Rabu, 22 Juni 2011

out of scenario to painan

Rencana Skenario Semula

Tanggal 19 Juni kemarin menjadi tanggal yang saya beserta teman saya rencanakan untuk berangkat ke Painan, Sumatera Barat. Rencananya kami akan berangkat menggunakan penerbangan jadwal sore. Mengapa sore? Karena kami hendak berangkat bersama menuju Painan dari Padang dengan salah seorang pegawai yang juga ngepas sampai di Padang dari Medan (juga menggunakan pesawat) kira-kira waktu tersebut.  Tenggat waktu untuk kami lapor dan memulai aktivitas di kantor yang baru berdasarkan instruksi Bagian Kepegawaian adalah tanggal 20 Juni. Jadi, bisa dibilang cukup mepetlah kami berangkatnya hehehe.

Nantinya kemudian kami menempuh perjalanan bersama dari Padang ke Painan melalui jalur darat dengan jemputan dari sopir kepala kantor. Saat berkomunikasi dengan pegawai di sana, kami ditawari untuk pergi bersama ke Painan dan juga ada jemputan dengan menggunakan mobil kantor itu tadi. Perjalanan akan ditempuh selama sekitar 2 jam. Setibanya di sana, kami akan menginap sementara waktu di hotel/penginapan yang ada di dekat kantor. Dengan estimasi kedatangan di Painan pada saat malam hari, maka dibutuhkan tempat menginap segera untuk kemudian keesokan harinya kami mulai ngantor pertama kali.

Kami meminta bantuan sebelumnya untuk dicarikan penginapan oleh pegawai yang berangkat bersama kami menuju Painan. Alhamdulillah beliau bersedia dan akan membooking kamar untuk kami di sana. Transportasi dan penginapan sementara menjadi dua hal penting yang harus kami perhatikan dan cari yang paling efisien dan efektif dalam hal perpindahan domisili seperti ini menuju tempat baru.

Tiket pesawat pun kemudian telah dibooking dan juga diissued langsung pada tanggal 19 Juni 2011 penerbangan pada pukul 16.10 dari Bandara Soekarno-Hatta menggunakan maskapai Sriwij*ya Air. Asumsi perjalanan lancar, maka kami akan tiba di Bandara Minangkabau, Padang, pada pukul 17.45 dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan bersama pegawai yang sudah janjian bareng tadi dan naik jemputan dari mobil kantor. Sampai di Painan, kami langsung menuju penginapan, berberes dan berbenah diri untuk esok harinya, hari pertama berkantor di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Painan.

Realisasi Skenario yang Terjadi...

Hari Ahad itu pun akhirnya terjadi jua. Sejak pagi hari itu, saya sudah berada kembali di ibukota. Tenggang waktu yang diberikan kantor pusat untuk jeda peralihan kantor terhitung sepekan sejak pengumuman penempatan. Dalam tenggang waktu tersebut, tentunya lebih afdhol apabila saya pergunakan untuk kembali ke rumah saya di Salatiga dan pamitan kepada seluruh keluarga. Saya berada di Salatiga sejak hari Selasa hingga Sabtu pekan itu. Sabtu pagi saya menempuh perjalanan via bis dan kereta Salatiga-Semarang-Jakarta untuk kemudian pada hari Ahad sore berangkat ke Painan.

Selepas sholat Dhuhur hari itu, saya langsung menuju ke Bandara Soekarno-Hatta dari kos saya yang ada di daerah Rawa Tengah. Asumsi saya saat itu kalau terjadi macet dalam perjalanan dan jua mengejar agar tidak ketinggalan check in nantinya. Ternyata... Alhamdulillah jalur yang saya lewati menuju bandara kala waktu itu begitu lancar, sehingga saya sampai di bandara lebih cepat dari apa yang saya semula perkirakan.

Karena datang lebih awal, maka saya yang menunggu kedatangan teman saya di area sekitar depan pintu keberangkatan terminal 1B. Selang beberapa waktu kemudian akhirnya teman saya datang bersama keluarga yang mengantarnya. Sempat saya bercakap-cakap dengan keluarga teman saya itu karena baru pertama kalinya saya bertemu dengan mereka. Mendekati waktu check in, kami pun kemudian beralih segera memasuki pintu keberangkatan dan menjalani proses check ini.

Barang saya waktu itu lumayan banyak. Ada satu koper besar, satu tas jinjing, dan satu tas punggung. Sehubungan dengan bagasi cuma-cuma, sebagaimana ketentuan yang tertera bahwa barang maksimal 20 kg dapat langsung masuk bagasi tanpa tambahan biaya, melebihi itu ya bayar tambahan biaya per kg-nya. Nah, yang sempat bikin saya pusing untuk packing barang bawaan ini adalah bagaimana caranya agar barang saya ini muatannya tidak lebih dari 20 kg agar gak kena charge lagi hehehe. Nyatanya barang-barang saya itu kalau ditotalkan beratnya bisa lebih dari 20 kg. *Duh emangnya saya bawa apa aja sih, perasaan biasa aja tuh.*

Saat berada di counter check in, alhamdulillah ternyata koper besar saya yang akan dimasukkan di bagasi tidak terkena tambahan biaya. Nyaris sedikit lagi kena, 19,8 kg he. Hufh itu hasil penyiasatan barang-barang saya diatur di sana sini. Sungguh packing yang ribet ~_~

Proses demi proses hingga ke ruang boarding pun kami jalani. Setibanya di ruang boarding B4 waktu itu, weuw ternyata seisi ruangan sudah terisi penuh dengan orang yang sama seperti kami, calon penumpang. Melihat daftar tunggu boardingnya, ternyata di ruang B4 itu ada beberapa penerbangan yang dijadwalkan mulai dari gate itu selain pesawat yang akan kami naiki. Jadi, maklum kalau jadi ramai seperti itu.

Waktu pun berlalu hingga menjelang pukul 16.00. Saat itu pengumuman-pengumuman yang tersiar adalah pengumuman sehubungan dengan penerbangan ke jurusan lain, entah kenapa info penerbangan kami kok belum ada. Karena sudah mendekati waktunya dan jua belum ada informasi, saya pun menanyakan perihal ini kepada customer service di sana. Jawabannya ternyata mengejutkan, penerbangan kami delay selama sekitar 40 menit. Wah, delay yang sudah saya berdoa sebelumnya agar tidak terjadi e ternyata terjadi jua ~_~

Syahdan, keterlambatan ini mengakibatkan waktu berpapasan saya dan pegawai yang janjian dengan kami dari Medan pun akan berbeda. Beliau pastinya sudah sampai terlebih dahulu di Bandara Minangkabau dan menunggu kami di sana. Wah, jadi tidak mengenakkan.

Menjelang pukul 16.50, masih saja pengumuman penerbangan kami belum ada. Yang ada malah pengumuman penerbangan jurusan lain yang sebelum-sebelumnya terkena delay selama 1-2 jam akan diberangkatkan. Wah, saat itu pikir kami, yang sebelumnya aja kena delay, bagaimana tidak yang penerbangan kami pun gak kena delay. Hadeuh...

Pengumuman pun akhirnya tersiar jua akan penerbangan kami, namun bukan tentang keberangkatan, melainkan informasi mengenai dibagikannya snack untuk seluruh calon penumpang pesawat Jakarta-Padang. Wah, snack sih emang bolehlah jadi service yang memuaskan, tetapi kok rasa-rasanya ni bakal ada delay yang lebih parah lagi.

Yap, hingga pukul 17.30 kalau tidak salah, ternyata ada pengumuman yang membuat geger seisi ruang tunggu kala itu. Penerbangan SJ-022 rute Jakarta-Padang mengalami keterlambatan hingga pukul 19.00 nantinya baru bisa diberangkatkan! Astaghfirullahaladzim... Kena delay yang lebih parah selama 3 jam nantinya.. Saat itu nuansa ruang tunggu penuh dengan ekspresi kecewa dan ada beberapa yang marah.

Saya hanya bisa mengucap banyak-banyak istighfar kala waktu itu. Apa yang kami alami ternyata di luar skenario yang sudah direncanakan. Saya pun menghubungi pegawai yang sudah janjian dengan kami dan menanyakan bagaimana sebaiknya. Saat itu pula kami mendapatkan kabar bahwa kami tidak jadi dijemput karena saat itu tiba-tiba sopir kantor sedang sakit.

Keputusan pun diambil. Malam itu kami akan menginap di kota Padang dan kemudian esok hari pagi sekali langsung berangkat menuju Painan. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa setibanya kami di bandara Minang kabau nantinya sudah terlampau malam dan sulit dicari transportasi menuju Painan dan juga disangsikan apakah ada penginapan yang masih buka di Painan selarut itu apabila kami langsung menuju Painan malam itu jua.

Bermalam di Kota Padang

Benar ternyata. Pesawat baru tiba pada sekitar pukul 19.00. Kami pun menaikinya dan baru sampai di Bandara Minangkabau pada sekitar pukul 21.00. Waktu itu alhamdulillah masih ada mode transportasi di sekitar bandara, yakni taksi. Masalah transportasi sudah dibereskan sebagian, kini tinggal memikirkan mengenai rencana penginapan.

Pegawai yang semula janjian bersama kami pun memberikan saran mengenai penginapan di daerah Padang, yaitu Hotel Benya*in. Kami menuju hotel tersebut langsung dengan taksi. Sekitar setengah jam perjalanan dari bandara menuju hotel.

Dalam perjalanan tersebut, tampak pemandangan malam hari kota Padang. Saya melihat di sepanjang jalan gedung-gedungnya berarsitekturkan bangunan khas Minang ala Rumah Gadang, khususnya pula untuk kantor-kantor pemerintahan. Kota Padang saat itu terasa sudah begitu lengang dan sepi. Mobil taksi melaju dengan lancar dan cepat menuju hotel tanpa hambatan karena jarangnya kendaraan yang lewat...

Perjalanan malam itu sungguh membuat kami lelah dan ingin segera beristirahat apalagi keesokan harinya kami sudah dikenakan kewajiban untuk berkantor di tempat yang baru. Jadilah sesampainya kami di sana, berberes ala kadarnya dan kemudian beristirahat.

Sebelum tidur, saya sempat dihubungi oleh pegawai kantor lainnya, seorang ibu-ibu. Beliau menawarkan perjalanan bersama menuju Painan dari Padang besok pagi. Beliau memang sudah sering bolak-balik Padang-Painan karena rumahnya ada di Padang sedangkan dinasnya di Painan. Karena keawaman kami mengenai medan dan transportasi Padang-Painan, akhirnya kami pun menyepakati untuk berangkat bersama. Ibu ini sebelumnya juga ternyata sudah dihubungi oleh pegawai yang batal janjian dengan saya untuk dapat memandu kami ke Painan

Menuju Painan

Berdasarkan kesepakatan kami dengan ibu yang tadi, maka kami sudah harus standby menunggu jemputan travel yang biasa digunakan oleh ibu tersebut pada pukul 04.30. Seusainya mendirikan sholat shubuh, travel pun datang dan menjemput kami. Travel pun berangkat dan kemudian menuju ke rumah ibu yang telah menghubungi kami untuk dijemput. Padang waktu itu masih begitu gelap dan dingin.

Kami pun bertemu dengan ibu tadi dan berangkatlah kami menuju Painan bersama. Perjalanan menuju Painan pada awalnya ditempuh dengan jalan berkelok-kelok menyusuri pinggiran daratan kota Padang yang langsung berbatasan dengan laut. Walau masih tampak gelap, tampak melalui kaca jendela pemandangan pinggiran daratan tersebut.

Perjalanan pun tak hanya dihiasi dengan pemandangan itu saja. Jalan yang kami lalui beralih dari pinggiran daratan ke tengah perbukitan yang begitu hijau dan masih asri. Pepohonan tampak begitu menyegarkan dan jua ada sungai-sungai mengalir dengan tenang. Sungguh alam yang sepertinya tak terjamah oleh keberingasan manusia hohoho... Walaupun jalan yang kami tempuh tak semulus yang terkira. Penuh kelokan dan jua jalanan yang masih sempit.

Kantor Baru

Selama sekitar 2 jam perjalanan, akhirnya sampailah jua kami di Painan. Kami langsung menuju kantor karena mengejar waktu hadir kantor pukul 07.30. Alhamdulillah kami sampai di kantor pada sekitar pukul 07.15. Sesampainya di sana kantor baru terlihat beberapa orang. Kami pun berkenalan dengan pegawai yang telah hadir dan bercakap sebentar untuk menunggu waktu lapor kepada kepala kantor.

Barang-barang kami yang begitu banyak langsung dititipkan di dalam kantor. Terlihat janggal memang pada awalnya. Mau bagaimana lagi, belum ada tempat yang tepat untuk kami menitipkan barang-barang tersebut. Hohoho kelihatan banget dah seperti ‘pengungsian’.

Kami pun dipanggil oleh Kasubbag Umum kantor dan setelah bercakap sebentar, kami diantarkan untuk lapor ke Kepala Kantor. Laporan kami kepada Kepala Kantor cukup lama, namun hal yang dibicarakan termasuk hal yang penting untuk kami ketahui seperti sharing pengalaman, pendidikan lanjutan, kedisiplinan, dan lainnya.

Seusainya dari laporan, kami pun diarahkan mengenai pembagian tugas dan struktur. Bismillah saya mendapatkan posisi sebagai petugas Front Office Subbagian Umum atau lebih lazim dikenal dengan CSO (Customer Service Officer). Awal mula jelaslah saya kikuk harus melakukan apa, selama magang kemarin, jarang sekali saya mendapatkan posisi di bagian ini. Jadilah perlu belajar banyak hal untuk memulai posisi ini.

Yap, begitulah perpindahan ini terjadi. Dari kantor satu ke kantor lainnya. Dari satu tempat tinggal ke tempat tinggal lainnya. Semula telah disusun rencana skenario yang menurut kami adalah yang paling efektif dan efisien. But the man just only can make the plan, the rest is in not our own control.

Teringat akan kutipan ayat yang dilantunkan saat sholat maghrib di Bandara Soetta.. “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Q. S. Ath Thalaq:2) dan ” Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Q. S. Al Ikhlas :2)... Sungguh sebegitunya kita kira sempurna skenario kita, kalau Allah Sang Maha Perencana dan Kuasa menghendaki skenario yang lain, maka skenario kita itu tidak ada apa-apanya... Begitulah... J

Painan, 22 Juni 2011, 15.49

34 komentar:

  1. wah jadi penempatannya di painan nih mas?
    painan kota kecil..pantainya cantik2 dan bersih, yang pasti nga akan ada macet :)

    BalasHapus
  2. Barang saya waktu itu lumayan banyak. Ada satu
    koper besar, satu tas jinjing, dan satu tas
    punggung.

    He2, banyak amat nas.

    BalasHapus
  3. iya mbak... baru ditempatkan di sana...
    wuah pernah maen ke sini ya... kok tahu hohoho....

    mbak di daerah Riau kan ya? hohoho semoga bisa berkunjung ke sana suatu saat

    BalasHapus
  4. panjaanng nas
    belum baca dulu ya
    tinggalin jejak dulu ^^

    BalasHapus
  5. salahkah daku?
    heuheuheu ngungsi banget yo

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah udah nyampe Painan dengan selamat.
    Langsung ngantor ya, pasti capek banget tuh.
    trus sekarang ngekos dimana Nas?

    BalasHapus
  7. yah nova kan orng bukittinggi.
    pernah ke painan dulu waktu zaman kuliahan.

    mulai biasain diri tuh mas..nga adah mol xixixixixi..

    BalasHapus
  8. boleh boleh boleh....
    silakan...
    tapi beneran dibaca ya mbak hehehe

    BalasHapus
  9. tahu aja nih mas... huhuhu
    bener saat itu cuapeeeeeknyo nian...

    ngekos dekat kantor, deket ma kos pegawai

    BalasHapus
  10. cieee logatnya udah Painan Mode on neh :))

    enak wes, jadi ga susah. sekarang tinggal mengexplore Painan.

    BalasHapus
  11. hwehehe...painan ya..
    lumayan jauh dari bukittinggi...
    kalo ada rute menarik, pengen juga nih solo touring k painan..

    BalasHapus
  12. bukittinggi?
    hohoho dua pekan lagi ada acara jalan2 kantor ke sana nih mbak.... ada saran tempat2 mana yang harus dikunjungi? hehehe....

    yayaya di sini sangat mengenal kebersahajaan dan kesederhanaan hidup ~_~

    BalasHapus
  13. rumah kontrakan ane akh...
    ditunggu kunjungannya..

    BalasHapus
  14. kira-kira 4 jam kan yaks?
    wuah bentar lagi saya bertandang ke Bukittinggi euy...
    bang Dayat di KPP kan ya?
    semoga bisa ketemuan

    BalasHapus
  15. rumah kontrakan ane, ditunggu kunjungannya

    BalasHapus
  16. ane di kpp payakumbuh akh.. sekitar 35- 40 km dari bukittinggi arah pekanbaru..
    kalo istri di kpp bukittinggi..

    semoga ketemu ya

    BalasHapus
  17. ntu pp mas? lumayan tuh 8jam xixixixixi..painan-padang-bukittinggi
    objek wisatanya ada lembah anai ato air terjun yg di padang panjang, kalo bukittinggi ngarai sianok, lobang jepang, benteng/benteng for de kock, jam gadang, jembatan limpapeh..
    trus wisata kuliner d..

    BalasHapus
  18. @bang dayat...
    boleh boleh boleh... alamat dan rute rumah kontrakannya di mana bang? *bisa dibalas lewat PM aja

    BalasHapus
  19. @mbak nova
    rencana nginep di penginapan sih... jadi biar gak capek juga PPnya dalam sehari....
    wah wah wah sangat menarik ni keliatannya Bukittinggi
    baiklah, semoga bisa mengunjungi kesemuanya itu hehehe

    BalasHapus
  20. Semoga betah di tempat yang baru :).

    BalasHapus
  21. @mb fajar...
    yo ngenelah nasib perantauan... huaaa mbak jarang sing ngomong jawa ing kene
    roaming Minang banget dah

    BalasHapus
  22. @mb leila
    yosh... harapan saya juga nih...
    aamiin

    BalasHapus
  23. selamat datang dan selamat bertugas. semoga sukses, mas

    BalasHapus
  24. @mas rifki...
    yap... makasih banget mas...

    BalasHapus
  25. Nanti saya mampir painan diajak mlaku2 yo mas

    BalasHapus
  26. Headshot ku itu pantai carocok painan loh.

    BalasHapus
  27. semoga betah ya.jgn kabur kayak teman saya di DJA pas ditempatin Sorowako (CMIIW) hehe...

    BalasHapus
  28. @mas wib...
    insya Allah... sumonggo...
    jadi guidetour dadakan hehehe

    BalasHapus
  29. @bang romi
    i've seen and visited it :D
    so beautiful....
    bakal dibuatin cerita deh...
    tunggu aje hehehe

    BalasHapus
  30. @mas dedy
    hohoho DJA itu induk semangnya DJPB lo mas kalau usut punya usut sejarahnya...
    tapi ya kalau di Soroako sih keknya gak ada tuh... paling kalau di papua, adanya Sorong, kalau Maluku tuh Masohi, Tual, Saumlaki...
    yaaah semoga bisa menyesuaikan diri di sini

    BalasHapus
  31. anaaaaas! sepedas dan semanis apapun perkataan yang pernah kau lempar padaku, percayalah...saat ini aku mulai merindukannya

    #sentimentilmode: on

    BalasHapus
  32. keknya sih kemaren ketemuan biasa-biasa aja tuh dirimu....

    huuuuuuuuuuuuuuu sok kalem kumat hehehe

    BalasHapus