Harapan adalah cahaya manusia. Ia menjadikan manusia berbeda daripada makhluk-Nya yang lain. Setiap cahaya akan menjadikan penyinar bagi keadaan sekitarnya. Dan begitulah harapan, harapan menjadikan manusia bersinar dan juga menjadi penyinar bagi lainnya. Dengan sinarnya itu, ia akan menjadikan segala sesuatu menjadi baik dan cenderung terlepas dari keburukan.
Harapan dan Keinginan
Karena manusia selalu mempunyai harapan. Manusia tercipta dengan begitu banyaknya keinginan. Keinginan itulah yang muncul dari akal pikiran dan perasaan yang dikaruniakan oleh Allah padanya. Fitrah dan nurani manusia cenderung pada hasrat untuk memenuhi keinginannya dan fitrah manusia yang hakiki akan selalu mengarah pada kebaikan dan kebenaran yang ditunjukkan oleh Allah.
Harapan dan Ikhtiar
Dengan harapan, maka manusia menjadi sosok yang menggantungkan diri pada harapan itu. Ia menginginkan agar apa yang diinginkannya mewujud menjadi nyata. Namun, tak bisalah hanya manusia yang menjadi faktor penentu tercapainya harapan itu. Justru, kendali akan harapan itu ada pada Allah. Manusia yang bergantung pada harapan, seharusnya pula menggantungkan harapan itu pada Sang Maha Perencana. Harapan itu tercantum dalam doa yang begitu penuh kekuatan dan kekuatan itulah yang menghantarkan manusia untuk berusaha (berikhtiar) semampu yang ia bisa, bahkan melejitkan seluruh potensi kekuatan yang dimilikinya. Begitulah adanya harapan dan harapan itulah yang akan selalu ada pada manusia.
Masjid Al Amanah, 13 April 2011, ba’da isya
Tulisan ini disusun dalam rangka semacam workshop sederhana tulis menulis dalam rangkaian acara mabit di masjid kantor saya semalam. Hohoho sang pemateri, Pak Dedhi Suharto, menantang peserta untuk menuliskan tulisan bertema relijius dalam waktu hanya 15 menit saja dan mengandung 3 subtopik yang berkaitan. Lalu, akhirnya karena yang sedang terbersit dalam ide saya saat itu adalah hal tentang harapan, langsung dah saya tuliskan uneg-uneg saya tentang harapan dan jadilah tulisan di atas. Nah, di akhir sesi materi dari beliau, beliau berjanji memberikan hadiah kepada tulisan yang terpilih. Alhamdulillah, tak disangka-sangka tulisan sayalah yang dipilih. Padahal sebenarnya kalau saya lihat dari hasil tulisan peserta lain banyak yang lebih baik, toh juga pesertanya ngepas sedikit juga, saya terlalu beruntung semalam tadi he. Hadiah yang saya terima berupa buku karangan beliau (Pak Dedhi Suharto) yang berjudul “Negarawan Qur’ani”, sebuah buku yang sekilas (karena belum baca keseluruhannya) memberikan konsep baru dalam menerapkan nilai Qur’an dalam perspektif bernegara yang dianalogikan dengan proses pertumbuhan suatu pohon. Sungguh suatu kebahagiaan yang indah bagi saya, bisa bermalam bersama dengan teman-teman sholeh, mendapatkan materi kepenulisan, dan juga mendapatkan hadiah he ^_^.
BalasHapusharapan itu SELALU ada.. hehehe
BalasHapusfajr gtu loh.. *opo to jar.. =))
Pengen :(
BalasHapuseh.. naz.. aku meh posting kabeh arisanq.. takdadekke sakjurnal.. rep nonton ra?
BalasHapusSelamat yah, Naz
BalasHapusberkah nulis panjang2 tuh nas. He2.
BalasHapusresensine yoo.. gawe2,,,
BalasHapusHarapan itu masih ada
BalasHapus*tagline yang kayaknya selalu ingin diingat walo udah lewat...hehehe
Go Strive dear Dek Nas !! ^____^v
^^
BalasHapusHarapan yg setinggi gunung itu kini berjatuhan di muka bumi.....namun kerana percaya pada diri, harapan itu ku bina kembali.....dengan ....tingginya keinginan untuk terus hidup dan beramal untuk menuju ke kampung asal ku......syurga....inshallah.....Masukan yg baik di baca.
BalasHapusWow... Selamat ya nas.. Pengen nyari bukunya...
BalasHapuskatanya... manusia bisa hidup tanpa maan selama seminggu, bisa hidup tanpa air selama tiga hari, tapi tak bisa hidup sedetik pun tanpa harapan
BalasHapusselamat, mas.
beliau pernah jadi pembicara juga di di masjid kantor saya
Selamat..
BalasHapus*makan-makan
menyesal tadi datang terlambat, kalau tahu tulisan terbaiknya adalah punya Anas.
BalasHapus^_^v
harapan yang indah ... he he he ...
BalasHapusasiikk...
BalasHapus*bukunya dibagi jg tak nas?
hehe
@mb fajar...
BalasHapusjadi pada bernasyid ria yaks -_-a
wah, kalau harapan adalah sinar, maka fajar yang bersinar mesti penuh harapan emang he...
@mb anaz, there will be a chance, if we take the hope inside our heart... semoga bisa berbahagia seperti saya atau bisa lebih bahagia lagi dengan peristiwa2 lainnya...
BalasHapus@mb fajar
BalasHapuswuiiieh diriku tak sadar dan terkaget2 lo sampeyan ikutan arisan kata ternyata...
monggo kasih link segera hooo
@mb anaz, makasih mbak
BalasHapus@bang romi...
BalasHapushohoho mungkin juga kali yaks...
ni sebenarnya udah terbersit ide untuk dijadikan postingan panjang, tapi ah maunya yang orisinil aja, toh juga ni sekali2nya saya nulis pendek he
@mb fajar...
BalasHapushuaduh ni nih kalau ngresensi kok mesti berat banget yaks.. harusnya ni mau ngerampungin posting review buat buku Fiqh Sakit Hati yang dulu direkomendasikan bang Romi, tapi tangan ini belum tergerakkan nih...
hmm tapi setelah workshop ni, harusnya lebih produktif... well, hope you patient to wait for it, mbak he...
@mb miftah
BalasHapussepertinya tu tagline abadi deh harusnya... emang sekarang lagi ganti tagline apa nih mbak?
@mb ute.. makasih
BalasHapus@firman... wuaaaaaaaa nice sentence really.... kalah deh berkalimat2 yang saya buat tentang harapan dengan only one sentence dari firman...
BalasHapusinsya Allah bisa dengan harapan untuk menjadi baik, lebih baik, dan jua bahkan menjadi terbaik...
@mas rifki...
BalasHapusanother deeply meaning sentence... kalau sudah tidak ada harapan, ibarat itu lebih buruk daripada mati fisik. jadi inget kata bijak, apalah gunanya hidup, bila tak ada suatu yang bisa diharapkan lagi dari kehidupan.
wah, pak Dedhi sering roadshow yaks, dulu juga katanya launching bukunya di masjid2 lapangan banteng (keknya saya saat itu masih jadi mahasiswa)
@eko...
BalasHapuskalau masih ada rezeki yang tersisa yaks... *buru2 diabisin ah heheh*
@imam...
BalasHapusckckckckck
kan juga masih ada kesempatan waktu itu...
sampeyan ae yang males gak ketulungan hehehe...
yah kan udah kesebut tadi, tulisan saya ni jadi yang "terpilih" bukan yang "terbaik"... sangat mungkin sekali ada tulisan yang lebih baik... apalagi kalau ada tulisan cintrong mencontrengnya Imam he
@mas hendra...
BalasHapuskalau kemaren pagi yang indah, semalam malam yang indah... dan semuanya itu karena harapan yang indah *halah*
@dedeh
BalasHapuswuah maksudnya bukunya dirobek2 gitu jadi bagian2 yang kemudian dibagi2... *halah dudul
hmm ntar kalau memang ada kesempatan, akan saya usahakan untuk direview dah... ditunggu dengan sabar yaks
kalo dah gk pny harapan.... apa bedanya ma si gukguk :)
BalasHapussemoga trcapai semua harapannya ya...
BalasHapuswaduew....
BalasHapus@bang dayan, yoa, betul sekali... manusia itu makhluk beda banget rasanya
BalasHapus@mas dedy...
BalasHapusAllahumma aamin...
*harapan akan penempatan, harapan cepat jodoh, harapan harapan harapan... harapan tiada henti....
@imam...
BalasHapuswadeuw balik...
btw, sudah mulai eksis di alamanah.com belum Nas?
BalasHapusbelum ik...
BalasHapuskeknya perlu lebih melatih dulu sebelum suatu tulisan bener2 dipublish yang versi matangnya.
begitulah
BalasHapusjadi inget dulu masa2 magang di infomedia MBM....
BalasHapussaya tuh diberikan penugasan intens untuk menulis selama berkali-kali dan itu tidak untuk dipublish...
hanya satu doang yang kemudian dipublish dan itu adalah karya terakhir sebelum akhirnya mengakhiri masa magang dan tidak lanjut jadi staf
wah, selamat ya Nas. Akhirnya dipublish juga.
BalasHapus:)
telat ngasih selamatnya -_-a
BalasHapus