Senin, 04 April 2011

[arisan kata 14] senandung tentang kesendirian

Kota ini terasa begitu keras. Kerasnya kehidupan yang berlangsung di dalamnya menjadikan diri melantunkan suatu senandung hati. Senandung yang mengalun lirih dengan sesekali diiringi oleh ironis dan perih terasa. Perasaan yang muncul kala kesendirian itu menggugat.  

Kesendirian ini adalah sangkar belenggu yang memenjarakan diri dalam kekalahan diri. Kalah dan menderakan hati saat diri tak bisa menyesuaikan dengan perubahan drastis yang begitu terasa. Diri terjebak dengan segala hal yang tak bisa ia inginkan dan terpaksa harus ia hadapi. Padahal, masa depannya ada di kota ini, terbentang dengan sejuta kemungkinan. Namun, apa daya, kekuatan untuk sekadar menerka masa depan saja tak ada karena gelayut kepesimisan begitu membutakan diri.  Tak tahu akan jadi seperti apa nantinya jika diri telah menua di kota ini.

Begitulah akibat dari kehidupan sebelumnya yang begitu memanjakan diri, menjadikan diri begitu merasa nyaman akan masa lalu. Masa lalu telah membuatnya takjub akan kenikmatan hidup dan membuatnya enggan untuk beralih. Takdir pun menyimpangkan perjalanan diri dan terdamparlah diri di kota ini.  

Diri telah begitu sumbang mencerna kehidupan. Kerasnya kota ini sebenarnya tak bisa dijadikan sebagai alasan untuk menjadikan diri serendah ini, sosok yang begitu kelam dan tanpa harapan. Deraan dalam kesendirian di sini adalah suatu kisah untuk mengacukan diri pada ketegaran dalam kehidupan. Hidup ini bukan hanya sekadar hal bersenang-senang belaka, ada perjuangan yang harus dilalui dengan berat apabila diri sudah menekadkan suatu cita yang tinggi. 

Wahai diri, dirimu bukanlah selayaknya seekor hewan yang hanya menjalani kehidupan yang dimilikinya ala kadarnya, dirimu adalah manusia dan manusia sanggup menjadi sosok yang terbaik. Sosok yang terbaik adalah sosok yang telah lulus dan berhasil melewati berbagai kesulitan yang dihadapi untuk mencapai citanya.

Duhai diri, jadilah engkau sekokoh karang yang tak akan hancur, walaupun terhempas ombak berkali-kali...

Di kota ini, senandung kesendirian itu masih mengalun... Semoga saja ini hanyalah satu senandung yang memang harus terngiang agar pada suatu saat nantinya senandung lain akan menggantikan dan menjadikan segala sesuatunya lebih baik lagi... Tentu dengan doa dan usaha...

Rawa Tengah, 4 April 2011, 21.04

 *tulisan ini disusun untuk meramaikan arisan kata 14 yang diusulkan oleh Mas Moestoain dengan syarat mencantumkan kata-kata berikut ini : senandung, lirih, kota, terka, sangkar, acu, tua, takjub, sumbang, hewan

23 komentar:

  1. Hmm.. Masih terlalu luas dan lebar prosanya hehehe..
    tapi tidak mengapa, tetap semangat berkarya ya!


    SABUDI 'sastra budaya indonesia'
    mari kita jaga bersama!

    BalasHapus
  2. dikocok arisannya...horee dapet mas anazh...
    seru yah..pingin ikutan deh...:D

    BalasHapus
  3. hohoho emang jadi "penyakit" nih mas, suka nulis yang panjang-panjang... ajari dong cara nulis yang singkat, padat, dan jelas he...
    ni juga dalam rangka latihan, masih newbie sekali ikutan arisan kata he...

    BalasHapus
  4. -_-a
    iye ya... arisan mah diidentikkan dengan kocokan... lah ini yang dikocok apaan? eh, ada deng,... kata-kata he...
    ayo ikutan kak ario... pengen liat juga apresiasi sastra dari kak ario he...

    BalasHapus
  5. Terus menulis saja intinya sembari membandingkan tulisan baru dengan yang dulu.


    SABUDI 'sastra budaya indonesia'
    mari kita jaga bersama!

    BalasHapus
  6. Hanya mencoba memadatkan tanpa harus menambahi apapun dan hanya mengilangkan. Semoga berkenan.
    ___________________________________________________________________________________________

    Kota ini terasa begitu keras, menjadikan diri melantunkan senandung hati mengalun lirih diiringi ironis dan perih yang terasa. Kesendirianku ini adalah sangkar belenggu, memenjarakan diri dalam kekalahan. Kekalahan yang menderakan hati yang tak lagi bisa menyesuaikan diri dengan perubahan drastis. Diri ini terasa terjebak oleh segala hal yang tak diinginkan, dan terpaksa harus dihadapi. Padahal, masa depan kota ini, terbentang dengan sejuta kemungkinan. Namun apa daya, tiada lagi kekuatan tuk sekadar menerka masa depan, karena gelayut kepesimisan begitu membutakan diri. Tak tahu akan seperti apa nantinya, jika diri telah menua di kota ini.

    Kehidupan yang memanjakan diri, menjadikanku begitu merasa nyaman akan masa lalu. Masa lalu yang telah buatku takjub akan kenikmatan hidup dan enggan tuk beralih. Takdir pun menyimpangkan perjalananku, terdampar di kota ini. Diriku begitu sumbang mencerna kehidupan, dan kerasnya kota tak seharusnya menjadi alasan tuk merendahkan diri layaknya sosok yang begitu kelam, tanpa harapan. Deraan kesendirian adalah kisah tuk mengacukan diri pada ketegaran dalam kehidupan. Hidup bukan hanya sekadar senang-senang belaka, ada perjuangan yang harus dilalui dengan berat apabila diri sudah menekadkan suatu cita yang tinggi.

    Wahai diri, diriku bukanlah seekor hewan yang hanya menjalani kehidupan yang dimilikinya ala kadarnya, diriku adalah manusia yang sanggup jadi sosok terbaik. Sosok yang telah lulus dan berhasil melewati berbagai kesulitan tuk mencapai citanya. Duhai diri, jadilah engkau sekokoh karang yang takkan hancur, walaupun terhempas ombak berkali-kali...

    Di kota ini, senandung kesendirian masih mengalun... terngiang sampai suatu saat nanti, dikala senandung lain kan hadir menggantikan, dan menjadikan segalanya lebih baik lagi... dengan doa dan usaha.
    ___________________________________________________________________________________________.



    SABUDI 'sastra budaya indonesia'
    mari kita jaga bersama!

    BalasHapus
  7. Owh yaiya dung hehehe..


    SABUDI 'sastra budaya indonesia'
    mari kita jaga bersama!

    BalasHapus
  8. wuah naz.. Tnyata kamu pintar jg merangkai kata

    BalasHapus
  9. Wow.. Aku keknya ga bisa deh merangkai kata kek gini...

    BalasHapus
  10. hooo senantiasa latihan dan juga terus mengevaluasi yaks...
    betul betul betul...

    BalasHapus
  11. wuaaaah iya nih... jadi sadar ada beberapa kata yang kurang efisien dan efektif penggunaannya sehingga seharusnya bisa dikurangi...
    ruh tulisannya juga masih kerasa senada dengan konsep saya sebelumnya...
    hmm harus banyak2 tutorial nih ma bung Mus he

    BalasHapus
  12. wah dinanti nih apresiasi dari kang mas ihwan...
    mesti banyak fans yang nunggu *halah

    BalasHapus
  13. wuieh,,,, seperti yang dah dibahas ma bung Mus... saya masih perlu banyak latihan euy...
    berpuisi dan prosa ria semacam ini sudah lama tidak saya lakukan lagi, mbak...
    dulu sih sering, makanya pengen menghidupkan lagi gairah tulis yang dulu pernah ada

    BalasHapus
  14. dicoba dululah kak...
    sapa tahu dengan berlatih nulis puisi atau prosa, bisa mengeksplorasi sisi romantisme seorang kak muse hihihi

    BalasHapus
  15. kalau gak aneh, bukan anas yang buatnya XD
    ayo, ikutan arisan katanya, buktikan bahwa kamu pun bisa membuat rangkaian kata yang justru semula "gak gue banget" jadi "gue banget" XD

    BalasHapus
  16. Allahumma aamiin *berharap amat sangat he...

    BalasHapus
  17. siiiiiiip.... sampai ketemu di edisi selanjutnya :)

    BalasHapus
  18. ohhh.... will be so waiting for it...
    *dan ntar edisi bukan tentang kesendirian hehehe

    BalasHapus