Waktu pun berlalu dengan sendirinya. Ia terus berjalan sementara itu banyak peristiwa yang terlewat sudah. Semuanya berlalu, tetapi semuanya itu pernah jua dialami. Sepenuh rasa dan segenap memori ada di dalamnya. Kenangan itu bukan untuk terlewat begitu saja, tetapi untuk diingat kembali dan menjadi salah satu harta yang paling berharga... Bersama orang-orang yang pernah mengisi dalam kehidupanmu... Teman-teman dan keluarga... Dan dirimu akan menyadari sepenuhnya bahwa dirimu itu tak sendiri....
Memulai Hari Semi-Terakhir di Ibukota
Hari Senin kemarin adalah hari yang begitu terasa berbeda daripada hari biasanya. Hari ini adalah hari yang saya rencanakan menjadi hari terakhir saya di Jakarta. Eh, sebenarnya tidak juga deng, soalnya ntar juga masih balik ke kota ini untuk pemberangkatan ke kantor baru di Painan, Sumatera Barat. Akan tetapi, jelasnya di hari ini terasa jelas perbedaannya....
Semuanya sudah tak serupa seperti keadaan semula. Kini saya tinggal menunggu hari pemberangkatan menuju kantor baru saya dan menetap selama kurun waktu yang relatif lama. Saya akan meninggalkan kelaziman kehidupan yang saya jalani di ibukota ini dan kemudian akan beralih pada suasana yang benar-benar baru di suatu tempat yang jauh di seberang sana...
Beranjak dari kos saya di daerah Rawa Tengah, saya mempunyai serangkaian agenda yang harus dilaksanakan di hari ‘semi –terakhir ’ saya di sini. Hal pertama yang saya lakukan adalah mendatangi kantor saya untuk terakhir kalinya. Dalam perjalanan menuju kantor, sempat saya terjebak macet selama beberapa lama di persimpangan daerah Senen. Ah, akankah saya akan bersua dengan kemacetan ini lagi? Hohoho Jakarta, saya bahagia akan meninggalkanmu dengan kemacetanmu yang parah itu.... Kebahagiaan itu saya tunjukkan dengan secercah senyuman yang menghibur hati.. Ya, inilah momen-momen terakhirku di ibukota..
Momen Terakhir di Kantor Pusat
Saya mendatangi kantor pusat saat itu dengan tujuan perpisahan dengan para pegawai, perpisahan kelompok ngaji kantor, dan jua persiapan teknis pemberangkatan. Kantor pagi hari itu terasa begitu asing untuk saya. Padahal sudah selama 7 bulan ini saya berkutat di dalamnya. Proses magang yang saya jalani selama ini lebih dominan berada di daerah kantor pusat ini (Lapangan Banteng) daripada di unit vertikal kantor di Jakarta (Kanwil dan KPPN). Seharusnya saya sudah mempunyai semacam sense of belonging dengan tempat ini. Tetapi entahlah... Saat itu begitu terasa tempat ini adalah tempat yang asing...
Tempat ini menjadi asing karena pemandangan yang saya temui sudah tidak seperti biasanya. Saya tidak menemukan lagi orang-orang yang tampak begitu setia dengan pakaian hitam-putihnya sebagai keseharian pakaian pegawai magang. Ya, pegawai magang, salah satunya adalah saya. Walaupun sempat saya bersua dengan beberapa teman yang juga ada urusan di kantor, tetapi mereka berpenampilan berbeda dan jua status yang sudah berbeda... Para pegawai unit vertikal instansi (kantor daerah) kami yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia...
Teman... Kita akan pergi ke ranah kita masing-masing... Mengabdi di bagian-bagian negara kita ini yang mungkin baru pertama kalinya kita menyambanginya... Akan tetapi, pada tempat semacam itulah, kita akan menetap dalam tempo waktu yang lama dan menunaikan tugas untuk mengabdi... Kita akan meninggalkan daerah yang sudah lazim kita kenal dan sambangi... Perpisahan itu kian terasa menguat ada di antara kita...
Setibanya di kantor, saya langsung bertemu dengan teman ketua kelompok saya yang sudah janjian dengan saya untuk pamitan bersama ke unit kerja magang yang lama di Direktorat Transformasi Perbendaharaan. Dalam perjalanan ke sana, sesekali kami temui beberapa kawan yang juga masih sibuk dengan urusannya tentang penempatan ini dan jua beberapa pegawai. Pertanyaan mengenai di manakah penempatan kami masing-masing masih menjadi topik pembicaraan yang hangat kalau bertemu dengan orang lain...
Sesampainya di sana, lagi-lagi topik tentang penempatan masih berkutat di sekitar kami. Saat itu ternyata atasan magang saya sedang tidak ada di tempat, sedang dinas luar. Jadilah hanya sekadar berpamitan dengan para pegawai pelaksana. Jumat kemarin seusainya pengumuman penempatan, saya sempat kembali ke kantor dan saat itu kantor sudah sepi, sudah banyak para pegawai yang pulang, sehingga belum sempat berpamitan. Oleh karena itu, rasanya perlu untuk berpamitan dengan para pegawai di hari Senin itu..
Seusainya berpamitan di unit kerja magang terakhir, saya bertemu dengan teman yang nantinya menjadi rekan kerja saya di KPPN Painan. Kami membahas mengenai teknis persiapan menuju kantor baru dan jua sempat menelepon kantor kami untuk mendapatkan informasi. Alhamdulillah informasi pun sudah kami peroleh dan menjadikan kami lebih merasa siap menuju Painan nantinya...
Setelah membahas persiapan keberangkatan, saya tertarik dengan ajakan teman-teman saya untuk pamitan ke unit-unit kerja kantor pusat saya lainnya yang ada di Lapangan Banteng dan penempatan pun masih menjadi topik yang selalu ditanyakan... Yah, emang dimaklumi sih, toh jua ni hendak berpamitan dengan para pegawai..
Tawa canda mengiringi kami dalam perbincangan dengan para pegawai atau teman lainnya. Berbagai pesan dan nasehat disampaikan oleh para senior kami untuk menempati kantor baru nantinya. Mereka yang dulu pernah mengalami hal yang serupa jua dengan penempatan di kantor baru yang asing pun berbagi pengalaman mereka kepada kami....

Selepas sholat dhuhur didirikan, masih ada satu agenda yang akan saya ikuti, yakni perpisahan dengan guru ngaji kantor saya beserta teman-teman sepengajian lainnya. Bertempat di salah satu ruang rapat gedung kantor pusat, yakni Ruang Piet Hardjono, perpisahan itu pun diadakan. Pada momen itu juga, nasehat dan pesan pun diberikan kepada kami, tetapi tidak hanya dari guru ngaji saya, ternyata pertemuan itu juga dihadiri oleh beberapa orang pengurus masjid kantor. Ya, selama magang kemarin, kami sempat mengikuti beberapa acara masjid kantor dan sekarang pun sebenarnya masih ada acara masjid kantor yang sedang dipersiapkan dan kami menjadi panitia dari acara tersebut. Namun, karena penempatan di luar skenario yang direncanakan, terpaksa kepanitiaan tersebut dialihkan dari kami yang mulai sibuk dengan persiapan di kantor baru.
Pada pertemuan saat itu, kami satu per satu dipersilakan untuk menceritakan mengenai kesannya selama ini magang di kantor pusat, persiapan yang telah dilakukan, dan jua momen saat pertama kali mengetahui tentang penempatan. Yap, kami pun bercerita masing-masing secara bergilir dan saya ketika itu menjadi orang pertama yang memulainya. Dalam cerita saya sih, saya ceritakan momen-momen yang sangat identik dengan para magang sehingga menjadi hal yang sangat dikenang... Ah, magang....
Saya akan selalu ingat bagaimana kebanyakan teman saya yang sudah punya rutinitas untuk tidur siang setelah mendirikan sholat Dhuhur dan jua bergerombolnya kami untuk sekadar ngobrol di pelataran masjid. Yah, itung-itung sebagai pelepas kepenatan ngantor dari pagi hingga siang. Ada juga sosok teman saya yang selalu saja mengajak saya makan siang bersama di kantin kantor dengan menu yang selalu sama yakni mie ayam disambi dengan obrolan seriusnya. Ada juga beberapa teman yang sering bolak-balik ke perpustakaan kantor yang koleksinya lumayan bagus sebagai pengisi waktu bilamana tidak ada kerjaan di kantor dan saya kadang diajak walaupun belum pernah minjem hehehe. Ada warung makan juga di daerah Wahidin II yang emang sudah terkenal sebagai warungnya para magang karena warung itu menawarkan makanan dengan harga termurah tapi porsinya mantap he, saya juga salah satu pelanggannya jua sih kalau ngepas nggak ada ajakan ke kantin kantor oleh teman saya. Saya juga akan ingat bagaimana interaksi teman-teman sekelompok saya yang unik dan mulai keliatan anehnya kalau kami nganggur bareng-bareng gak ada kerjaan di kantor. Kamilah jua yang selalu setia memakai pakaian putih-hitam sebagai ‘seragam khas’ magang.... Magang oh magang, betapa penuh warna-warninya dirimu....
Satu per satu teman-teman saya pun mengutarakan kesannya versi masing-masing. Hingga akhirnya pun semuanya sudah menyampaikan kesannya sendiri-sendiri dan acara beralih pada sharing pengalaman dari guru ngaji saya dan juga beberapa pengurus masjid kantor tentang penempatan pertama mereka dulu. Menjelang ashar, acara ini pun selesai dan diakhiri dengan jabat tangan serta pelukan hangat dari saudara-saudara seiman dan seperjuangan selama di kantor ini....
Ujian yang Berat untuk Kawan...
Selepas sholat ashar, saya sudah berencana akan mencari informasi mengenai tiket perjalanan menuju kantor baru saya. Hal ini sudah saya lakukan dengan tanya-tanya ke travel agent yang ada di kantor saya. Namun, ada satu kejadian yang sangat tidak diharapkan terjadi. Salah seorang teman kami mengalami musibah dengan dicurinya tasnya yang berisi laptop, hp, dokumen-dokumen penting di masjid kantor.
Astaghfirullahaladzim... Innalillah.. Sungguh ujian yang berat untukmu kawan... Di saat-saat menjelang kepergianmu merantau di tanah orang, kamu mendapatkan ujian seperti ini. Padahal barang-barang yang hilang darimu itu menjadi barang yang sangat kamu butuhkan nantinya selama di perantauan. Namun inilah salah satu bagian skenario Allah yang harus kamu hadapi dan kamu harus lulus dalam menempuh cobaan ini... Semoga Allah menguatkanmu, memudahkanmu, dan meluluskanmu dalam ujian ini...
Jadilah sore hari itu menjadi sore yang rasa-rasanya panjang sekali karena kami berusaha membantu sebisa mungkin untuk kawan kami yang satu ini. Kami sempat ke bagian Administrasi Kepegawaian untuk menanyakan apa yang harus dilakukan oleh teman saya ini akan kehilangan dokumen-dokumen berharganya tentang pekerjaan. Saat itu pula, bagian Administrasi Kepegawaian sangat kooperatif dan mampu mengerti serta memahami betapa peliknya musibah kehilangan teman saya ini. Saya sempat pula menemani teman saya itu ke Polsek depan kantor untuk melaporkan kejadian ini dan memohon surat keterangan hilang. Begitu banyak yang ia harus selesaikan dalam sekali tempo waktu mengingat adanya beberapa hal urgen dan rawan resikonya bila ia tidak mengantisipasinya.
Saya melihat ketegaran yang terpancar dari sosok teman saya itu. Apabila saya ada di posisiny waktu itu, pastilah sangat berkecamuk berbagai macam perasaan dan saya sulit untuk menahannya serta tampil setegar itu. Namun, ia tidak menampilkan perasaannya itu dan fokus pada setiap tahap penyelesaian dari persoalannya itu. Sempat ia utarakan mengenai betapa sulitnya ia mengatur semuanya itu dan saya sebagai teman memberikan beberapa alternatif pemecahan yang realistis dan bisa saya berikan.
Teringat saya akan nasehat dari bapak petugas polsek yang melayani teman saya, “ujian yang sulit ini artinya nanti akan ada kebahagiaan yang luar biasa bilamana dapat lulus menanganinya insya Allah..” Saya pun mengiyakan nasehat ini dan mendoakan banyak kebaikan untuknya. Ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk saya pribadi... Di saat kita sudah sedemikian rupa merencanakan segala teknis dalam kehidupan kita, Allah punya skenarionya sendiri dan dalam setiap skenario itu kita harus kuat dalam menjalaninya entah itu merupakan hal yang sesuai dengan harapan atau pun jua jauh dari apa yang diperkirakan...
Farewell Moment dengan Teman-teman NAC
Saya menemani teman saya itu sampai kira-kira waktu isya’ sudah masuk. Saat itu karena sudah ada janjian dengan teman yang meminta saya untuk bertemu dengannya di daerah Atrium, Senen, maka saya tidak bisa menemani teman saya itu menyelesaikan beberapa urusannya yang masih belum selesai. Alhamdulillah ada teman yang menggantikan saya saat itu dan kemudian saya bisa beralih menuju agenda saya berikutnya di hari itu, bertemu dengan teman saya lainnya beda instansi. Entah sih saat itu saya kurang tahu apa maksudnya dia meminta bertemu, tetapi sepertinya dia hendak mengadakan momen perpisahan dengan saya. Hohoho jarang-jarang nih seperti ini. Memang momennya tidak biasa juga sih. Kapan lagi kami bisa bertemu menjadi pertanyaan yang menggantung jawabannya kalau seperti ini...
Saya langsung menuju tempat janjian kami di daerah Atrium Senen. Teman-teman saya sudah menunggu saya di tempat janjian, di salah satu restoran yang ada di kawasan itu. Sempat beberapa kali teman saya contact dengan saya menanyakan di mana saya saat saya masih menemani teman saya yang mendapat musibah. Mereka saat itu sudah berkumpul di restoran yang dimaksud. Jadi sepertinya mereka sudah cukup lama menanti saya.

Setibanya di sana, saya cukup kaget dengan orang-orang yang saya temui. Ternyata, teman yang mengajak janjian dengan saya tidak hanya dirinya seorang, tetapi ada beberapa orang dan jua mereka adalah teman-teman saya satu panitia dulu, yakni panitia National Accounting Challenge 2010.
NAC 2010 merupakan kepanitiaan yang sangat berkenang untuk saya. Perjalanan kepanitiaan ini relatif lama dan penuh lika-liku dengan serba-serbi suka-dukanya. Kebersamaan saya dan teman-teman satu panitia pun terus berlanjut tidak hanya selama berlangsungnya persiapan dan pelaksanaan kegiatan yang sudah selesai bulan Februari 2010 yang lalu... Akan tetapi, hingga sekarang kami masih sering berkumpul dan mengadakan pertemuan untuk saling membahas agenda-agenda yang masih kami bahas bersama, apalagi belakangan ini dengan akan diadakannya kembali perhelatan akbar ini di tahun 2012 nantinya.
Saat itu ada teman saya yang janjian dengan saya bernama Tulus dan jua teman-teman lainnya, yakni Ulul (nunqinblue), Dewi (luvipuch), Dodo (alkhowaritsmi), Dani (dapoerzone), Dini, dan Yudi. Mereka ini termasuk yang cukup intens berhubungan dengan saya baik itu selama persiapan, pelaksanaan, ataupun pasca pelaksanaan NAC 2010. Sebenarnya masih ada beberapa orang seperti Pak Ali (akarmembiru), Bambang yang juga sekantor dengan saya, dan Anggi yang dulu menjadi rekan kerja yang ouke punya selama NAC, akan tetapi mereka berhalangan hadir waktu itu.
Seperti biasanya awal mula kami berkumpul, kegejean kami pun kambuh. Masing-masing bercerita ngalor-ngidul tema sekenanya yang terlintas di pikiran. Itu menjadikan nuansa keakraban seperti biasanya pula hadir di antara kami... Ah, mereka memang teman-teman saya yang unik dan langka hehehe... Sulit rasanya akan menemukan orang-orang segokil mereka untuk bisa bekerja sama kembali mengadakan perhelatan akbar atau pun untuk menjadi teman dalam keseharian...
Kegejean itu pun akhirnya disela dengan dibukanya acara oleh sang pencetus acara, yakni Bung Tulus. Acara pun dibuka dan kemudian ada sesi nyeleneh yang meminta tiap-tiap orang yang hadir memberikan kesan yang berkenang antara dirinya dengan saya. Hohoho aneh rasanya bila ada orang yang membicarakan tentang saya di depan saya sendiri. Akan tetapi, keanehan itu juga diselingi dengan memori indah yang pernah saya jalani dengan teman-teman saya itu...
Semula aura-aura geje masih berkelebat di sekitar kami saat sesi itu. Masih terlampau kebanyakan becandanya seperti biasa. Hingga akhirnya tiba pada giliran mbak Dini, nuansa kegejean itu berubah. Mbak Dini memberikan kesan yang sangat mendalam dan penuh haru. Dirinya mengingatkan saya akan momen seperti ini menjadi momen yang berharga untuk kami karena mungkin sekali akan jarang kesempatan berkumpul seperti ini akan ada lagi...
Salah satu pesan yang diucapkan oleh mbak Dini adalah kira-kira seperti berikut, “Anas, jangan pernah lupakan kami ya teman-temanmu dulu yang pernah menghiasi dalam momen kehidupanmu di NAC. Kita pernah berinteraksi, saling bekerja sama, dan jua membangun nuansa keakraban. Jangan sampai pula apa yang telah kita bangun itu menjadi hilang begitu saja karena terpisahnya jarak di antara kita... Mungkin nantinya kita masih bisa bertemu kembali, tetapi perubahan adalah suatu hal yang niscaya tak bisa kita tolak. Walaupun kita nantinya berubah, tetapi tetaplah menjadi Anas yang sama yang kami kenal dahulu... See you next time in the better place and better condition... “
Wuaaaa.... Mbak Dini keren banget sih pesan dan kesannya... Seketika itu saya jadi tertunduk dan merenung akan semuanya itu.... Ah, kalian benar-benar menjadi precious partner untuk saya selama ini... Sangat amat terharu saya saat itu T_T
Malam pun mulai larut dan akhirnya kami pun harus berpisah. Really precious moment with you all, NACers! Mereka telah mengadakan farewell moment di luar sepengetahuan saya. Semula saya kira hanya bertemu dengan Tulus saja, malah ternyata ada beberapa teman yang ikut serta. Saya juga tidak menyangka kalau ini menjadi semacam farewell moment yang ditujukan khusus untuk saya. Wuaaaa kalian ini... Terima kasih banget ya, teman-teman...
Yah, satu hal yang terkenang jua dengan farewell moment kali ini, bung Yudi mengatakan saat ini bukan hal yang tepat untuk mengucapkan ‘goodbye’, tetapi percayalah untuk mengatakan ‘see you later’. Insya Allah akan ada momen lagi untuk kita bisa bertemu nantinya, mungkin salah satunya adalah pada acara walimah saya hehehe...
Hari itu menjadi hari yang sangat bercampur aduk untuk saya.Peristiwa-peristiwa yang terjadi menjadi hal yang sangat patut untuk saya kenang. Malam harinya pula saya menjadi sulit tidur karena mengenang semua kebersamaan dengan teman-teman saya itu. Saya baru menyadari betapa berharganya keberadaan mereka selama ini di samping saya dan saya jua merasakan bahwa saya tidaklah sendiri selama ini.
Esok harinya saya akan meninggalkan ibukota menuju Salatiga, rumah saya berada. Kereta Fajar Utama esok hari itu pun melaju dan memberikan saya suatu keyakinan tertanam dalam, “ini bukanlah perpisahan”....
"our lives are made
in these small hours
these little wonders,
these twists & turns of fate
time falls away,
but these small hours,
these small hours still remain"
lagi di kampung ya.
BalasHapusmasih kok bang Romi....
BalasHapusAhad sore ntar baru nyampe Padang hehehe
Aku terharu bacanya, soalnya terkenang pas pisahan prajab. Emang sih ga ada apa2nya 2mggu prajab sama magang 7blan.
BalasHapusSeragam hitam putih yg mbosankan tapi penuh kenangan.
Ikut bduka ma musibah temene, mga kelar semua dokumene, amin.
Ga kebayang deh Nas kalo aku di posisimu, kudu menjalankan tgas di tempat jauh. Take care brother, semoga kamu bisa mjadi abdi negara yg jujur n amanah. *terharu n berkaca2 neh*
he? wuaaa emang kita punya momen berkenang sendiri-sendiri yaks...
BalasHapustapi emang yang namanya perpisahan dan pertemuan itu seperti bilah dua sisi mata uang...
ada dan saling menggantikan...
Allahumma aamiin atas doanya untuk teman saya
hiks... baru kali ini nih menjejakkan kaki di luar Jawa (kalau Bali gak keitung he)...
BalasHapusmohon doanya ya mas...
yap semoga bisa menjalankan amanah ini...
Allahumma amiin atas doanya....
weleh weleh kok mpe terharu dan berkaca-kaca ini...
hufh senyum aja deh... jalani semuanya dengan sebaik mungkin...
*sedang berusaha untuk tidak mewek atau melo berketerusan nih huhuhu
selamat berjuang di tempat baru. dan semoga musibah yang dialami kawan itu bisa segera diatasi.
BalasHapusmakasih mas....
BalasHapusAllahumma aamin doa untuk teman saya....
perkembangannya sekarang sih beberapa dokumen sudah bisa didapatkan penggantinya alhamdulillah
Iya maaf2, harusnya emang aku ga boleh buat kamu mellow2.
BalasHapusSemangaat Nas, sapa tau ketemu jodoh di Painan, amin.
Hehehe.. so sweet... Memang klo kata orang2 "everything that has a beginning has an end".. Selamat datang tempat baru.. semoga menjadi tempat yang lebih barokah.. :))
BalasHapusselamat datang di dunia nyata hehe
BalasHapusKapan makan2 sama kita? hehehe
BalasHapusGanbatte kudasai...
BalasHapusSaya juga hijrah dari Jakarta mas *senasib* :D
@mas ihwan... hohoho gapapa dah.. biar skalian tuntas melonya terus ganti seneng2 dah :D Weh ketemu jodo di sana hohoho bisa jadi dah..
BalasHapus@kak muse.. wuaaa.. quote yg keren punya... yap, magang pun berakhir dan mulailah kerja nyata skrg.. Allahumma aamiin atas doanya kak.. makasih bgt
BalasHapus@bang dayan.. huaaa emang kemaren2 masih gak nyata jua yaks.. magang kan kek setengah kerja gt hehehe.. thanks a lot, bang.
BalasHapus@mus.. bisa diatur asal gak nyusahin saya aja.. tempatnya di painan aja ya hehehehe.. *dasar*
BalasHapus@mas syamsul... yosh.. banzai! makasih yo mas.. huhuhu nasib perantauan..
BalasHapuskagak usah lebay :-P
BalasHapusnyante aja. paling dua bulan balik lagi ke jakarta dan kampung.
penempatan bikin produktif nulis ya
BalasHapusmau tahu ga nash...
BalasHapusdi daerah akan membuatmu semakin produktif... insyaAllah
di daerah akan membuat waktu2 terpenting kamu semakin bisa kamu manfaatkan...
kalau aku disuruh milih penempatan,.,, aku masih milih Jogja / Bandung kok :D
jadi kesimpulannya lebay saya sedang kambuh jua yaks -_-a
BalasHapustapi emang sih bener juga...
dasar nanazh hehehe
insya Allah...
BalasHapussemoga jua isinya yang bermanfaat atau pun reportase tentang painan hehehe...
*sedang introspeksi belakangan ni isi mp saya cerita mulu nih he
hohoho semoga bisa memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi diri di sana...
BalasHapusbaik sesuai tupoksi atau di luar tupoksi kerja hehehe
yeeee... kan pollingnya kami kemaren gak bisa milih kota2 itu....
BalasHapusluar jawa dan KPPN non-percontohan, mas..
jadi nostalgia di sini...
http://nanazh.multiply.com/notes/item/182
SKnya udah keluar ya..
BalasHapus@mb rika. yoa, mb.. 3 sk sekaligus euy.. sk cpns, sk grading, dan sk penempatan...
BalasHapusdua bulan, pan itu masa libur lebaran.
BalasHapusmosok yo ra mulih
saluuuut kalo smp gak mulih ^^b
tapi takdir mungkin akan membawa ke aceh atw atambua
BalasHapus/kalem/
hiiii insya Allah mulih aaaah,,,,
BalasHapusmasak tidak hiks...
kota ni sepi nian ~_~
Allahumma aamiin.... turut mendoakan bung priyo deh ^_^
BalasHapusnas, gimano?
BalasHapusudah di painan?
iyolah... guo (?) sudoh di painano wuoloh wuoloh wuoloh hohoho....
BalasHapusmesakno temen awakmu dek nanash
BalasHapusbiyen tak kon njaluk kotamobagu ra gelem
ah biarlah semuanya berlalu...
BalasHapustak perlu menyesal...
saya mulai suka dengan sepi ini kok hihihi
ahihihi :-D
BalasHapusjangan-jangan ni bernasib sama euy ~_~
BalasHapusIni pengalaman pribadi ya :D.
BalasHapushohoho betul juga ya mbak Leila... keknya mas Hakim curcol di sini dah
BalasHapus