Jumat, 27 Mei 2011

[arisan kata 15] hanyalah manusia biasa

Aku hanyalah manusia biasa dan menjalani kehidupan seperti biasanya. Dengan kebiasaannya itulah, aku merenungi kembali fitrah kemanusiaan diri sebagai makhluk sosial. Ya, manusia sudah begitu lazim sebagai makhluk sosial yang membutuhkan hubungan dengan manusia lainnya dalam hampir setiap aspek kehidupannya. Beragam jenis karakter manusia ada di dunia ini dan hubungan antarmanusia seakan-akan menjelma menjadi suatu simbiosis kehidupan antarorganisme yang berbeda, padahal hakikatnya manusia adalah sama dengan hanya satu tipe organisme yang ada di dunia ini.

Mengapa kurenungi kehakikatan manusia sebagai makhluk sosial? Karena entah kenapa begitu terpikir penat di pikiranku akan perlakuan sekelompok manusia kepadaku. Pada satu fragmen hidup, terkadang terasa diri diperlakukan seperti layaknya seorang bedinde yang diperlakukan sekenanya, disuruh ini-itu, dan keberadaannya begitu tak diperhatikan dalam bekerja.

Ah, terlampau berlebihan sepertinya, tapi inilah yang terasa oleh diri. Kenyataan yang dialami diri ini terasa seperti memegang bara yang semakin memanas. Ada gejolak diri untuk memberontak dari kenyataan itu serta mengubahnya. Ingin rasanya memusnakan langgam budaya yang begitu menjenuhkan dan menjadikan diri begitu kecil tak berdaya seperti ini. Diri begitu anti dengan rutinitas yang dialami dan persepsi yang sepertinya salah dipahami oleh sekelompok orang itu.  

Ya, mungkin diri adalah orang pemula yang baru saja mengecap keadaan semacam ini. Sebagai pemula memang hendaknya memulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Diri mulanya dapat memaklumi cara pikir yang demikian, namun lama kelamaan apakah akan selalu seperti ini? Tidak adakah perubahan?

Terasa begitu sepi diri ini di tengah keramaian kelompok orang-orang itu. Mereka melakukan hal yang semestinya mereka lakukan dan diriku hanya terdiam bergelut dengan pemikiran. Terdiam karena teronggokkan begitu saja, sosokku seperti terkesan tak ada bagi mereka. Antara diri dan mereka seakan ada tirai yang tak terlihat dan menutupi pikiran masing-masing. Tirai itu menjadikan diri tak mampu memahami cara berpikir mereka dan tirai itu pula menjadikan mereka tak sekali pun terlintas pikiran semacam apa yang diri pikirkan. Semuanya sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Serasa memang ada yang tak lengkap pada diri dengan hakikat kemanusiaannya sebagai makhluk sosial. Diri butuh untuk diperhatikan, diri butuh untuk dianggap, dan diri butuh untuk berhubungan dengan sesama manusia lainnya. Kelompok orang itu menjadi manusia-manusia yang begitu sering diri temui setiap hari. Janggal rasanya bila hakikat ini tak berjalan sebagaimana mestinya.

Ah, kau terlalu menuntut, wahai diri! Apa yang kau hadapi sekarang ini, pastilah ada kaitannya dengan kesalahanmu sendiri yang berdampak nyata. Ya, bisa jadi kau sendiri yang menjadi penyebab keterkucilanmu ini karena kau tak mau terbuka dan memulai inisiatif berhubungan dengan lainnya. Kau begitu pasif, wahai diri!

Aku pun terdiam sejenak. Hingga akhirnya, tercapai suatu kesimpulan bahwa diri hanyalah manusia biasa. Ya, manusia biasa, bukan sosok yang begitu istimewa. Oleh karena itulah, apa yang dihadapi menjadi sedemikian ini. Memaklumi dan mewajari menjadi hal yang lebih baik dilakukan sekarang. Ini semua memang menjadi hal yang sudah ditentukan untuk dijalani pada garis hidup diri ini.

Jalankan perlahan saja tahapan ini dan yakinlah pada suatu saatnya nanti akan ada perubahan. Tak perlu menuntut, memaksa, dan menyegerakan apa yang ada karena semuanya akan indah pada waktunya. Fragmen hidup semacam ini akan menjadi hal yang akan diri kenang selanjutnya dan jadikanlah ini hikmah yang berharga, walau kau rasakan ketidaksukaanmu begitu kuat menggelayuti.

We're just ordinary people

We don't know which way to go

Coz we're ordinary people

Maybe we should take it slow

This time we'll take it slow

This time we'll take it slow

(refrain part from John Legend’s song entitled “Ordinary People”)

Rawa Tengah, 28 Mei 2011, 08.49

*tulisan ini disusun untuk meramaikan arisan kata 15 yang diusulkan oleh Mas Moestoain dengan syarat mencantumkan kata-kata berikut ini : kembali, simbiosis, bedinde, lengkap, anti, langgam, sepi, tirai, bara, kenang

46 komentar:

  1. Bagi yang asing dengan kata-kata arisan kali ini, berikut definisinya :
    Kembali: [v] (1) balik ke tempat atau ke keadaan semula: (2) lagi: (3) sekali lagi; berulang lagi:
    Simbiosis: [n] (1) [kimia] keadaan yg menguntungkan pd pembentuk dua jenis zat, apabila kedua zat tsb dapat bersama-sama dl lingkungan serupa; (2) [biologi] keadaan hidup bersama secara erat antara dua organisme yg berbeda
    Bedinde: [n cak] orang gajian yg kerjanya membantu mengurus rumah tangga; pembantu rumah tangga; pelayan
    Lengkap: [a] (1) tidak ada kurangnya; genap: (2) sedia segala-galanya; sempurna dng alat senjata dsb: (3) berikut pasangannya (paduannya dsb):
    Anti: [p] tidak setuju; tidak suka; tidak senang:
    Langgam: [n] (1) gaya; model; cara: (2) adat atau kebiasaan: (3) bentuk irama lagu (nyanyian):
    Sepi: [a] (1) sunyi; lengang: (2) tidak ada orang (kendaraan dsb); tidak banyak tamu (pembeli dsb); tidak ada kegiatan; tidak ada apa-apa; tidak ramai: (3) dianggap tidak ada apa-apa; tidak dihiraukan sama sekali: -- dr (gangguan, bahaya, dsb), tidak ada atau terlepas dr (gangguan, bahaya, dsb)
    Tirai: [n] (1) kain (sutra dsb) berumbai-umbai yg dipakai untuk perhiasan langit-langit tempat tidur atau tempat duduk; (2) kain penutup pintu (jendela dsb); gorden; (3) kain pemisah ruangan (yg tergantung)
    Bara: [n] barang sesuatu (arang) yg terbakar dan masih berapi
    Kenang: [v] me.nge.nang v (selalu) membangkitkan kembali dl ingatan; mengingat-ingat; membayangkan:

    BalasHapus
  2. Special note for mus :
    Hehehe bentuknya cerita aja ya, gapapa to? Soalnya ngepas pengen banget cerita. Kata-kata arisan kali ini mengantarkan saya pada keinginan untuk curhat colongan secara tersirat he dan terasa lebih mengalir kalau dibuat cerita kek gini.

    BalasHapus
  3. arisan kata sekarang bukan puisi to?

    BalasHapus
  4. @mb april...
    kayaknya sih emang harusnya puisi.... tapi yo itu pada special notes buat mus, saya teh mau breaking the rule hehehe

    BalasHapus
  5. perenungan diri tentang realitas, ya ...
    tapi kalau di mp, saya tak melihatmu sepi dan sendiri ... he he he ...

    BalasHapus
  6. kamu "manusia" ya? kirain "buah" hihihi ^_^V

    BalasHapus
  7. @mas hendra....
    kira-kira seperti itulah mas.... belakangan sedang kurang cocok dengan realita yang saya hadapi....
    curcol dah jadinya....
    kalau di MP mah emang jadi kepribadian bersisi lain...
    secara konsep mah emang maunya kalau di MP yang ceria dan menceriakan aja...
    sesi kali ini saya pengen curcol aja gitu he

    BalasHapus
  8. @mb april...
    jiyaaaaaaaaah mosok dianggep nanas beneran sih....
    judulnya aneh kalau 'hanyalah nanas biasa yang rasanya asem-asem gimana gitu tapi sebenarnya penuh sensasi' he.... kan isinya sedang melo total

    BalasHapus
  9. tunggu ...! jangan curcol dulu ...

    *ngambil ember dan gentong dulu ... ha ha ha ...

    BalasHapus
  10. @mas hendra....
    ~_~ emang ada yang bocor yaks.... weleh weleh... maklum musim ujan deres... pas rasanya kalau curcol jua :P

    *OOT yang parah*

    BalasHapus
  11. Kayanya kemarin mas Mus, memperbolehkan bentuknya prosa deh...

    *nimbrung

    BalasHapus
  12. @mb laila
    yang arisan kata 14-nya saya dulu juga prosa (http://nanazh.multiply.com/journal/item/168/arisan_kata_14_senandung_tentang_kesendirian) dan itu boleh-boleh aja sih, mung itu kepanjangan katanya mus he, terus ada versi editannya mus tuh....

    BalasHapus
  13. gubraaaaaaaaaakkkk.. dowo banget naz......
    eheheheh
    aku ga mungkin gawe arisan sedawa iki.. ihihihi..

    BalasHapus
  14. @mb fajar.. hohoho kalau ada tulisan yg msh pendek, bolehlah kiranya tujukan ke saya biar jadi tmbh panjang, mb... la piye meneh ik q curcole bocor bgt si, dadine yo akeh ngene, mb, he

    BalasHapus
  15. eh naz kamsude prosa iku ki.. meh ko puisi
    cuma.... kaya cerita..
    singkat2 ngunu sakngertiku.. ehehehehe...
    sik ngko takgolekke contone sing kerep gawe prosa.. cah mp

    BalasHapus
  16. Benamkan traumatik itu...semoga kelak dia muncul disaat kita menjadi tokoh antagonis dalam episode itu...C#

    BalasHapus
  17. @mb fajar.. cariin yo, mb.. biar tambah khasanah sastra he.. cethek punya ni diriku.

    BalasHapus
  18. @fatah... iya juga.. jgn sampai nanti beralih generasi malah jadi penerus dari yg lama. makanya jg nulis ni biar jadi pengingatlah akan masa-masa ni.

    BalasHapus
  19. @mb fajar....
    mb fajar guruku banget dah...... matur nuwun sanget nggih, mbak.....
    tapi kalau yang ini emang niatannya bukan buat prosa sih, emang pengennya cerita
    jadi gak aku edit jadi prosa ya... males, mb, hehehe... ntar aja kalau ada arisan kata lagi hihihi

    BalasHapus
  20. @mus....
    weleh weleh weleh
    *tambah ngulangin aja :D

    BalasHapus
  21. mo ikutan piye carane mas...?
    kayae pas banget deh ma yang barusan aku alami...

    BalasHapus
  22. Tinggal tulis kata2 diatas, terus tulis judulnya arisan kata 15
    dan setor link ke anas hehehe..

    BalasHapus
  23. Nah prosa itu boleh panjang asal diksinya keren dan berbeda dengan berita hehehe

    BalasHapus
  24. @mb laila.. mengalami apa mb? kata2ne pas buat nyeritain kejadian yg mb alami? ayo ayo ikutan..

    BalasHapus
  25. @mus.. loh kok setor linknya ke saya? ni pasti gara2 ‘mati suri’nya mus yo? -_-a

    BalasHapus
  26. @mus... heuheuheu keknya punya saya krg efisien en efektif mgunakan diksi kata dah. msh bisa diringkas.. tpi mls ah :P

    BalasHapus
  27. @mb laila.. ya itu gara2 akunnya mus ‘mati suri’ sementara waktu ni katanya..

    BalasHapus
  28. @mas rifki.. sgt menunggu nih karya pujangga yg satu ni :)

    BalasHapus
  29. Nitip nas, fokus ujian dulu yee hehehe

    BalasHapus
  30. @mus.. oalah gegara ujian rupanya.. sukses bt ujiannya ya, mus.. smoga tahan puasa ngempinya xixixi

    BalasHapus
  31. @latansaide... hohoho ni korbannya mus yg bingung setor linknya ke mana yaks? waaah mus tanggung jwb ni :D

    BalasHapus
  32. Wah, setor di sini ya

    Ntar, mo cari - cari ilham dulu yach :D

    BalasHapus
  33. @dhaimasrani....
    jiyaaaah yaudahlah gegara mus nih....
    tapi tak apalah kalau setor link juga ke sini...
    biar ntar saya bisa liat2 juga hehehe

    BalasHapus
  34. @latansaide...
    ya begitulah seorang mus yang hendak konsen ma ujian makanya mpnya dimatisurikan dulu...
    tapi masih bisa akses kok kalau berkunjung ke mp via mobile... http://multiply.com/m/item/moestoain:journal:339

    BalasHapus
  35. @dhaimasrani.. hohoho jadi kerasa ni manfaatnya pada nyetor di sini. berkunjung aaah..

    BalasHapus
  36. @dhaimasrani.. hohoho jadi kerasa ni manfaatnya pada nyetor di sini. berkunjung aaah..

    BalasHapus
  37. @mb laila...
    oalah ini to yang belum sempat kucomment....
    durung berkunjung ik mbak...
    maaf maaf maaf
    bentar lagi deh mampir he

    BalasHapus