih sering, makanya pengen menghidupkan lagi gairah tulis yang dulu pernah ada
dicoba dululah kak...
BalasHapussapa tahu dengan berlatih nulis puisi atau prosa, bisa mengeksplorasi sisi romantisme seorang kak muse hihihi
kosakatanya aneh-aneh.
BalasHapusga gue banget.
kalau gak aneh, bukan anas yang buatnya XD
BalasHapusayo, ikutan arisan katanya, buktikan bahwa kamu pun bisa membuat rangkaian kata yang justru semula "gak gue banget" jadi "gue banget" XD
hingga akhirnya berdua ... he he he ...
BalasHapusAllahumma aamiin *berharap amat sangat he...
BalasHapussiiiiiiip.... sampai ketemu di edisi selanjutnya :)
BalasHapusohhh.... will be so waiting for it...
BalasHapus*dan ntar edisi bukan tentang kesendirian hehehe