Selasa, 29 November 2011

[PR] dulu sewaktu aku masih SD

Okelah wahai Ustadz Al-Lansany a.k.a. bung Maman, kali ini perkenanlah ambo untuk bacarito tentang dulu sewaktu ambo masih SD hohoho. Sumonggo juga buat para Mpers yang sudi membaca cerita panjang ala saya, silakan dinikmati ala kadarnya hihihi.

Jadi sebelumnyo, perlu diketahui bahwasanyo *merek pompa kali hihihi* saya tuh dapat tugas berantai dari Ustadz Al Lansany untuk membuat tulisan mengenai kisah SD buat yang kena timpukan ini. Well, sepertinya di MP ini masih jarang kan ya tugas tentang SD ini *atau saya yang emang ketinggalan update yo*, keknya saya baru tahunya tugas berantai ini di ranah perhelatan teman-teman blogger saya dari wordpress.

Guna memulai carito nan panuah memori lugu-lugunya jaman masih kecil dulu, ya saya perkenalkan dululah SD saya tuh di mana. Saya menjalani pendidikan sekolah dasar selama 6 tahun di suatu SD bernama SD Negeri Ledok 2, Salatiga. SD yang terletak di Jalan Veteran no. 45, Salatiga, suatu SD yang mesti dilewati pada rute Semarang-Solo. Nah, rumah saya yang beralamat di Jalan Veteran no. 29 tentulah hanya berjarak kira-kira 200 m saja dari sekolah itu. Jadilah pulang-pergi ke sekolah ya jalan kaki gitu biar sehat hihihi.

Hmmm kalau disuruh menguak memori lama tentang masa SD agak susah juga ya sebenarnya. Wong udah berbelas-belas tahun (hihihi belum berpuluh-puluh kok ya) sudah terlewat masa-masa lugu itu. Jelasnya sih emang ada beberapa poin yang masih kentara begitu teringat di memori kalau disuruh ingat tentang SD. Yap, tanpa berpanjang lebar *eh udah panjang deng*, here there are...  

Ranking Itu Sesuatu

Bagi kebanyakan anak-anak di jaman pendidikan dasarnya biasanya dipacu untuk bener-bener berprestasi oleh orang tuanya. Prestasi itu ya salah satu tolok ukur yang jelas adalah bagaimana si anak dapat meraih ranking terbaik di kelasnya.

Lalu bagaimanakah dengan saya? Hahaha sebenarnya sih orang tua saya bukan tipikal yang menggenjot anak-anak mengerahkan segala potensi untuk meraih apa yang dinamakan ranking-ranking itu. Saya pun pribadi sebenarnya tidak sebegitunya ngebet untuk menjadi ranking satu di kelas awal mulanya *kalau ndak salah inget sih hehehe*.

Hm lalu dengan pola seperti itu apakah menjadikan saya dulunya anak yang beranking biasa atau malah ndak dapat ranking sama sekali? Tak dinyana rupanya semenjak kelas 3 SD kalau ndak salah tuh ya alhamdulillah ya saya tuh dapat ranking terus, minimalnya 3 teratas sekelas. Awal mulanya kelas 1 dan 2 SD mah kalau saya liat balik di rapot SD bahkan pun ndak dapat ranking lo hihihi.

Lah kok bisa menjadi seperti itu? Hm kalau saya analisis sih sepertinya jaman dulu itu *pun hingga sekarang* saya tuh orangnya termasuk yang mbakyu-sentris atau istilah bekennya sister-complex (mung ndak sebegitunya parah mpe kelainan jiwa lo ya) dan karena mbakyu saya tuh emang SD-nya dulu pinter dan ranking terus, ya saya pun secara alamiah meneladaninya. Sepertinya cara dan pola belajar saya tiru dari dirinya. Jadilah yo wajar kan kalau adiknya sepinter mbaknya hehehe.

Kemudian analisis yang kedua adalah karena saya jaman SD dulu freak bangetlah sama yang namanya buku. Saya demen baca buku-buku pelajaran dan itu entah bagaimana bisa rasanya itu benar-benar menyenangkan *hahaha beda banget kalau udah gedhe ya, baca satu buku aja ndak kelar-kelar ~_~a*. Saya juga termasuk yang lumayan rajin bolak-balik perpustakaan buat pinjem dan baca buku, bahkan pun kalau ndak salah tuh keknya ada buku yang belum dibalikin dan ilang deh hohoho. Yap, when the gate of knowledge (which is reading the books) is opened up, there will be a lot of advantages that we can take, right?

Namun, kalau ndak salah inget tuh dengan adanya posisi beranking atas ini tuh pernah bikin saya lumayan ambisius untuk mempertahankan dan juga jadi terlampau agak kompetitif gitu. Akan tetapi sih ya, masih dalam hal yang wajar sih, ndak sebegitunya sampai menyulut persaingan tak sehat. Intinya sih yo ada kemauan yang kuat untuk menjadi nomor satu dan seketikanya ada yang lebih unggul, yo ndak mau disabet lagi. Ah, padahal ranking itu sebenarnya apa sih, kan utamanya ya sebenarnya penguasaan ilmu dari apa yang telah kita pelajari bukan?

Menjadi ranking satu pun hanya sempat terasa beberapa kali aja, selebihnya sih selalu nangkring di 3 posisi top jajaran teratas *halah bahasane melangit ~_~a*. Hahaha gak nyangka juga ya saya dulunya sepinter itu dan juga ya seambisius itu, huhuhu padahal gedhenya gini timpang jauh dah pokoknya, ya soalnya sekarang persepsi saya *walau belum menjalani proses pendidikan lagi* ranking itu bukan segalanya, yang penting yo gimana penguasaan ilmu yang saya utarakan tadi. Betul betul betul?

Bersahabat Itu Sesuatu

Sahabat, hm kata ini tuh beneran punya makna yang sebegitunya banget dah buat saya. Saking prestisiusnya itu, kadang saya merasa kok kayaknya saya terlampau menargetkan standar yang tinggi untuk seseorang dapat disebut sebagai sahabat bagi saya. Jelasnya pada setuju kan ya kalau cari sahabat itu hal yang susah kan? Ah, ndak selalu juga deng, cuman kalau saya sih ngerasa ya sulit J

Hm kalau diinget masa SD ya saya jadi teringat akan beberapa teman yang kemudian sempat pernah saya anggap sebagai sahabat. Dulu sih waktu masih SD gitu ya standar sahabatnya ndak sebegitunya tinggi kek saudara Nanazh yang udah gedhe ini. Dulu bagi saya keknya yang saya anggap jadi sahabat adalah teman yang punya chemistry klop dengan saya dan rasanya selalu menyenangkan bareng sama dia, itu simplenya.

Alkisah jaman SD dulu kala, tersebutlah ada seorang teman. Dialah teman saya yang saya anggap punya chemistry sebagai sahabat itu tadi. Setiap kali maen bareng sama dia tuh rasanya seneng dan juga kalau ngobrol pun bisa ke mana-mana. Kami pun sering duduk sebangku. Namun, kisah persahabatan kala SD ini tak hanya tentang suka saja, tetapi ada dukanya, malah meninggalkan permusuhan ala anak kecil yang kalau diinget tuh duh dudulnya ngapain harus pake musuhan segala hahaha. Namun, permusuhan itu *saya lupa apa penyebabnya* mah hanya berlangsung setahun-dua tahun (lama dong ya ~_~a) dan hingga sekarang alhamdulillah hubungan saya dengannya masih baik-baik saja, pun bahkan sampai SMA pun kami satu sekolah hohoho.

Hmm... Ya kalau mengenang kisah masa SD itu tadi jadinya ya mengenang bahwa saat itulah awal mulanya dapat memahami bahwa menjalani proses persahabatan itu penuh lika-liku. To find someone as your bestfriend is not an easy thing *opini saya pribadi lo ya berdasar pengalaman hehehe*

Lomba Itu Sesuatu

Karena dulu si Nanazh kecil anaknya lumayan berprestasi dan sering rankingnya bagus gitu ya sering juga tuh disuruh untuk ikutan lomba, utamanya yang terkait dengan ilmu pengetahuan. Kalau tidak salah waktu itu kelas 5 SD, saya diminta untuk mewakili sekolah pada perlombaan Mapel Ilmu Pengetahuan Sosial tingkat Kota Salatiga dan Sekitarnya. Waktu itu dengan didukung kebiasaan baca yang saya pun akan heran untuk mengkilas-balik ke masa-masa itu, saya tuh udah saking ngelothoknya (di luar kepala, red.) hafalan dan pemahaman mengenai ilmu pengetahuan sosial materi SD.

Saya pun berusaha mengerahkan kemampuan terbaik saya, walau yo ndak sebegitunya juga sih ngoyo persiapannya buat lomba *ndak kayak sestresnya pelatihan olimpiade masa SMA pokoke*. Alhamdulillah pada perlombaan tersebut, saya menjadi juara kedua tingkat Kota Salatiga dan Sekitarnya. Huhuhu ndak nyangka banget dah waktu itu.

Tambah nggak nyangka lagi waktu awal kelas 6 SD, saya diminta untuk mewakili SD lagi untuk lomba Siswa Teladan tingkat Kota Salatiga dan Sekitarnya. Wuiiih yang ini tambah lumayan kompleks dari lomba mapel IPS sebelumnya. Karena apa? Karena pada lomba ini tidak hanya mengenai penguasaan kognitif keilmuan saja, tetapi juga aspek soft-competency seperti bakat dan keahlian di bidang tertentu. Huhuhu padahal untuk kognitif aja itu kudu menjawab soal dari semua materi pelajaran SD lo hohoho.

Yang jelas saya ingat betapa saya dipersiapkan secara ekspres, kilat, instan untuk perlombaan itu, utamanya terkait soft competencynya. Saya diajari untuk membuat rangkaian bel elektronika.Saya diajari untuk dapat menari dasar-dasar tarian jawa. Saya diajari untuk menghafal gerakan senam SKJ ala SD. Saya diajari untuk memainkan alat musik (waktu itu seruling). Semuanya itu dalam waktu yang sangat singkat.

Hohoho dan bagaimanakah jadinya saat lomba berlangsung? Alhamdulillah sih semuanya lancar, cuman yang paling lucu itu di bagian memainkan alat musik. Saya masih ingat betapa saking gugupnya saya lupa not-not musik dan akhirnya ngasal mainkan serulingnya hohoho. Saya juga masih ingat kalau dulu tuh waktu ganti baju buat senam SKJ, saya tuh sempat terkunci di kamar ganti tempat lomba hahaha.

Hmm proses yang kompleks itu tak dinyana hasilnya membuat saya kaget tak terkira. Karena apa? Saat pengumuman lomba, ternyata saya menjadi juara 3. Padahal ya dengan sesi alat musik itu sebelumnya udah membuat saya pesimis berat.

Perlombaan jaman SD ini entah kenapa ya saya kok lebih menganggap keberhasilan itu sebagai suatu keberuntungan, bukan atas hasil perjuangan saya dalam meraihnya. Wong sebenarnya juga kalau ndak salah inget, saya anaknya yo manut-manut aja dan ndak sebegitunya ngotot pengen menang. Ikut lomba aja udah menjadi suatu kebanggaan, apalagi ada beberapa teman saya se-SD yang lebih layak untuk mewakili SD dalam perlombaan ketimbang saya hehehe.

Bermain dan Belajar Bersama Itu Sesuatu

Bagian inilah yang paling mengenang dari apa yang masih bisa saya ingat tentang masa SD, masa belajar dan bermain bersama. Sungguh suatu memori yang menyenangkan saya bisa dipertemukan dengan teman-teman masa SD yang sangat akrab satu sama lain. Pertemanan kami tidaklah hanya saat berada di sekolah saja, tetapi seringnya malah saat berada di luar sekolah.

Sepulang sekolah atau saat hari libur, kami biasanya akan berkumpul di suatu tempat yang sudah dijanjikan dan kemudian doing the children’s game hehehe. Saya udah lupa apa saja sih yang sering dilakuin dan dimainkan bersama saat kumpul bareng itu. Akan tetapi jelasnya,kalau saya mengingatnya, ya rasanya itu hal yang menyenangkan, itu saja hehehe.

Dan juga yang menjadi hal paling diingat adalah saya menjadi tuan rumah dari perkumpulan teman-teman saya sekelas itu. Karena dekatnya rumah saya dengan SD dan juga halaman rumah yang lumayan luas, jadilah arena bermain yang menyenangkan buat Nanazh kecil dan teman-temannya ini. Ada beberapa teman saya yang asyik bergelayutan memanjat pohon rambutan rumah saya, ada yang berkumpul bersama menggelar tikar di halaman terbuka sambil bercerita ria, dan banyak hal yang dilakukan (dan saya lupa ~_~a).

Menjelang masa-masa akhir SD, teman-teman saya jadi semakin intens berkumpul. Akan tetapi, kali ini bukan untuk bermain, tetapi untuk belajar bersama menjelang ujian akhir (atau istilahnya dulu EBTANAS kan ya). Yap, belajar bersama di masa SD kala itu memang suatu hal yang menyenangkan kalau caranya begitu J

Nomor Satu Itu Sesuatu

Finally, the last part, but not least. Bagian akhir dari kisah saya di SD adalah saat saya mencapai prestasi NEM (Nilai Ebtanas Murni yo kalau ndak salah) tertinggi se-kota Salatiga dan sekitarnya. Bener-bener dah masa SD itu buat saya jadi tanda tanya besar, kok ya bisa sebegitunya encer yo otak saya waktu itu huhuhu ndak kayak sekarang hehehe.

Saya masih ingat skor NEM saya waktu itu, 48,40 dari skor sempurnanya 50 (akumulasi dari 5 mata pelajaran dengan nilai tertinggi 10). Sungguh itu pun nilai yang bikin saya melongo pertama kali mendapat informasi tentang itu. Wong kayaknya ngerjainnya ya biasa-biasa aja, ndak gampang banget yo ndak susah banget. Pada skor 48,40 itu saya mendapat skor sempurna untuk 3 mata pelajaran (Matematika, IPA, dan IPS), satunya 9,2 dan satunya lagi 9,0 (untuk dua ini saya lupa apa mapelnya). Wuiiiiiih keren kali kan ya si Nanazh kecil itu.

Hahaha begitulah kalau mengenang kejayaan masa lalu, bisakah terulang lagi ndak ya? Hm kalau mau berjuang keras sih bisa. Akan tetapi ya, kalau dipikir-pikir sebenarnya perlu ada sesuatu yang lain untuk bisa menggapainya kembali. Sesuatu inilah yang kemudian hilang saat saya beranjak ke SMP. Prestasi saya tidak lagi secemerlang waktu SD, malah bisa dibilang meredup. Hal ini sepertinya karena saya kehilangan sesuatu, sesuatu hal yang menyenangkan tiap kali saya berkutat dengan pelajaran. Nuansa SMP begitu berbeda dan aroma kompetisi begitu kuat sejak awal, apalagi saya masuk ke SMP terbaik di kota Salatiga waktu itu (berkat NEM tertinggi itu tadi). Malah sempat pula minder rasanya gabung sama anak-anak terpintar seantero kota hohoho.

Reuni Itu Sesuatu

Dan kini sudah berselang belasan tahun terlewat dari masa SD itu. Ada memori yang masih teringat, ada juga yang terlupakan. Namun, sosok-sosok yang dulu ada pada masa SD itu sekarang masih ada. Teman-teman saya beranjak dewasa dan mempunyai jalan hidupnya sendiri (termasuk saya yang jadinya merantau ke Ranah Minang ini huhuhu).

Reuni menjadi satu hal yang rasanya begitu berbeda. Ah, semuanya telah berubah. Teman-teman tak selugu jaman dulu lagi. SD saya pun kini tak sesederhana jaman saya lagi, sudah ada banyak perbaikan fasilitas di sana-sini. Guru-guru pun sudah banyak yang beralih karena sudah purna tugas atau pun ada juga yang masih bertahan namun beliau sudah tampak begitu berumur.

Saya mengikuti reuni SD baru satu kali hingga sekarang semenjak lulus dari SD tahun 2001. Waktu itu kalau tidak salah ketika saya dan teman-teman baru saja lulus dari SMA. Ada beberapa teman yang berinisiatif untuk mengadakan reuni kembali di SD dan menemui guru-guru yang masih dikenal. Saya pun sangat mengapresiasi undangan ini dan yap sungguh reuni kala waktu itu terasa begitu sesuatu.

Aaaaah jadinya kalau mengenang masa SD itu ya dulu sewaktu saya masih SD sungguh sesuatulah pokoknya. Undescribeable, keknya butuh lebih banyak halaman lagi untuk menceritakannya hahaha *dan jelasnya ni bukan disengajakan untuk niru ala syahrini lo hohoho*

A great pleasure and memories to remind you all... Ari, Angga, Galih, Wintan, Sarmi, Santi, Herning, Rista, Antok, Anton, Firdaus, Yusuf, Deva, Emma, Septian, Indah P, Indah W, Zakki, Nihan, Sigit, Warid, Uun, Beta, Novi, Tania, Winne, Nina, Frisma, Fajar, Luki, Susi, Rifa, Cecil, Agung ...

To all teachers, such a great salute and thanks for you having teach on me and my friends before... Pak Joko, Bu Niniek, Bu Sri, Pak Tris, Bu Anjar, Pak Basroh, dan bapak-ibu lainnya yang maafkan saya lupa namanya, tetapi sosoknya masih ingat kok huhuhu...

Well, this is my long story as usual. How about your SD’s story? Hahaha baiklah karena fitrahnya tulisan ini tulisan berantai yo saya timpukkan saja kepada semua yang baca jurnal postingan saya kali ini. Okeeeeeh?!!! Hehehe ditunggu ngerjain Prnya ya...

Painan, 29 November 2011, 23.41

47 komentar:

  1. wuih, itu kan tahunku lulus SMA.
    coba kalo kita udah ketemu tahun 2001 itu, aku njitakin kamu deh.

    BalasHapus
  2. Jyah, ujung2nya kena timpuk. Setelah baca ini jadi pengen cerita juga sih. Tapi nanti2 lah..

    Sy dulu juga brother complex. Dulu pas kelas 2, abang kelas 6. Suka main2 ke kelas abang. :D

    BalasHapus
  3. waduhh.. kesan pertama begitu menggoda...awalnya saya terkesan dengan kejeniusan anas pas SD..
    pas ke bawah.. kok ada tulisan penimpukan massal...
    nyesel tadi komen sampai 3x.. --"..
    but nice share.. :D

    BalasHapus
  4. Saya udah pernah nulis hal ini. :-D
    Mas Anas saja yang gak update. Xixixix

    BalasHapus
  5. sbelum kena timpuk udah cerita duluan....xiiixixiixixi.... cek sendiri deh :-)

    BalasHapus
  6. jangan dong, pak Ali yang baik hati... kan kasihan tuh si Nanazh kecil yang otaknya sangat encer saat itu... nanti jadi apa coba setelah dijitak hihihi

    BalasHapus
  7. mengalir kok bikin tulisannya dan juga jadi mesam mesem sendiri inget kenangan jadul....

    weeeeh ada yang kena brother complex toh... well, emang wajarnya gitu kali ya...
    ditunggu buat PRnya

    BalasHapus
  8. satu dua tiga.... sayang semuanya horeeee...

    *menjadi anak SD seketikanya nulis comment hohoho*

    BalasHapus
  9. kalau empat-empat terus sayang siapa ya? hoooo

    BalasHapus
  10. luar biasaaaaaaa... anda memang oukeeeeeh punya
    *malam2 ngalong banget yaks*

    BalasHapus
  11. terkesan? duh biasa aja kali sebenarnya.. semua anak pun bisa mengalaminya kalau memang dia ditumbuhkan kecintaannya pada ilmu pengetahuan...

    hahaha... kalau udah sebegitunya comment yowis timpukane bakal kudu dikerjain sebegitunya pulaaaaaa wekekekekeke

    BalasHapus
  12. mungkin perlu diberi penekanan pada frase "saat itu."
    dengan garis bawah atau cetak tebal atau cetak miring, atau ketiga-tiganya.

    BalasHapus
  13. alhamdulillah yah (semuanya) sesuatu :))

    BalasHapus
  14. baru tau kalo kamu pas SD suka baca buku pelajaran. pantesan gedenya jadi kayak gitu..#tsahhh )
    sementara aku? pas kelas empat SD ndak bisa ngejawab apapun pas ditanya sama teman ttg cara belajarku, wong sama sekali ndak pernah belajar..ahaha
    kerjaanku kan cuma bermain-bermain, dan bermain...hihi

    BalasHapus
  15. huaaaaaa ternyata saya emang ketinggalan jaman... mungkin saking terpana dengan dunia kala waktu SD kali ya... wekekekeke

    tautannya dong, Uda... biar bisa dipromoin hihihi

    BalasHapus
  16. keknya udah lazim kok, mbak pakenya...
    saya aja barusan search digoogle dengan kata itu (hehehe) banyak juga yang make...

    artinya itu ya serupa kek tak disangka gitu

    BalasHapus
  17. eh ternyata aku juga pernah post
    http://tranparamole.multiply.com/photos/album/296/buku_saku_matematika

    *gak jadi kena timpuk

    tp ini topik asyik, bisa improve kapan2.

    BalasHapus
  18. aaaah Uda... tak apalah dikau membuat tulisan tentang masa kecilmu... mengasyikkan kok hihihi

    BalasHapus
  19. tautannya dong maaaaaas.... biar gak susah nyarinya hehehe *cari gampang*

    BalasHapus
  20. huhuhu baiklah saya sangat amat tak update rupanya

    BalasHapus
  21. yoyoyone pak ali tok sing pualiiiiiiiiiiiiiiiiiiing cerdas huuuuuuuuuuuu

    BalasHapus
  22. Saya juga cinta ilmu pengetahuan.. tapi kok kemampuan otak ini segini saja ya. --"
    btw. saya sudah punya cerita masa SD di MP. masih belum bisa ninggal linknya nih..soalnya masih online lewat HP..

    BalasHapus
  23. melengkapi PR saya.. klik disini.. sudah setahun lebih.. hehe
    tapi asyik juga mengenang masa SD.. Next time jika ada waktu saya nulis lagi..

    BalasHapus
  24. aih ada timpukan, bisa itungan taun ni baru dikerjain, itupun kalo inget. haha
    *bandel

    tapi kalo inget sd jadi inget temen2 geng saya, masi eksis lho sampe sekarang..

    BalasHapus
  25. Masa2 SD mrpkn masa yg mengasyikan. Masa belajar dan bermain serta mencoba petualangan baru tnp berpikir ttg resiko. Ah...jd ingin kembali ke masa lalu...

    BalasHapus
  26. wuaaaaaaa ni maafkeun terlambat replynya satu2... menjelang akhir tahun gini... hectic dah semuaaaaaaaaa

    BalasHapus
  27. Mbak April...
    hihihi tu kan... ndak maksud mau menyaingi artis yang Jambul Khatulistiwa itu

    syahroni mode ON aja hihihi
    gimanakah ni kisah mbak? adakah pernah terutarakan *halah

    BalasHapus
  28. Maman...
    ha???? gedheku emang kayak gimana? tambah encer otaknya ya? hohoho harusnya mah gitu kan ya...
    tapi kok malah sebaliknya nih huhuhu...

    cieeee masa kecil sangat amat berbahagia nih ye maen terus hohoho

    BalasHapus
  29. Uda Romi..
    huaaaaaa beneran deh saya gak update...
    hohoho kerasa asyiknya beneran to... makasih yo langsung improve seketikanya...
    uda Romi mah emang update punya

    BalasHapus
  30. Rama...
    wueeeee kenapakah dipertanyakan? bener-bener seorang "uda ranah minang" kan ya...
    hohoho baiklah saya akan berkunjung...

    maksudnya dipromoin di mP saya ni hehehe

    BalasHapus
  31. Haryo...
    cinta mah tak akan dapat dikuantifikasikan lah yaow hehehhe
    tak serta merta harus dapat dinilai *halah..
    jadi ya semoga teteup cinta dengan ilmu pengetahuan aja deh :)

    huhuhu udah berkunjung lo... ternyata dirimu seperti itu ya hohoho...
    karena ini timpukan baru, ya ayo buat lagi tuh kisahnya...
    keknya masih banyak kisah belum terungkap nih ye hihihi

    BalasHapus
  32. Ifa...
    ho? la kok sampai sebegitunya... mau diutarakan kisah dari kelas 1 mpe kelas 6 yo?
    emang bakalan jadi bertahun2 tuh ngerjainnya hohoho
    hmm... saya malah udah lost contact dengan mereka... paling ya tahu kabar dari grup fb sih dan belakangan ini kurang eksis grupnya

    BalasHapus
  33. Mas Dedy....
    aaaaaaaaah mas Dedy... yayayaya bikin tulisan ini emang jadi bikin kepikiran hal yang sama...
    ngepas belakangan ini illfeel juga dengan dunia orang dewasa...
    pengen childish aja huhuhu

    BalasHapus
  34. kelak, kalau sudah tua, kita akan kembali ke masa itu. jd kekanak2an lg hehe...

    BalasHapus
  35. Mas Dedy...
    ho? masak? dengan adanya anak2 kita gitukah? wedew...
    hehehe mas jangan lupa ya dapat timpukan... dikerjain ya hihihi

    BalasHapus
  36. hohoho yaiya dong kadik...
    kan Nanazh kecil begitu memukau prestasinya jaman dulu hohoho...

    BalasHapus
  37. hohoho resmi ketimpuk ya Mbak Raya.....
    siapkan ceritamu hihihihi

    BalasHapus