Jumat, 18 Maret 2011

"keep on moving"

Mohon maaf sebelumnya jika ada yang menyangka postingan saya kali ini berkaitan dengan hal ihwal tentang motivasi atau sejenisnya dari sekilas judul di atas. Tulisan yang saya buat kali ini bukanlah mengenai hal tersebut. Oleh karena itu juga, saya gunakan tanda petik dalam pencantuman judul tersebut. Ada pun maksud asli dari postingan ini adalah sehubungan dengan perpindahan tempat domisili saya selama berada di Ibukota kurang lebih 5 bulan ini. Ya, sekadar berbagi tulisan aja wabil khusus untuk saya pribadi karena hal tentang perpindahan ini nantinya akan menjadi sesuatu yang menurut saya pantas untuk saya jadikan salah satu moments to remember...

Keep on moving. Terus berpindah, sejatinya inilah definisi yang hendak saya sampaikan dan menjadi inti dari tulisan ini. Pengalaman saya selama berada di Ibukota ini begitu penuh lika-liku hingga akhirnya pula menjadikan saya seperti ini, pengembara yang terus berpindah-pindah dari satu wilayah Jakarta ke wilayah lainnya. Hmm ada berbagai faktor yang mempengaruhi saya seperti ini, walaupun jujur sebenarnya saya sih tidak terlalu punya jiwa bolang (bocah petualang, red) sejati sehingga mau-maunya pindah ke sana ke mari. Kalau saja saya sudah menemukan tempat yang nyaman dan tepat untuk menetap sementara waktu di Jakarta ini sih, ya saya akan menetap. Namun, sepertinya Alloh berkehendak agar selama saya mengadu nasib di kota yang semrawut ini dan menempa pengalaman sebanyak-banyaknya...

Semuanya tentu bermula dengan babak baru dalam kehidupan saya yang harus saya lalui, yaitu dunia kerja. Pada fase ini, saya dengan terpaksa harus berdomisili di Jakarta hingga nantinya akan ditempatkan di suatu tempat entah di mana (semoga Alloh memberikan tempat yang terbaik untuk saya). Hal ini adalah kebijakan dari kantor saya yang mengintruksikan para bakal calon pegawainya untuk magang di kantor pusat dan juga kantor instansi vertikal di daerah Jakarta. Hmm saya tak bisa menolaknya karena sudah terikat perjanjian kerja, walaupun sebelumnya sempat sangat berharap agar magang bisa di daerah dekat tempat tinggal saya. Nah, langsung saja ya, saya akan ceritakan detail kenangan saya pada setiap tempat yang telah saya singgahi. Seperti biasanya tulisan ini lumayan panjang, jadi harap maklum, sudah ciri khas he...

Pejambon, 7 November 2010-6 Januari 2011

Yap, secara definitif saya mulai magang di kantor pada tanggal 8 November 2010 setelah sebelumnya mendapat pengarahan dan pembekalan dari kantor saya. Sebelumnya, selama pengarahan dan pembekalan yang berlangsung selama kurang lebih sepekan, saya numpang menginap sementara waktu di kos teman saya di daerah Ceger, dekat Kampus STAN. Yah, waktu itu, saya masih belum merasakan Jakarta sepenuhnya. Daerah sekitar kampus masih menawan perhatian saya dengan kesederhanaan khas daerah pinggiran Jakarta. Namun, perjalanan dari Ceger-Lapangan Banteng (tempat pembekalan) ternyata begitu melelahkan kalau saya jalani terus menerus. Apalagi kondisi saya yang belum mempunyai alat transportasi pribadi, sehingga untuk pulang-pergi menggunakan transportasi umum. Kemacetan tiap pagi dan sore hari akhirnya membuat saya jera jua dan sebagaimana lazimnya teman-teman sekantor saya yang lain, saya pun memutuskan untuk mencari kos dan menetap sementara waktu di daerah dekat kantor, sehingga tak perlu untuk berhadapan dengan parahnya kemacetan yang memakan waktu begitu lama selama perjalanan tersebut.

Mencari kos bukanlah suatu hal yang gampang. Saya dan teman-teman saya berusaha mencari kos yang kondusif untuk kami tinggali. Berputar dari satu daerah ke daerah lainnya, dari satu rumah ke rumah lainnya. Daerah pertama kali yang kami cari adalah daerah Paseban. Pada daerah itu, hasil yang kami dapati adalah begitu sedikitnya kos yang masih kosong, seringnya banyak jawaban, “maaf, mas, sudah terisi penuh”. Kalaupun ada yang kosong itu pun terkadang masih membuat kami ragu dengan hal-hal seperti kos campur perempuan-lelaki, lingkungan yang kurang kondusif, dan lainnya. Hmm selama pencarian di daerah tersebut, alhamdulillah beberapa teman saya sudah menemukan kos yang tepat untuknya, hanya saja sayangnya untuk saya, saya tidak kebagian jatah.

Selain pencarian kos yang telah dilakukan bersama dengan teman dekat saya, saya juga mendapat informasi dari teman satu kelompok magang dengan saya yang menawarkan untuk kos bersama. Saat itu, saya belum terlalu kenal dekat dengan teman saya tersebut. Namun, karena gagalnya pencarian yang telah saya lakukan sendiri dan juga pertimbangan bahwa kos bersama teman satu kelompok akan memudahkan koordinasi nantinya, maka akhirnya saya memutuskan untuk kos bersama mereka.

Dan tempat yang saya pilih tersebut berada di daerah Pejambon. Daerah ini letaknya berada di jalur jalan kecil di samping Gereja Immanuel, daerah antara Kementerian Luar Negeri dengan Stasiun Gambir. Dari daerah ini ke kantor saya, aksesnya cukup mudah, tinggal jalan kaki sekitar 15 menit, maka saya sudah sampai di kantor pusat saya di Lapangan Banteng. Kalaupun juga adanya kebijakan rolling kantor instansi saya di Juanda, Otista, dan Simatupang, masih bisa diakses melalui jalur busway.

Saya tinggal di sana bersama teman-teman yang baru saya kenali. Ada sih yang sudah saya kenali dan dia menjadi teman sekamar saya. Walaupun belum ada sebulan kami berada di situ, teman sekamar saya tersebut memutuskan untuk tidak kos lagi di situ karena beberapa hal, dari adanya tawaran untuknya menumpang di rumah kerabatnya, ketidaknyamanan yang ia rasakan, dan juga sepertinya cekcok yang pernah terjadi di antara kami berdua (alhamdulillah sekarang sudah berdamai). Jadilah, kemudian saya sekamar sendirian selanjutnya dan juga tidak bisa berbagi biaya sewa kos yang cukup mahal apabila dibayar sendiri.

Seiring waktu berlalu, ketidaknyamanan yang sebenarnya juga telah saya rasakan sejak awal pun menguat. Saya kurang nyaman dengan perilaku teman-teman saya yang begitu gaduh kalau sedang berkumpul, sehingga saya pun agak terganggu. Maklum dengan pembatas kamar berupa dinding triplek, suara begitu mudah terdengar antarkamar. Saya sendiri tidak bisa membiasakan diri bergabung dengan mereka karena terkadang obrolan yang mereka perbincangkan adalah hal yang bukan dalam ranah saya sekali dan terkadang hal yang saya hindari. Jadilah, selama berada di kos tersebut, saya hanya berinteraksi dengan mereka seperlunya. Saya juga merasakan ironi pada keluarga pemilik kos yang saya tempati saat itu. Ibu pemilik kos tersebut adalah seorang wanita paruh baya yang mempunyai kebiasaan buruk merokok. Lingkungan sekitar kos juga agak menyeramkan bagi saya karena banyaknya anjing (hewan yang saya tidak sukai) berseliweran di mana-mana.

Walaupun memang, tinggal di Pejambon tetap suatu pilihan yang saya pertahankan sementara waktu karena daerahnya yang cukup strategis ke mana-mana. Terkadang, kalau saya sedang benar-benar merasa tidak nyaman di kos sendiri, saya mempunyai tempat pelarian dengan jalan-jalan ke Monas, Stasiun Gambir, ataupun menenangkan diri di Masjid Istiqlal cukup dengan berjalan kaki saja ke sana.

Hingga pada suatu saat, ketika masa kos bulan kedua sudah hampir berakhir dan apesnya saat itu uang yang saya miliki tidak cukup untuk membiayai kos lagi di sana karena saya juga dapat musibah handphone saya rusak, sehingga harus beli baru lagi, saya pun memutuskan untuk pindah. Tempat pindah saya yang saya tuju kemudian adalah daerah Cawang, tempat tinggal kerabat saya di sana.

Cawang, 6-22 Januari 2011

Cawang, daerah inilah yang menjadi destinasi saya selanjutnya. Cukup jauh memang dari kantor saya sebenarnya. Tetapi inilah yang menurut saya tempat terbaik saat itu dengan alasan saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk kos dan juga bisa lebih dekat dengan kerabat yang berada di Jakarta.

Tinggal di daerah ini kemudian menjadikan saya cukup sadar bahwa saya merasakan The Trully Jakarta dengan kemacetannya. Berangkat harus pagi-pagi sekali dan pulang pada malam hari dengan menggunakan fasilitas busway. Hm fasilitas ini membuat saya belajar menunggu datangnya busway yang terkadang cukup lama, belajar mengantri dengan baik (walaupun pada beberapa momen, saya dapati begitu brutalnya para penumpang berebutan bus), dan jua belajar berdiri berdesak-desakan di tengah kerumunan sesaknya para penumpang bus. Apalagi saat pulang kantor, semuanya itu akan terasa begitu komplit dengan dilaluinya kemacetan arus pulang kerja sehingga jalur busway pun tersendat. Saat-saat itu terkadang terasa begitu berat bagi saya.

Ah, beginilah konsekuensinya. Tetapi untuk hal yang satu ini, sebenarnya saya masih kuat untuk menoleransinya. Namun, dalam perjalanan selanjutnya berada di daerah ini, lagi-lagi saya temukan ketidaknyamanan. Saya sempat mengalami beberapa konflik tidak mengenakkan dengan kerabat saya mulai dari dicuatkannya kembali masalah keluarga yang dulu terpendam begitu lama dan juga adanya beberapa pihak yang tidak suka dengan kehadiran saya di sana.

Saya kira semua itu tidak akan terjadi. Niat saya pun baik-baik untuk menumpang sementara waktu di sana. Walaupun setelah saya introspeksi, sepertinya memang ada beberapa perilaku saya yang disalahpersepsikan oleh kerabat saya sehingga memicu konflik-konflik yang sebenarnya hanyalah hal yang remeh. Semua ketidaknyamanan itu akhirnya mengumpul menjadi satu, hingga akhirnya saya putuskan untuk lebih baik tidak merepotkan mereka lagi. Saya memilih untuk menderakan hati saya sendiri dengan mengalah.

Alhamdulillah saat itu honor sudah saya terima dan saya pun meminta bantuan teman saya untuk mencarikan kos. Saya pun pindah dari daerah tersebut dan mendapatkan kos yang sangat sederhana di daerah awal mula saya mencari kos, daerah Paseban.

Paseban, 22 Januari-19 Maret 2011

Daerah Paseban adalah daerah dekat dengan kawasan niaga Kenari Mas dan juga Kampus Salemba UI. Daerah ini memang daerah yang terkenal dengan banyaknya kos-kosan bertebaran di sekitar daerah tersebut karena Paseban merupakan kawasan pemukiman penduduk yang dekat dengan beberapa kawasan perkantoran dan pendidikan (UI, UPI YAI, dan BSI). Akses dari Paseban ke kantor pusat di Lapangan Banteng relatif mudah dengan hanya naik mikrolet mini selama kurang lebih 10 menit. Di sana pun juga ada kos dari beberapa teman seinstansi saya. Walaupun sayangnya, kos baru saya tidak bersama mereka. Saya tetap saja berada di lingkungan yang cukup asing menurut saya.

Saat itu, karena keterdesakan saya untuk kos lagi akibat ketidaknyamanan numpang di rumah kerabat saya, saya pun memilih kos yang seadanya saja, yang penting bisa untuk tinggal sementara waktu. Sempat sebelumnya saya dan teman saya mencari ke sana ke mari kos yang kosong di Paseban, tetapi hasilnya begitu minim dan kurang memuaskan sama seperti dulu. Hingga akhirnya saya memutuskan pada sebuah kos yang sangat sederhana dengan biaya yang sangat terjangkau dan murah bagi saya saat itu.

Kos itu sebenarnya menurut saya tidak terlalu layak huni. Dinding-dinding pembatasnya berupa triplek dan ada beberapa yang sudah rusak parah. Kamar mandinya terlihat begitu suram dan sepertinya jarang dibersihkan, sehingga terkesan kumuh. Akan tetapi, ya inilah opsi yang paling tepat bagi saya saat itu karena biayanya yang murah bagi saya dan juga masih adanya kamar kosong di sana. Dengan fasilitas yang seadanya itulah, satu pelajaran yang saya dapat terima tentang kebersahajaan hidup.

Selama saya tinggal di sana pun, entahlah ketidaknyamanan hadir kembali. Lingkungan kos tersebut begitu aneh menurut saya. Penghuni-penghuninya cukup misterius, saya belum sempat berkenalan dengan mereka karena tidak ada momen bertemu dengan mereka, sekilas terkadang terlihat kehidupan di kamar lain, tetapi dalam sekejap mereka pergi menghilang entah ke mana. Saya begitu merasa sendiri di sana karena memang tidak ada teman yang saya kenal dalam satu kos. Kos ini juga kemudian semakin lama semakin sepi dengan hanya ada dua kamar yang masih terisi dari 5 kamar yang tersedia dan salah satunya adalah kamar saya (yang saya ketahui).  

Walaupun, daerah Paseban mempunyai keunggulan tersendiri yang saya sukai. Di daerah ini ada dua masjid yang sering saya pergi ke sana, Masjid Ummu Sakina yang bacaan imamnya begitu bagus dan Masjid At Tauhid Arif Rahman Hakim di kampus Salemba UI yang bangunannya cukup membuat saya kagum. Ya, berada di masjid ini terkadang menjadikan saya tenang dan merasa nyaman daripada di kos saya sendiri.

Dua bulan pun berlalu di sini tanpa terasa. Menjelang memasuki bulan ketiga, saya pun berpikir untuk masih meneruskan kos di sini atau tidak. Hingga dengan mantap, akhirnya saya memutuskan pindah ke tempat yang baru, yakni daerah Cempaka Putih.

Rawa Tengah, 19 Maret 2011-...

Dengan adanya informasi yang saya dapatkan dari teman saya kalau ada kos kosong di daerah Rawa Tengah, saya pun tertarik untuk kos di sana dan mencoba meninjau langsung ke sana. Hasil dari peninjauan tersebut memantapkan saya untuk memilih daerah Rawa Tengah sebagai tempat domisili saya selanjutnya.

Ada beberapa pertimbangan yang membuat saya memutuskan pindah ke sini. Yang pertama, tentu karena lingkungan. Setelah introspeksi pengalaman pindah-pindah saya selama ini, saya menarik satu kesimpulan untuk memilih kos yang mana lingkungannya cocok dengan saya. Alhamdulillah di kos daerah tersebut ada beberapa teman yang sudah saya kenal baik, sehingga saya cukup yakin lingkungan di sana akan cocok dengan saya. Yang kedua, tentunya adalah hal tentang biaya sewa kos. Alhamdulillah untuk biaya sewa di sana termasuk yang hitungannya murah untuk saya. Akses dari sana ke kantor juga relatif mudah sama halnya dengan daerah Paseban, cukup naik transportasi publik (metro mini, busway,dll) satu kali saja selama beberapa menit.

Hmm untuk daerah yang satu ini, sayangnya saya belum bisa bercerita banyak karena sekarang pun saya belum beranjak pindah ke sana. Saya masih berada di kos Paseban pada saat saya tuliskan cerita ini. Saya hanya berharap dan berdoa agar kos ini nantinya akan menjadi pelabuhan terakhir saya selama berada di Jakarta sebelum penempatan saya nantinya. Pindah-pindah kos merupakan hal yang cukup melelahkan bagi saya. Barang-barang yang saya punya ternyata cukup banyak dan merepotkan untuk dipindahkan. Saya juga menginginkan agar di kos ini nantinya tidak ada hal yang membuat saya merasa nyaman selama berada di sana.

Perpindahan ini adalah hal yang menjadi suatu pelajaran tersendiri bagi saya. Pada setiap tempat saya menetap sementara, ada hikmah yang bisa saya gali untuk saya pahami tentang kehidupan. Memang sempat ada beberapa memori buruk dan ketidaknyamanan yang pernah ada, tetapi dari memori seperti itu, dapat diambil pelajaran yang berharga. Saya lebih mengenal keberagaman manusia dan juga bagaimana cara yang menjadi terbaik untuk menghadapinya, walaupun saya belum sempat benar-benar saya terapkan karena cara tersebut baru saya pahami setelah berpindah ke tempat yang lain. Satu hal yang cukup penting juga menjadi kesimpulan saya bahwa dalam interaksi dengan manusia itu diperlukan fleksibilitas karena tak semua apa yang kita hadapi adalah hal yang kita inginkan. Saya seharusnya bisa menoleransi beberapa aspek yang bisa saya toleransi dengan lingkungan sekitar saya agar muncul kenyamanan berada dalam lingkungan tersebut, tetapi tentunya tanpa perlu mengubah prinsip dasar hidup saya.

Well, jadilah belakangan ini terngiang dalam benak pikiran saya, "keep on moving, until you reach the place where you can really be yourself..."

Paseban, 18 Maret 2011, 22.20

42 komentar:

  1. Subhanallah..
    Nice story(mungkin lbh tepatny curhat ya,he)..
    Dblik ksusahan ad kmudahan,Insya Allah pnempatan ntar dpt yg trbaik y..
    Swt saat kayakny an bkal ceritain perjalanan d Mdan jg nh..

    BalasHapus
  2. yoa... curhat colongan kok he...

    BalasHapus
  3. aamiin.... jazakallohu, hafizh... *selalu terharu kalau ada yang mendoakan demikian

    BalasHapus
  4. oya... harus itu... ditunggu yaks heheheh

    BalasHapus
  5. wah... pada kenyataannya ibukota lebih kejam daripada ibutiri... (halah!)

    semoga saya gak penempatan jakarta...
    *ngebayangin beratnya... pfuh

    BalasHapus
  6. hohoho begitulah...
    tetapi pada satu kesimpulan sih, di kota ini jadi ajang menempa diri, membanting mental, struggle untuk survival jua...
    saya sih berharapnya punya pengalaman sebanyak2nya di unit paling bawah dulu di daerah... dan kalau sudah membawa banyak pengalaman dan dipanggil ke pusat lagi, insya Alloh saya dah siap dengan kompetensi yang ada... *gimana pun jua jenjang karir yang lebih tinggi menjadi suatu keinginan jua (jangan sampai deh berlama2 di daerah he)
    daerah pun juga akan memberikan semangat survival yang bisa kemudian diterapkan di pusat hehehe

    BalasHapus
  7. fiuuh baca proses pindah dari satu tempat ke tempat lainnya membuat saya seperti bisa merasakan beratnya hal itu.
    Lagi-lagi jadi ingat saat prajab, ada beberapa ketidaknyamanan yg saya rasakan di asrama, mulai teman2 sekamar yg perokok semua sampe antrian mandi tapi Alhamdulillah cuma sebentar, ga sebanding dengan perjuangan Anaz selama ngekos di ibukota. Tetep semangat ya n moga betah di Cempaka Putih.

    BalasHapus
  8. dilematis nih buatku mbak, hhe, sebagai seseorang yang sudah lebih dari 12 tahun di Jakarta (sampe SMA dihitung 12, sisanya kan kuliah di Tangerang, he), keluarga jg di sini..

    BalasHapus
  9. btw "keras"nya Jakarta tu yang lebih disoroti ttg kemacetannya, individualisme masyarakatnya, ato apanya ya?
    enatah ini saya yang belum banyak makan garam di "kota" sana atau memang saya yang sudah tak peka dengan kerasnya ibukota..
    *tapi sepertinya yang pertama deh

    BalasHapus
  10. Heheheehe.... Klo aku sih lebih milih jadi komuter daripada tinggal di "kota", dulu pas masing ngantor, kantor di Pancoran trus nge-kost di Depok... Karena suasananya yang nyaman aja, hehehe.. Liat temen2 yang tinggal di "kota" klo buka pintu yang keliatan dinding kayaknya bukan gue bangeet.. :))
    Pernah 3 bulan tinggal di kalimalang, deket banget dengan kantor, tapi ga betah, cuma tahan 3 bulan.. ^__^

    BalasHapus
  11. ini maksudnya karena saking rapatnya perumahankah ato seperti apa?

    BalasHapus
  12. pindah-pindah kost itu lumayan capek juga ...
    gotong-gotong barang, naik turun tangga, bongkar muat barang ... he he he ...

    BalasHapus
  13. begitulah.... lingkungan baru akan memberikan kita pengalaman baru, entah itu menyenangkan atau kurang menyenangkan... Hooo, tidak sebanding? Tetapi pengalaman sepertinya udah banyak deh Mas Ihwan he..
    yosh! kudu tetep semangat dan semoga betah... makasih mas...
    *fyi ralat daerah baru saya ternyata namanya bukan "Cempaka Putih", tetapi yang bener "Rawa Tengah".. barusan diberitahu he

    BalasHapus
  14. emang beda deh orang jakarta tulen ma yang kagak... tapi pada kesimpulannya hampir kebanyakan orang mengharapkan penempatan sedaerah dengan keluarganya... iya to?

    BalasHapus
  15. wooo nisa, saya aja baru ngerasain Trully Jakarta semenjak kerja (magang lebih tepatnya) beberapa bulan yang lalu kok... pokoknya ya itulah, semua kerasa di ibukota ini menurut saya sih (apa mental saya yang cemen ya hehehe)... hmm jadi coba masuki dunia kerja dulu, sapa tahu perspektifnya benar-benar beda... *ditunggu he

    BalasHapus
  16. tetep, paseban gang IV is the best nas...hehe
    kenapa dulu saya nolak yang cempaka putih?
    1. pulang kantornya gak nyaman. mesti berjejalan, baik ketika naik metromini maupun naik mayasari (jurusan Kp. rambutan). apalagi busway...janga ditanya. inilah salah satu sebab kenapa si gin2 sering males pulang sore (berdasar pengakuannya loh..)
    2. harga makanan enak relatif lebih mahal...secara di paseban bisa makan sama ayam goreng+dua macam sayur-an dengan uang 5.500
    3. musholla (masjidnya jauh) nya gak senyaman ummu as-sakinah cz serasa pengap+panas. tilawah imamnya pun (maaf) standar banget, bahkan cenderung agak payah. jauuuuh deh...apalagi kalo dibandingin imam subuhnya ummu as-sakinah. (hehe, sori buat masalah tilawah ini saya amat pelit)

    BalasHapus
  17. sepertinya kita sama-sama dah berpengalaman nih he...
    sudah sebegitunya semrawut dan padat ni di "kota"...
    ho.. dulu dah ngantor di mana emangnya?

    BalasHapus
  18. wuaaaaaaaa... ni yang sedang saya rasakan, mas... hiks T_T

    BalasHapus
  19. yooo... itu kan pilihan versimu...
    tapi jangan terlampau betah di sana...
    ingat... luar jawa mungkin tak seindah Paseban...
    coba dong struggle di tempat lain dulu hahahahaha...
    *ngeles en gak mau ngalah

    BalasHapus
  20. emang keliatan bedanya ya? *mikirlagi

    ===========
    dan keluarganya pun menginginkan demikian, he

    BalasHapus
  21. *toss*
    Dulu ngantor di middle tax office of east jakarta.. :)

    BalasHapus
  22. maksudnya yang asli dari jakarta, bukan daerah luar jakarta (Jawa, Sunda, dll)... tapi asli beneran gak? atau ada keturunan ini itu (biasanya)...

    BalasHapus
  23. di atas kan udah dibilang..di Jakartanya baru sekitaran 12 taun ditambah masa2 semi-rantau di Bintaro yang hampir 3 tahun ini..

    BalasHapus
  24. @muse...wualah kok pake istilah neko2 toh... bentar.. hmm KPP Madya Jakarta Timur gitu?
    *masih belum mudeng dengan struktur organisasi pajak he*
    ho jadi ni kuliah DIII Khusus atau DIV?
    berarti ralat dong, saya masih lebih muda dari muse hihihi

    BalasHapus
  25. @nisa... oh yaya... la emang sebelumnya nisa di mana?

    BalasHapus
  26. Huehehe... D4 aja kakak... Ini semester 10

    BalasHapus
  27. wuies... bentar lagi lulus dong... hihihi ternyata tampang muse muda juga ya... nggak keliatan D4 yang biasanya bertampang tua...
    jadi manggilnya pantesnya kak muse dunks...

    BalasHapus
  28. MTO?
    mto bukannya medium taxpayers office yak...?

    BalasHapus
  29. Aduh jadi terharu... Emg tampang gue lucu qiyuuut dan imuuutt *ngasih kresek*

    BalasHapus
  30. tanya ma kak muse ya... (sekarang pake "kak" he)...
    kan sesama pajak tuh

    BalasHapus
  31. @mb ute... tanya ma kak muse ya... (sekarang pake "kak" he)...
    kan sesama pajak tuh

    BalasHapus
  32. @kak muse... terimakasih atas kreseknya... dah tahu aja kalau bakal... butuh banyak tas kresek buat pindahan he

    BalasHapus
  33. Sama aja sih klo dibahasa indonesiakan Tun.. Ada yang bilang Middle ada yang bilang medium.... Dulu aku biasanya pake medium, tapi pas liat di agenda kantor ternyata pake middle, yo weis aku manut ae.. hehehe

    BalasHapus
  34. sepengetahuan saya juga kalo ndak salah pembagian struktural kantor pajak modern tuh dari small-middle (yang lazim saya denger)-large office...
    walaupun tetep aja sih masih nggak ngeh banget he...
    tapi kalo tanya struktur KPPN ke saya yah... apal banget *sapa yang tanya he

    BalasHapus
  35. tempat baru...adaptasi baru yah...
    moga ketemu tempat yang bener2 nyaman yah....:D

    sesuai dengan motonya "keep on moving, until you reach the place where you can really be yourself..."

    masi belum pasti ya penempatannya yg fix

    BalasHapus
  36. @ms anas
    dulu sempet di Solo, cz org tua msh kuliah di sana..smpt ikt mbah jg di Purwodadi..

    BalasHapus
  37. @ario... aamiin.... ya seperti itulah... sangat amat berharap

    BalasHapus
  38. @annisa... oalah... tiyang jawi to asal muasal keluarganipun

    BalasHapus
  39. iya, tp ni bhs jawanya udah bnyk yg luntur n krn di jawanya cm sampe TK, jd cm bisa ngoko aja, yg kromo brantakan, skrg sdg dalam masa bimbingan berbahasa jawa, he..

    BalasHapus
  40. nggak terupgrade lagi nih basa jawanya gara2 kuliah di STAN :D
    mb ismi aja bisa kan he

    BalasHapus