Pada tanggal 14 Mei 2011 yang lalu, saya beserta dua orang rekan saya (salah satunya adalah Mper juga yakni, bung Kharly) mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh FORSIMPTA (Forum Silaturahim Masjid Perkantoran Jakarta) sebagai perwakilan dari pengurus masjid Al Amanah yang merupakan masjid kantor saya.
Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini, walaupun rasa-rasanya partisipasi dan kontribusi saya dalam aktivitas dakwah kantor kan baru aja dimulai, jadi merasa kurang pantas kalau menjadi perwakilan masjid untuk acara ini. Masih banyak penggiat dakwah kantor senior yang lebih pantas dari pada saya sebenarnya, tetapi karena kebijakan dari para senior untuk lebih prefer mengirimkan generasi-generasi muda yang baru bergabung juga, maka jadilah saya yang masih muda ini (? He) dapat kesempatan jua ikut pelatihan ini.
Sebagai salah satu bentuk konsekuensi dari keikutsertaan dalam pelatihan ini adalah disusunnya reportase kegiatan pelatihan untuk nantinya dipublikasikan via website masjid kantor dan juga berbagi materi yang sudah didapat kepada para pengurus lainnya yang tidak bisa ikut karena keterbatasan kuota perwakilan tiap masjid yang diperkenankan hadir. Nah, titik kritis yang saya alami malah pasca pelatihan. Karena ada beberapa permasalahan personal yang sempat saya hadapi membuat produktivitas saya menulis menurun drastis dan tugas tindak lanjut dari pelatihan ini menjadi terbengkalai dalam tumpukan list tugas yang belum saya kerjakan.
Huaaaa... Ironis banget dah. Harusnya setelah mengikuti pelatihan jurnalistik ini ‘kan lebih produktif lagi, but don’t know why yang terjadi malah sebaliknya. Namun, dengan tekad untuk tetap menyelesaikan amanah ini, maka saya memaksakan diri untuk mengerjakan tugas tentang pelatihan tersebut dan alhamdulillah akhirnya walaupun memakan waktu lebih dari sepekan, peliputan dan rangkuman materi dapat terselesaikan jua...
Well, hehehe itu saja dah cerita pengantarnya. Berikut ini saya postingkan hasil reportase saya akan pelatihan tersebut yang juga sudah ditampilkan di website masjid kantor, www.masjidalamanah.com/2011/05/saatnya-dakwah-kantor-mengemuka-melalui-tulisan/. Semoga bermanfaat, khususnya bagi yang punya inisiatif dan tertarik untuk menggiatkan aktivitas masjid kantor... ^_^
=================================================================

Umat Islam pernah berjaya karena begitu kuatnya budaya menulis yang tumbuh dan terus berkembang, sehingga banyak kemajuan peradaban yang dihasilkan. Bilamana kita menginginkan datangnya kembali kejayaan Islam, maka salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menumbuhkan kembali semangat umat untuk produktif dalam menulis dan berkarya. (Ust. Ahmad Sarwat)
Pada tanggal 14 Mei 2011 yang lalu, beberapa orang pengurus Masjid Al Amanah mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh FORSIMPTA (Forum Silaturahim Masjid Perkantoran Jakarta) di aula Masjid Baitul Ihsan, kompleks perkantoran Bank Indonesia. Acara ini diikuti oleh sekitar 50 orang peserta perwakilan pengurus masjid perkantoran di Jakarta dan mengundang dua pembicara, yakni Ust. Ahmad Sarwat, Lc. dan Bpk Subroto dari Redaktur Harian Umum Republika.
Pelatihan jurnalistik ini terbagi menjadi dua sesi dengan dua pembicara yang berbeda. Sesi pertama diisi oleh Ust. Ahmad Sarwat yang terkenal sebagai kolumnis tetap di situs warnaislam.com dan juga salah satu pengajar pada kuliah syariah online. Pada sesi yang bertajuk “Islam dan Budaya Menulis” ini, beliau memaparkan penjelasan dan pemahaman mengenai begitu pentingnya budaya menulis di kalangan umat Islam.
Ust. Ahmad Sarwat menjelaskan bahwa sudah dari sejak dahulu Islam terkenal dengan budaya menulisnya. Budaya menulis ini tercerminkan dalam begitu banyaknya kitab-kitab karya para ulama yang membahas mengenai Islam. Ulama muslim dahulu, seperti Sayyid Quthb, Imam Syafi’i, Buya Hamka, dan lainnya, menjadi sosok teladan yang begitu produktif dengan hasil tulisannya. Mereka memahami bahwa tulisan menjadi salah satu bentuk karya yang dapat bermanfaat bagi umat dan menjadikan pengaruh kebaikan mereka terus abadi terkenang sepanjang zaman.
Lebih lanjut Ust. Ahmad Sarwat memaparkan, ada beberapa syarat yang harus dimiliki umat Islam agar dapat produktif berkarya melalui tulisan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para ulama terdahulu. Syarat yang pertama adalah harus mempunyai ilmu dahulu untuk dapat menulis, yang kedua adalah harus mempunyai kesungguhan niat untuk menulis, sedangkan syarat ketiga yang harus dimiliki dalam berdakwah melalui tulisan adalah harus dilandasi dengan keikhlasan.
Di bagian akhir penjelasannya, Ust. Ahmad Sarwat menekankan kembali pentingnya budaya menulis dan memberikan beberapa fakta sejarah yang menunjukkan kemajuan Islam dengan adanya budaya menulis yang tumbuh subur di kalangan umat dahulu. Umat Islam pernah berjaya karena begitu kuatnya budaya menulis yang tumbuh dan terus berkembang, sehingga banyak kemajuan peradaban yang dihasilkan. Bilamana kita menginginkan datangnya kembali kejayaan Islam, maka salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menumbuhkan kembali semangat umat untuk produktif dalam menulis dan berkarya.
Kaitannya dengan pergerakan dakwah kantor yang menjadi tema utama pelatihan jurnalistik ini, beliau mengutarakan bahwa dakwah kantor, sebagai salah satu bentuk dakwah yang terspesialisasikan pada kalangan pegawai kantoran, mempunyai peran yang strategis dalam menumbuhkan budaya tulis ini karena tidak sedikit di antara umat Islam sekarang ini yang berprofesi sebagai pegawai kantoran dan ini jelas menjadi momen yang tepat bagi dakwah kantor untuk mengemuka dengan tulisan-tulisan ke-Islaman yang berkualitas.
Seusainya peserta mendapatkan pemahaman akan betapa pentingnya budaya menulis yang harus dikembangkan dalam aktivitas dakwah kantor dari Ust. Ahmad Sarwat, peserta mengikuti sesi yang lebih teknis dan praktis bersama Bapak Subroto, Redaktur Harian Umum Republika, dalam sesi kedua yang bertema “Teknik-teknik Praktis Jurnalistik”.
Pada sesi ini, peserta diberikan materi penulisan berita yang lazim dipraktekkan oleh media cetak dalam menyajikan berita peristiwa di sekitar masyarakat. Bapak Subroto memberikan tips dan beberapa kiat dalam menulis berita dengan pengenalan beberapa istilah jurnalistik yang baru diketahui oleh para peserta saat itu.
Materi semacam ini termasuk materi teknis yang penting dalam menunjang kegiatan dakwah tulisan yang dilakukan oleh pengurus penggiat dakwah kantor. Ketersinggungan aspek jurnalistik dengan aktivitas dakwah kantor tampak pada beberapa jenis produk dakwah kantor yang lazim ada, seperti mading, buletin, newsletter, majalah dakwah rutin, dan lainnya. Dengan adanya pembekalan materi teknis peliputan berita ini, diharapkan peserta dapat mempraktekkan untuk meliput aktivitas masjid kantornya dan menampilkannya dalam produk media yang dimiliki masjid kantor.
Pada sesi ini pula, peserta yang hadir langsung mempraktekkan materi teknis tentang peliputan berita seusainya diberikan materi dengan tugas menyusun naskah berita meliput berjalannya acara pelatihan jurnalistik pada hari itu. Bagi peserta yang menyusun naskah berita terbaik, Bapak Subroto menjanjikan hadiah souvernir dari Harian Umum Republika.
Partisipasi dan antusiasme peserta pelatihan jurnalistik ini terlihat tinggi dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada para pembicara dan juga praktek menulis berita langsung sebagaimana yang telah diutarakan sebelumnya. Acara yang berlangsung sejak dari pukul 09.00 hingga pukul 15.00 ini rasa-rasanya masih belum cukup memuaskan para pesertanya untuk menimba ilmu lebih dalam lagi mengenai jurnalistik yang bisa diterapkan dalam aktivitas dakwah kantor.
Oleh karena itulah, di akhir acara, muncul suatu inisiatif agar pelatihan ini tidak hanya berhenti pada tahap dijalankannya acara ini saja, tetapi mempunyai kebersinambungan yang lebih jelas sebagai bentuk tindak lanjut atas acara ini. Inisiatif tersebut nantinya berbentuk forum milis yang beranggotakan para peserta pelatihan jurnalistik dan berisi komunikasi antara FORSIMPTA, Republika, dan para pengurus masjid kantor dalam menata lebih lanjut gerak dakwah kantor melalui media tulisan ini. Pada forum ini nantinya, anggota dapat berkonsultasi dan meminta bimbingan lebih lanjut mengenai jurnalistik serta berbagi informasi penting lainnya.
Masjid Al Amanah, sebagai salah satu masjid kantor yang ada di Jakarta dan mempunyai beberapa ragam aktivitas dakwah kantor, jelas membutuhkan komunikasi dengan masjid kantor lainnya dan juga pengurusnya perlu dibekali materi-materi lebih banyak lagi untuk dapat menggerakkan aktivitas dakwah kantor yang ada serta mendapatkan sharing pengalaman dari masjid-masjid kantor yang sudah sukses dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Melalui acara pelatihan jurnalistik FORSIMPTA inilah, Masjid Al Amanah mendapatkan hal-hal tersebut dan diharapkan nantinya dapat digunakan agar eksistensi dakwah kantor menjadi lebih mengemuka lagi di lingkungan pegawai Kementerian Keuangan.
he? sekarang ni di MP gak ada fitur attachment filenya toh?
BalasHapuswualah wualah saya mau sharing file hasil rangkuman materinya gimana dong....
~_~ ternyata koneksi sedang melemot ria hingga tak menampilkan fitur attachment dan alhamdulillah koneksi sudah recover sedia kala... di akhir tulisan sudah disediakan link untuk mengunduh file rangkuman materi pelatihannya... sekian
BalasHapusAlhamdulillah, ada reportase lagi, sehingga bisa tambah ilmu. Semoga berkah kegiatan nge-blognya mas, biar bisa bagi2 pahala. btw, ada lagi kegiatan menarik bulan depan, infonya, klik aja di sini
BalasHapuswah, Anas merangkap jadi wartawan juga sekarang ...
BalasHapusjadinya akuntan jurnalis yang agamis ... he he he ...
Subhanallah..
BalasHapussitusnya juga ada
BalasHapusdakwahkantor.com
@mas nahar... wua ada kegiatan lg? paling gak bisa nahan diri untk ikt ini ikt itu. yap semoga postingan ni jd bikin blog saya tmbh berkah en bermanfaat, Allohumma aamiin. makasih mas infonya.
BalasHapus@mas nahar... wua ada kegiatan lg? paling gak bisa nahan diri untk ikt ini ikt itu. yap semoga postingan ni jd bikin blog saya tmbh berkah en bermanfaat, Allohumma aamiin. makasih mas infonya.
BalasHapus@mas nahar... wua ada kegiatan lg? paling gak bisa nahan diri untk ikt ini ikt itu. yap semoga postingan ni jd bikin blog saya tmbh berkah en bermanfaat, Allohumma aamiin. makasih mas infonya.
BalasHapus@mas hendra.. -_-a rangkap profesi amat tuh. hm semoga beneran jg bsa kek gt. keren jg tuh hehe. tapi jelasnya bth usaha keras euy.
BalasHapus@mus.. subhanallah jg..
BalasHapus@mus.. subhanallah jg..
BalasHapus@mus.. subhanallah jg..
BalasHapus@bang romi.. wua.. iyo kelupaan cantumin official webnya. padahal tahu acara ni yo lwt pengumuman di web itu he. hmm bang romi master of searching bgt dah he.
BalasHapus~_~ triple comments.. koneksi yg aneh.. via mobile pula, jadi commentnya gak bsa diapus..
BalasHapusmasuk aja ke versi full site
BalasHapushttp://nanazh.multiply.com/notes
pilih note ini trus hapus komen tripel
Wah nas.. kalau komentar yang membalasa komentar mus kok selalu dobel2 ya?
BalasHapusdonlot attachment-nya yak...
BalasHapus:D
Mudah mudahan bisa menjadi profesional satu hari nanti.........
BalasHapus@bang romi....
BalasHapushuiks ngepas tadi entah mengapa pula internet hp error gak nyambung terus....
ni di kantor ngepas ada kerjaan jadi gak bisa disambi hiks pula...
mungkin emang jatahnya kudu konsen ma kerjaan :D
@mus...
BalasHapusni karena via mobile comment rianya...
kurang tahu juga ya kok bisa gitu
tapi bisa dipastikan kalau yang sering beginian (double/triple comment sama) tuh keerroran ngeMPi via mobile atau super jeleknya koneksi
@pak ali...
BalasHapusmonggo monggo... sekalian ae dipraktekke yo jo lali he...
masjid sholahuddin membutuhkan 'tulisan khas'mu hehehe
@firman...
BalasHapusAllahumma aamiin...
semoga demikian juga untuk firman...
menulis maz. .menulis maz. .
BalasHapuskarena tulisan itu keluar dari hati yang kaya :D
heh... kamu mencoba menghipnotis diriku yaks?
BalasHapushohoho nice quote banget nih....
hmm memperkaya hati dulu yo berarti...
bantuin dong memperkaya hati ni dengan tulisanmu, nak...
Menulis memang tak bisa dipisahkan dari mood, tapi tetaplah berusaha untuk tidak mengikuti rasa malas. Mari terus saling mengingatkan,menguatkan dan mendoakan melalui tulisan.
BalasHapusKunjungan pertama, dan saya tunggu reportase selanjutnya. Salam
@mas nuruddin
BalasHapuswuaaa benar juga ya.... tidak boleh larut dari malas... memang kemaren salah satu pemicunya kurang produktif adalah mood....
yap, harus selalu mengingatkan, menguatkan, dan mendoakan
semoga kita diberikan kemudahan untuk terus berkarya lewat tulisan...
terima kasih mas sudah berkunjung...
mantaf
BalasHapuswah wah wah...
BalasHapussedang doyan kata mantaf ni mas hakim hihihi
nyimak, gan
BalasHapusnyimaknya telaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat huuuu
BalasHapus