Sabtu, 16 April 2011

tentang berkeluh

Manusia selalu mempunyai harapan. Dengan harapan, maka hidupnya menjadi bercahaya. Dengan harapan, maka keinginan menjadi begitu kuat untuk diwujudkan. Dengan harapan, maka akan selalu ada ikhtiar yang mengiringi untuk menjadikan keinginan menjadi nyata dan bersinar seterang cahaya.

Kenyataan adalah apa yang benar-benar dirasakan oleh manusia melalui indera yang dikaruniakan Illahi padanya. Kenyataan menjadi apa-apa yang dihadapi manusia selama rentang waktu kehidupan yang dijalani. Kenyataan itu suatu fungsi yang tidak berada pada ranah kuasa manusia, tetapi ada campur tangan Sang Maha Pengatur di dalamnya untuk menentukan apa yang terjadi pada hidup manusia. Senyatanya kenyataan menjadikan kehidupan adalah benar-benar hidup pada hakikatnya.

Namun kenyataan merupakan hal yang konkret, bukan abstrak sebagaimana halnya hakikat dari harapan. Harapan adalah yang ada dalam angan-angan, sesuatu yang tidak bisa dijangkau dalam ranah waktu sekarang. Ia ada pada dimensi waktu yang mendatang dan ia adalah suatu fungsi yang dibentuk oleh pikiran dan keinginan manusia.

Maka keduanya boleh jadi adalah suatu hal yang bertentangan antara satu sama lain. Walaupun, itu tidak menjadi suatu ketetapan yang mengikat. Kenyataan bukanlah menjadi suatu kontradiksi dari harapan. Namun, di antara harapan dan kenyataan itu ada suatu celah. Celah yang bisa jadi itu jauh atau dekat. Celah yang bisa jadi menjadikan harapan dan kenyataan itu adalah satu hal yang sama atau justru sangat berbeda di antara keduanya.

Dalam celah jarak antara harapan dan kenyataan itulah, manusia memilih sikap apa yang ia kehendaki. Lazimnya akan muncul kekecewaan saat rentang celah itu begitu jauh. Begitulah fitrah manusia. Harapan akan suatu keinginan menjadi suatu hal yang utama bagi manusia untuk dijadikan tidak sekadar abstrak lagi, melainkan menjadi sekonkret kenyataan.  Namun, fungsi kenyataan adalah fungsi yang tidak bisa diatur sekehendaknya sendiri sebagaimana fungsi keinginan, maka tak akan menjadi hal yang baku kalau seluruh keinginan itu bisa diwujudkan.

Rasa kecewa memang sudah terdefinisikan sebagai suatu bentuk perasaan negatif yang muncul akibat gagalnya keinginan menjadi nyata. Tidaklah sama tanggapan satu orang dengan orang lainnya saat dirinya menghadapi suatu rasa kecewa. Manusia mempunyai cara beragam dalam menghadapinya, entah itu dalam koridor yang tepat atau pun ada jua yang tidak tepat. Bagi mereka yang sudah paham bahwa kehidupan tak’kan menjadi persis sebagaimana apa yang diharapkan dalam bayang-bayang keinginan, maka rasa kecewa akan mereka obati dengan terapi hati untuk sanggup menerima kenyataan yang harus dijalani. Sedangkan, bagi mereka yang sebaliknya tidak paham, bisa jadi ia memilih untuk larut dalam kekecewaan itu dan mengimbaskan perasaan-perasaan negatif lainnya, seperti kemarahan, kesedihan, kecemburuan, dan lainnya.

Keluhan menjadi suatu bentuk jelas dari tersiratnya rasa kecewa yang bercokol pada hati dan pikiran manusia akan celah yang begitu jauh antara harapan dan kenyataan. Keluhan terjadi karena beratnya beban yang dirasakan manusia untuk menjalani kenyataan yang ternyata tak sesuai dengan keinginan. Keinginan jelas menjadi apa yang akan manusia sukai dan kehendaki, sehingga kenyataan yang tak sesuai keinginan adalah hal yang tidak bisa dihindari dan mau tak mau harus dijalani, entah dengan perasaan suka atau pun tak suka. Lazimnya karena bertolak belakang dengan keinginan yang sangat dikehendaki, maka kenyataan semacam itu adalah hal yang tidak disukai. Ketidaksukaan akan kenyataan melahirkan keengganan dalam kehidupan dan inilah yang membebani serta kemudian berpotensi menimbulkan keluhan.

Keluhan adalah suatu hal yang negatif apabila dengan keluhan itu menjadikan diri tidak menerima apa yang harus dihadapi dalam kenyataan dan melarutkan diri dalam kekecewaan yang begitu dalam, sehingga tidak dapat untuk bangkit lagi mengejar keinginan. Keluhan sebenarnya bukanlah kontradiksi dari ungkapan syukur. Namun, kecenderungannya apabila keluhan tersampaikan dengan kata-kata yang tidak tepat, maka ia akan menjadi lawan yang jelas dari kesyukuran.

Realitanya memang seperti itu. Saat manusia mengeluh, maka bisa jadi ia tergelincir dengan mudah mengucapkan pernyataan bahwa dirinya tidak seharusnya dan tidak patut untuk menerima kenyataan yang begitu jauh dari keinginan. Manusia seakan berada pada posisi yang begitu tinggi dan tahu menahu apa yang menurutnya adalah hal terbaik baginya. Padahal, kalau ada iman yang melekat di dalam nuraninya, maka pernyataan dan anggapan semacam itu adalah hal yang terlarang.

Maka terlontarlah perkataan sebagaimana contoh, “Tuhan seakan tak adil padaku”, “kenapa Tuhan begitu kejam padaku”, “Tuhan tak tahu apa yang aku inginkan”, atau semacam perkataan yang sarat akan kebencian akan kenyataan yang dihadapi, seringnya jua dengan umpatan-umpatan yang tidak patut. Tak puas dengan menyalahkan Sang Maha Pengatur akan pahitnya kenyataan, maka orang lain pun juga dijadikan sebagai penyebab dari timpangnya kenyataan dan harapan, malah tidak introspeksi ke dalam dirinya sendiri. Inilah bentuk keluhan yang tak seharusnya terucap dari mulut manusia yang beriman.

Kalau iman itu melekat kuat dalam nuraninya, maka manusia akan sadar, ia harus menjalaninya dengan sikap sabar dan syukur sebagai obat rasa kecewa yang ia hadapi. Sabar dalam menghadapi ketidaksukaannya dalam menghadapi kenyataan tersebut dan syukur akan nikmat Allah lainnya yang masih dikaruniakan pada manusia walaupun ada hal yang tak sesuai dengan pengharapan. Bisa jadi hal tersebut adalah suatu nikmat tersendiri bagi manusia karena dengan adanya kenyataan itu dapat menjadikan manusia lebih belajar tentang kehidupan atau mengalami hal yang lebih baik daripada seandainya harapan terkabulkan menjadi nyata.

 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (Q.S. Al Baqarah:216)

Lalu, bagaimanakah caranya untuk mengelola kekecewaan agar tidak memunculkan suatu keluhan yang tidak tepat?

Maka, lakukan pembicaraan yang intim dengan Sang Maha Pengatur. Katakan pada-Nya segala hal yang menjadi beban bagimu. Jadikanlah Dia hanyalah satu-satunya tempat bergantung sebagaimana dirimu menyakini dalam firmannya, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (Q. S. Al Ikhlas:2). Mengeluhlah pada-Nya dengan sebaik-baiknya perkataan.

Janganlah mengutarakan ketidaksukaanmu akan kenyataan yang harus dijalani. Mintalah kekuatan untuk menjadikan dirimu sanggup untuk menjalani segala ketetapan-Nya dalam kehidupanmu. Mengeluh yang baik menjadi suatu tanda yang jelas bahwa dirimu menyatakan tidak akan sanggup menjalani hidup ini bila tiada kekuatan dan daya yang diberikan-Nya untuk mengokohkanmu dalam hidup. Mintalah kesabaran yang selalu mengiringimu menjalani kenyataan itu dan jadikan ia sebagai suatu pembelajaran sarat hikmah. Mengeluhlah pada-Nya dengan perkataan yang memicu untuk memunculkan kekuatan untuk bangkit kembali.

Skenario Allah yang telah ditetapkan untuk manusia adalah hal yang terlalu indah untuk manusia cela. Manusia dengan keterbatasan sebagai makhluk sungguh tak mempunyai kepantasan dalam menilai baik-buruknya kejadian dalam hidupnya tanpa petunjuk dari Illahi. Pemahaman bahwa Allah memberikan hal yang terbaik kepada seluruh hamba-Nya tanpa terkecuali dan mengatur sedemikian rupa alur kehidupan manusia harus benar-benar diyakini karena itu adalah salah satu bentuk manifestasi keimanan pada-Nya.

Jangan sampai keluhan itu kemudian juga menyebabkan munculnya andaian yang tidak berguna. Andaian yang semu mengharap kenyataan bisa menjadi sebagaimana apa yang diinginkan dalam kentalnya suasana kekecewaan yang memupus usaha-usaha untuk bangkit kembali. Pengandaian semacam ini adalah hal yang terlarang sebagaimana sabda Nabi, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini, niscaya akan menjadi begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Allah telah menakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (H. R. Muslim)

Pahitnya kenyataan dalam kehidupan adalah suatu ujian. Manusia yang mempunyai keimanan yang begitu menghunjam kuat di hati sanubarinya akan mampu lulus dalam ujian tersebut dengan izin-Nya. Ia pun juga memahami bahwa kehidupan orang-orang shaleh sebelum dirinya begitu penuh ujian dan mereka mampu melewatinya sebagaimana apa yang difirmakan dalam Al Baqarah : 214, Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Firman di atas adalah sebagai pengingat akan kehidupan yang sarat akan ujian untuk menempa keimanan dan juga sebagai pemicu bahwa untuk bisa menjadi penduduk negeri surga, haruslah dapat menempuh ujian kehidupan dengan sebaik-baiknya penyikapan.

Inilah hal ihwal tentang berkeluh. Seiring diri berusaha memahami satu per satu fragmen kehidupan yang telah dijalani, maka semakin diri memahami bahwa kehidupan sungguh begitu indah bila mampu merenungi hikmah yang begitu berharga di dalamnya. Apa yang tidak sesuai dengan keinginan dan telah mewujud menjadi nyata adalah satu bagian dari skenario Allah yang begitu indah dan sempurna. Bahkan terkadang menjadikan diri bertanya-tanya, bagaimana diri sanggup melewati semuanya itu dan jawabannya hanyalah satu, semuanya itu karena adanya kekuatan yang berasal dari-Nya untuk dapat menjalani kehidupan ini.

Rawa Tengah, 16 April 2011, 23.43

44 komentar:

  1. Diantara harapan dan kenyataan bisa timbul kebingungan dan kesedihan. sehingga Rasul SAW mengajarkan doa:

    Allahuma inni audzubika minal hammi wal hazan;
    (Ya Allah, hamba berlindung dari kebingungan dan kesedihan)

    BalasHapus
  2. mengeluh yang baik maksudnya gimana mas anas?

    BalasHapus
  3. salah satu doa favorit saya, mas....

    BalasHapus
  4. iya mas, doa yang sangat indah .. sedikit pembahasan tentang doa itu ada di tulisan yang ini

    BalasHapus
  5. @mas nahar...
    yaah balesan comment saya kedelete gak sengaja,,, wua, langsung ke link ah, mau nambah ilmu... makasih mas...

    BalasHapus
  6. gak apa2 mas .. :D

    soalnya memang dempet-dempetan sih .. :D

    BalasHapus
  7. @mas priyo...
    ni berdasarkan konsep saya yaks, kalau ada yang bisa memberitahukan konsep yang lebih shahih berdasar alim ulama, itu bahkan lebih baik...
    'mengeluh yang baik' itu dengan sebagaimana yang saya utarakan sebelumnya, yakni berbicara lewat doa dan menyatakan bahwa segala sesuatunya menjadi berat bila tidak disertakan kekuatan dari Allah, sehingga dalam pinta doa yang dipanjatkan, ada permohonan untuk diberikan kekuatan...

    BalasHapus
  8. wah maaf ya saya lagi bercinta dengan MP jadi tidak melayani sambatan apapun hehehe

    BalasHapus
  9. hehehe nyambung ya ma QN terbaru dari mus... *baru nyadar padahal dah comment...
    sambat, kosakata baru...
    hohoho makasih mus dah nambah perbendaharaan kata saya nih

    BalasHapus
  10. Manusia biasa .....berkeluh resah.........biasa......yg gak mengeluh rasanya luar biasa deh.....moga kita bisa jadi yg seperti yg luar biasa ya ..inshallah
    Masukan yg baik di fikirkan bersama untuk medidik generasi yg gak suka berkeluh resah.....tapi gigih berusaha....inshallah amin

    BalasHapus
  11. Saya menghadapi dinding yang tebal dan tinggi saat ini, tapi kalau saya gagal maka saya bukan seorang yang pantas menjadi pembelajar atau dikatakan sebagai orang yang gagal. Semoga ada hikmahnya, melihat dari sisi lain, melihat dari hati yang jernih

    BalasHapus
  12. betul betul betul....
    akan menjadi lebih baik bila keluhan itu tidak ada...
    hmm kenapa saya mengetengahkan tema ni karena terkadang di zaman yang begitu penuh kesusahan di mana-mana seperti sekarang ini, keluhan dengan cara yang tidak baik dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan dimaklumi.

    BalasHapus
  13. bukankah terkadang ada suatu kuasa lain di luar kuasa kita yang menentukan keberhasilan akan sesuatu?
    justru momen gagal itu dapat kita jadikan sebagai bahan pembelajaran yang luar biasa lo....
    emang sih jangan sampai menjadikan pemakluman dan pembenaran saat seseorang itu mengalami kegagalan...
    tetapi ada satu poin yang benar2 sedang dihayati di sini bahwa kepada Sang Maha Pengatur semuanya akan digantungkan... bukan kita yang menentukan suatu usaha itu pasti berhasil atau tidak, tetapi Dialah yang menentukan...

    BalasHapus
  14. sudah tabiat manusia berkeluh kesah

    BalasHapus
  15. setelah saya renungi dan matangkan konsep tulisan ini juga saya dapat kesimpulan memang fitrah manusia itu akan mengeluh bilamana ada gap antara realita dan keinginan

    BalasHapus
  16. motivasi dari dalam diri, setidaknya saya bisa berpikiran positif, melihat ketidak mungkinan menjadi sebuah kemungkinan, melihat pandangan yang mustahil itu diraih hanya suatu kepercayaan bukan suatu asumsi atau persepsi. Itu adalah pikiran yang ada di benak saya saat ini. Semoga saya masih terhindar dari keadaan futur

    BalasHapus
  17. Mau bagai mana....saudaraku.....itu kan lumrah manisiawi......kecuali orang orang yg berilmu dan tahu bahawa keluh resah itu berdosa...nah kalau orang awam kan gak begitu.....kuat imannya.....dan mungkin jahil.....tentang keluh resah itu sendiri.......waullahuallam...saudara ku........

    BalasHapus
  18. D Masiv Syukuri Apa Yang Ada...moga nanti makin berkah lg :)

    BalasHapus
  19. Benar bgt Naz.. Yg kurasakan kalo sdkt aja mengeluh, apa yg terjadi terasa sgt sulit dilewati. Tp namanya manusia up and down

    BalasHapus
  20. keintiman curhat pada-Nya harus juga diimbangi dengan jihad raga untuk tidak menunjukkan kesan mengeluh pada sesama. kadang kita berkata ikhlas atau ridho pada takdir namun wajah justru tertekuk dan badan lunglai tak bersemangat. "senyumlah" seperti kata raihan. (koreksi bagi ane pribadi)

    BalasHapus
  21. wuies.... Aji yang super... coba kalau dibahas dalam satu postingan jurnal tersendiri oleh Aji... keknya bakal oke punya....

    BalasHapus
  22. Allahumma aamiin... doakan kakak2mu juga ya, nak... ini kan jadi urgensi dari Al Ashr untuk saling mengingatkan :)

    BalasHapus
  23. begitulah sepertinya kalau ilmu tidak ada, maka hidup manusia menjadi begitu kelam...
    hmm pada dasarnya juga yang rawan berkeluh itu tidak hanya pada kalangan yang kurang ilmunya juga, tetapi orang berilmu pun juga rawan...
    malah yang jadi latar belakarng tulisan ini pada mulanya terinspirasi oleh peristiwa di mana banyak teman sekantor saya yang begitu banyak berkeluh dalam cara negatif atas keterlambatan pencairan honor bulanan karena kesalahan administratif...
    semoga senantiasa kita terhindar dari kejahilan setelah kita memahami suatu ilmu...

    BalasHapus
  24. wuaaaa kak ario tahu aja nih soundtrack yang pas untuk tulisan ini... dulu juga jadi lagu favorit euy... *siapa sih yang gak suka dengan liriknya tuh he*
    yaps, semoga keberkahan senantiasa mengiringi kita dengan bersyukur, bukan mengeluh

    BalasHapus
  25. of course.... thanks,mas.... ^_^

    BalasHapus
  26. of course lah... thanks, mas... ^_^

    BalasHapus
  27. @mas hendra
    of course lah... thanks, mas... ^_^

    BalasHapus
  28. @kharly
    betul betul betul....
    satu poin lagi yang luput bahwa jangan sampai menunjukkan keluhan itu secara nyata dan tunjukkan ketegaran semampu mungkin. Kalau mengeluh pada manusia sepertinya menggantungkan diri pada makhluk, padahal seharusnya hanya untuk Allah saja yang jelas bisa mengubah keadaan dengan kuasa-Nya.
    Jadi juga perlu ada koherensi (perpaduan) antara kesadaran hati, perkataan lisan, dan juga tindakan untuk tidak mengeluh secara negatif...
    bdw, nasyid Senyum sedang jadi playlist saya loh... tahu aja he *another soundtrack yang pas buat tulisan ni*

    BalasHapus
  29. eh kelupaan, maaf
    @mb ipie
    Karena kecewa itu bisa diumpamakan seperti kondisi di tepi jurang dan keluhan menjadikan kita tergelincir ke dalam jurang sehingga susah bangkit.
    sebagaimana yang sudah saya bahas dan juga bang Romi comment bahwa fitrah manusia untuk merasa kecewa... tetapi jangan sampai mengeluh, apalagi dengan hal yang tidak baik seperti yang saya terangkan juga sebelumnya...
    yaps, semoga kita bisa belajar, walaupun masih step by step, untuk menjadi sosok yang tidak mudah mengeluh saat harapan dan kenyataan itu begitu berbeda.

    BalasHapus
  30. cen aku ono ning viewing hystory... =p

    sik naz.. komene sik yaa.. tak posting jurnal sik

    BalasHapus
  31. @mb fajar...
    beginilah kehebatan MP tak memberikan sedikit pun ruang untuk mata-mata he...
    wuah sedang nyiapin jurnal nih, taktunggu...

    BalasHapus
  32. manusia diciptakan emang berkeluh kesah, itu udah jadi potensi kekurangannya sejak lahir
    ga masalah berkeluh kesah, asal dilayangkan ke ALLAH aja *masih belajar*

    BalasHapus
  33. dadi kelingan timpukanmu sing stylish blogger kae.. ono sing tentang keluh kesah ning nggonq.. hihi
    munine test psikologi ga ada dalam kamusq mengeluh,,

    BalasHapus
  34. @ludi...
    iya.. menyerahkan segala sesuatunya pada Allah akan jadi lebih baik... mari kita sama-sama belajar

    BalasHapus
  35. @mb fajar...
    wuaaaaah keren pancen q...
    mb fajar bisa menjadi teladan bagi kita-kita semua he

    BalasHapus
  36. surat Al Baqarah:216 emang mantab. kita ga akan percaya sblm mengalaminya sendiri ;-)

    BalasHapus
  37. @mas dedy...
    sudah begitu banyak peristiwa dalam hidup saya pribadi yang pas banget juga dengan firman tersebut T_T

    BalasHapus
  38. @kak ario...
    ikut mengaminkan juga ah.. Allahumma aamiin

    BalasHapus
  39. Suka deh sama tulisan ini.. sayang aku hanyalah manusia biasa, yang sampe sekarangpun masih belajar bagaimana caranya untuk bersyukur dalam semua kondisi.. Hehehe Smangads..

    BalasHapus
  40. sama kok kak ma saya...
    hmm ni tulisan ini semoga tidak terkesan untuk mendikte para pembacanya, tetapi ruh dari tulisan ini sebenarnya diniatkan justru untuk mendikte diri saya sendiri utamanya...
    jelaslah kudu semangat... semangat juga kak muse! ^_^

    BalasHapus