Rabu, 11 Januari 2012

membendung rindu

Rindu adalah suatu kata yang terngiang di benak diri kala diri menyadari bahwa ada yang hilang dan betapa diri menginginkannya untuk kembali lagi. Rindu adalah sejenis bentuk perasaan yang membuat dera pada hati dan menjadikan hari-hari yang ada terasa seakan hampa. Rindu mengakibatkan kekosongan ruang yang entah terasa begitu tidak jelas dan berimbas pada kekurangnyamanan diri.

Ah sungguh pun mendeskripsikan dan mendefinisikan rindu, kata-kata pun tak mampu mewakili sepenuh perasaan yang ada, namun biarkan diri sampaikan apa yang bisa disampaikan dan kiranya rindu yang ada ini mampu mentransformasikan dirinya pada sesuatu yang lebih positif.

Kota yang Dirindukan Itu

Dia hanyalah kota yang kecil. Kota yang mungkin tak seluruh orang tahu di manakah ia berada. Jelasnya kota ini termasuk nama kota yang asing di ranah perantauan ini bagi kebanyakan orang-orang di sini. Walaupun ia sekecil itu, namun bagi seorang yang telah mendiaminya selama belasan tahun tentu ada sejenis rasa yang membuat diri menjadi tergantung padanya.

Kota ini mungkin tidak terlalu istimewa sebenarnya. Ah kalau membanding-bandingkannya dengan kota yang lain, dia masih terlampau kalah jauh sebenarnya. Pembangunannya masih tak terlalu pesat, belum seluruh fasilitas pun ada di sana. Namun, sesuatu yang kurindukan pada kota itulah yang membuat dia menjadi istimewa.

Sesuatu itu adalah keluarga. Di sana, di kota itu, pada salah satu rumah yang ada di sana, terdapat suasana yang akan selalu dirindukan. Bersama keluarga, bersama orang-orang yang diri sayangi sepenuh hati, bersama lingkungan yang begitu diri akrabi. Begitulah adanya, rasa rindu menjadi suatu kewajaran tersendiri untuk seorang diri yang merantau di tempat yang jauh dari kota itu. Rindu itu adalah sejenis bentuk cinta yang menjelma dan mengubah kota itu bukan sekadar menjadi kota biasa lagi, melainkan kota yang dirindukan selalu oleh diri.

That’s my lovely city, Salatiga

Batas-batas yang Mengekang

Lihatlah kemudian di mana sekarang ini diri sebenarnya berada. Ratusan kilometer jarak membentang jauh dan melintas laut dari kota yang diri sayangi itu. Jarak itu begitu jauh dan semakin terasa jauh dengan rasa rindu yang ada.

Lihatlah jua kemudian, di mana jelas terasa oleh diri betapa diri terkekang oleh batas-batas alam yang ada di kota yang jauh ini. Perbukitan hijau itu mengelilingi sejauh mata memandang  dan kemudian di ufuk barat diri dapati bentangan samudera luas. Batas-batas alam inilah yang menjadi batas-batas yang mengekang, membuat diri merasa begitu terkucilkan dari kota yang dirindukan.

Batas-batas itu pada hakikatnya adalah suatu keindahan dan kecantikan dari pesona alam. Namun, dengan rasa rindu yang membuncah, batas-batas itu membuat diri merasakan jerat yang sedemikian kuat mengikat. Kadang diri merasa takjub akan keindahan pesona semacam ini, akan tetapi tak jarang pula diri merasa begitu tersiksa akan kenyataan semacam ini. Bukit itu bagai tembok yang tebal dan lautan itu menjadikan terasa begitu jauh dari segala sesuatu.

Rindu semacam ini kadang pula dapat teratasi dengan menelusuri batas-batas yang mengekang itu. Dan di sudut-sudut kesendirian pada batas-batas itulah diri duduk dan merenungi. Sungguh hidup kini tak lagi sama. Hampir semuanya telah berubah.

Serasa Tak Pernah Mengalaminya

Dalam renungan itu, terlintas memori-memori kenangan yang membuat berkecamuk peraduan berbagai macam rasa. Ah, bagaimana bisa diri telah menjalani bagian-bagian kehidupan itu. Beraneka ragam warna kehidupan telah melintas dan dalam memori itu diri temukan banyak orang yang telah menghiasi dalam warna kehidupan.

Mereka adalah orang-orang yang telah kukenal dan mereka adalah orang-orang yang telah berlalu tak senantiasa mengiringi kembali. Mereka menjadi salah satu bagian yang muncul dari terbersitnya rasa rindu. Mereka bukan hanya sekadar orang yang biasa melintas lalu dalam aral hidup ini, tetapi merekalah yang memberikan momen, momen yang tersimpan rapi dalam memori.

Diri kemudian merasa seakan tak pernah mengalaminya. Sungguh bukan berarti diri melupakan kesemua orang-orang itu. Akan tetapi, karena begitu berkenangnya memori dengan mereka itulah, saat sekarang ini begitu terasa bahwa hal demikian adalah suatu hal yang istimewa, sungguh tak pantas bagi diri ini untuk dapat mengalaminya.

Bersama orang-orang yang mempunyai simpati dan empati kepada diri, bersama orang-orang yang mempunyai jalan sepemikiran dengan diri, bersama orang-orang yang diri mampu percayakan untuk berbagi suka dan duka bersama. Seakan mimpi telah bertemu dengan orang-orang seperti itu. Seakan semuanya itu terlalu indah untuk dikenang kembali. Seakan tak pernah mengalaminya pada bagian kehidupan sebelumnya.

Sedemikian itulah bagaimana pikiran berkecamuk dan kemudian membersitkan pertanyaan, akankah suatu saat akan terulang dan hadir kembali memori bersama orang-orang ini? Pada titik sekarang inilah keraguan yang kemudian mengambang. Akan tetapi, pada titik itu pula dikontrakan kembali, siapa yang tahu akan masa mendatang? Bisa jadi akan hadir orang-orang lain yang menjadikan dinamika kehidupan lebih beragam lagi. Jalani saja hidup ini dan diri akan menyadarinya.

Sungguh, rasa terima kasih ingin sekali diungkapkan kepada semua orang yang telah berlalu dalam memori kehidupan ini. Walau diri tahu rasa terima kasih itu tidaklah cukup untuk membalas kebaikan budi mereka. Ah, rindu ini menjadikan diri begitu ingin bertemu dengan mereka kembali dan merenda kembali jalinan kisah indah di masa lalu...

Dari Bukan Siapa-siapa Menjadi Siapa

Pada perjalanan waktu dan tempat yang sedemikian telah berlalu hingga sekarang ini kemudian diri menyadarinya, terasa sedemikian berkelumitnya kehidupan. Di tanah pijakan perantauan yang baru ini, diri masih ingat betapa dulu bukan siapa-siapanya diri.

Dapat diibaratkan pada suatu parodi pementasan bahwa tokoh yang diemban diri ini pada awalnya hanyalah sekadar penghias latar belaka. Dialog dan aksi pemeran dalam parodi tersebut kian lama kian menambah perbendaharaan makna dalam diri.

Lalu, lihatlah sekarang ini. Pada saat sekian lamanya waktu yang terasa begitu cepat dijalani, nyatanya tokoh itu bukanlah sekadar penghias latar lagi. Ia kini telah menjadi siapa. Ia kini telah menjadi lakon utama yang menghidupkan seluruh adegan pada skenario yang sudah ditentukan. Dia menjadi sosok Sang Penjaga Harta.

Dan dalam menjalaninya sementara waktu yang baru sebentar ini saja, sudah sebegitunya pula rasa rindu rupanya mulai menjangkiti pada diri. Rindu akan menjadi seseorang yang bukan siapa-siapa, rindu untuk menjadi seseorang yang tak begitu mempunyai peran penting, rindu akan betapa banyaknya kesempatan yang dapat diri peroleh dengan kebukansiapa-siapaan itu.

Menelusuri kembali perjalanan transisi itu, ah rasanya diri tak lagi mampu menyangka. Betapa kehidupan ini sungguh tak bisa ditebak-tebak. Menjalaninya terasa penuh dinamika dilalui. Namun, jelasnya pada satu kesimpulan yang harusnya dapat dimaknai sedalam-dalamnya, bukankah dengan peran bukan siapa-siapa atau pun menjadi seorang siapa pun semuanya ada hikmahnya bukan?

Membendung Rindu

Semuanya kemudian berkumpul menjadi satu. Satu rasa rindu akan sesuatu kemudian turut bergabung dengan satu rasa rindu pada suatu hal lainnya. Ibarat anak sungai yang bercabang-cabang kemudian ia berkumpul pada satu muara yang besar. Rindu itu pun berkumpul dan membentuk suatu hal yang sedemikian besarnya.

Sedemikian besarnya itulah kemudian yang seharusnya menjadikan ia perlu dibendung. Keinginan untuk menunaikan rindu itu bukanlah suatu hal yang mudah. Penuh aral yang melintang dalam upaya diri untuk dapat melakukannya. Tak semudah membalikkan tangan rasa-rasanya. Maka, diri perlu untuk membendung rindu. Menjadikannya tertahan akan suatu bentuk bendungan yang dapat menampung semua luapan rasa rindu itu...

Biar... Biarkan rindu itu terbendung... Paksakan diri untuk dapat menampungnya dengan baik... Semoga bisa...

Painan, 11 Januari 2012, 23.20

28 komentar:


  1. Pernahkah…

    Saat kau sedang sedih.. rindu.. tetapi tidak ada orang di sekitarmu yang dapat kau jadikan tempat curahan hati? Itulah saatnya di mana Allah… sedang rindu padamu dan ingin kamu berbicara padanya… (QS 12:86)

    BalasHapus
  2. [oot] entah kenapa, saya lebih menikmati jurnal anas kalo dibaca via mobile web. hehe... ^^v
    tapi membaca tulisan ini sukses membangkitkan kerinduan2 yang mungkin seharusnya saya bendung juga :)

    BalasHapus
  3. pulanglah mas,
    #loh
    eh, sy br k pekalongan loh, kemarin. mampir semarang juga (lagi).
    *truskenapa? hehhe
    *gapenting

    BalasHapus
  4. semoga bendungannya kuat :-)
    hingga waktunya

    BalasHapus
  5. semoga suatu saat nanti Nanaz bs kembali kesana. to your hometown ;-).
    saya aja kalau dah umur 40-an mau minta mutasi ke Bekasi ;-)

    BalasHapus
  6. home is where the heart is, dan rumah memang selalu menenangkan ya..

    ga ambil cuti to? kayaknya banyak anak2 djpb yg udah mulai ambil cuti di awal taun ini..

    BalasHapus
  7. Panjaaang~

    Belum bisa cuti buat balik ke salatiga?

    BalasHapus
  8. tulisan khas anas, banyak kosakata 'diri' nya..

    semoga dimudahkan urusannya, dan bisa pulang :)

    BalasHapus
  9. sama2 pengen pulang salatiga nih y.. entah kapa bisa ke sana lagi

    BalasHapus
  10. Haryooooooooooooooooo.....
    tertohok buangeeeeeeeeeeeeeeeds..... bener juga ya... mungkin sekarang kondisinya sedang begitu huhuhu

    BalasHapus
  11. Kak Ai...
    masak sih? bukannya kalau via mobile itu jeda antarparagrafnya ndak keliatan? ini nih yang saya ndak tahu gimana cara buat bikin jeda di MP via mobile.. emang sih buatnya ndak langsung di compose jurnal melainkan copas dari word

    berarti emang rindu itu sesuatu hal yang wajar kan ya? ah kehidupan, tak bisa kita ulang lagi dan benar-benar merasakan fragmen kehidupan yang indah kembali

    BalasHapus
  12. Ziyy...
    aaaaaaaaaah I wish could do that...
    waktu dan biaya jadi kendala yang bikin kepikiran mulu
    weleh weleh ni ada java round trip toh rupanya, kapan nih sumatera round tripnya? katanya kan pengen ke Aceh tuh, jangan lupa Ranah Minang juga dikunjungi hehehe

    BalasHapus
  13. Mas Rifki...
    Allahumma aamiin... untuk membangunnya perlu tekad yang kuat dan yap pengennya menjadikan arus deras rindu itu mentransformasikan dirinya menjadi energi positif untuk berkarya di ranah perantauan

    BalasHapus
  14. Mas Dedy...
    Allahumma aamiin.... keinginan besar sekali tuh... bersama dengan teman seangkatan dan sedaerah dengan saya yang kini penempatan di Masohi, Kepulauan Maluku pun kami punya impian itu... membangun dan berdedikasi untuk kemajuan daerah asal kami...
    Allahumma aamiin pula untuk keinginannya Mas Dedy, tapi emangnya ada kantor cabang di Bekasi toh? *bingung*

    BalasHapus
  15. Ifa...
    wuaaaa kutipan yang kereeeeeeeen... yup memang pada salah satu inti tulisan ini ya terkutip seperti itu...
    ah masalah cuti ini menjadi dilemma tersendiri... bagaimana tidak?
    walau sudah jelas ada haknya, tetapi dengan kewajiban rutin sebagai bendahara baru di kantor sepertinya tidak akan menjadikan saya diperbolehkan berlama-lama meninggalkan kantor :(

    BalasHapus
  16. Mas Tofan...
    khas gue gitu lo hehehehe...
    tapi rasa-rasanya saya terlalu mempermainkan kata sehingga terkesan terlalu menjabarkan sesuatu yang sebenarnya bisa diringkas bukan? ah saya emang sulit banget deh kalau disuruh untuk meringkas heuheuheu...
    huhuhu sepertinya belum boleh, soalnya atasan agak sensi sama saya kalau keseringan pulang kampung dan minta izin, apalagi saya belum mahir dengan profesi baru sekarang ini

    BalasHapus
  17. Mbak Ute...
    mbake kan pernah bahas ketidaksukaan untuk menggunakan kata sapaan "aku"...
    nah, saya juga rasa nggak nyaman memakai kata itu, entah kenapa rasanya tuh begitu kuat egonya...
    jadilah kata "diri" yang sering nongol tanpa saya sadari...
    Allahumma aamiin... jelasnya memang harus menunaikan kewajiban kerja dulu barulah kemudian insya Allah atasan akan memperbolehkan hak cutinya saya

    BalasHapus
  18. Mbak Ifa...
    loh sekarang mbake hijrah ke mana to emangnya? sudah lama tak balik salatiga to? keluarga besar masih di sana juga kan ya...
    emang salatiga itu ngangenin rasanya

    BalasHapus
  19. bagiku konsep rumah ini ternyata tidak melulu tentang ujud fisik, geografis, atau tentang suatu tempat yang statis bergeming di satu titik. ia bergerak bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang... maka rumahku ini selalu berpindah-pindah nas...
    kadang di Majalengka, kadang di Bandung...tergantung dimana saat itu Emak-ku tengah tinggal :D

    BalasHapus
  20. yo makanya itu... kotanya jadi dirindukan... la wong ibuku terus di salatiga kok... ndak pindah2.... jadi ya intine sih asline keluargalah yang dirindukan....

    huhuhu cie yang tempat dirindukannya banyak dong berarti... apalagi kalau sudah ada mertua *ops

    BalasHapus
  21. ayo, tunggu surat panggilan dari pusat sajo lah..

    BalasHapus
  22. sangat menanti bimbingan teknis jaringan, diklat bendahara pengeluaran, dan diklat2 lainnya nih...

    menambah ilmu (sebelum nanti bener2 kuliah) dan juga ya kesempatan jalan2 hehehe

    BalasHapus
  23. sampai sekarang masi bingung, bedanya salatiga, solo, ama surakarta apa ya?

    BalasHapus
  24. Faziazen...
    kalau salatiga itu kota yang ada di antara Semarang dan Surakarta (Solo)...
    nah, surakarta dan solo itu merupakan satu kota yang sama begitu...

    BalasHapus
  25. oo begitu..makasih atas penjelasannya :)

    BalasHapus
  26. sama-sama.. bolehlah kalau jalan2 juga ke sana... kan melewati doa kota besar di Jawa Tengah tuh :)

    BalasHapus
  27. bisa jadi sih... itu kan untuk rindu yang keluarga... kalau rindu temen2 gimana tuh :(

    BalasHapus