Ajari aku tentang ukhuwah... Karena aku masih merasakan ada yang mengganjal di dalamnya... Kecanggungan itu masih ada, entah mengapa... (nanazh’s quicknotes, 1 Maret 2011).
Selama ini, setelah kurenungi sejenak, ternyata baru sebatas inilah ukhuwah yang kurasakan. Rasanya masih belum semanis apa yang sering diungkapkan dalam berbagai kajian tentang ukhuwah. Adakah yang salah dalam hubungan yang selama ini telah terjalin? Lalu, kenapa hubungan ukhuwah ini terasa begitu hambar bagiku?
Kecanggungan rasa-rasanya hadir dan mengusik benakku ketika berada bersama mereka. Sosok-sosok mereka tiba-tiba terasa begitu asing. Padahal sudah sekian lama aku mengenal mereka, berinteraksi bersama mereka, dan melakukan banyak hal jua bersama mereka.
Apakah ada hal yang salah?
Sepertinya memang ada. Kalaulah memang selama ini di antara kami sudah mengenal dengan baik, tentu hubungan yang ada adalah suatu hubungan yang dekat. Namun, realitanya aku merasa ada keasingan bersama mereka. Hal ini berarti ada sesuatu yang tidak aku kenali dari mereka. Mungkin juga sepertinya banyak hal yang mereka belum ketahui tentang diriku. Perkenalan yang ada hanyalah sebatas pada permukaannya saja, belum sampai pada tingkatan yang begitu dalam.
Padahal selang waktu yang ada sebenarnya bisa dibilang cukup lama untuk kami agar dapat mengenali jauh lebih dalam lagi antarpersonal. Namun, entah mengapa, dari sekian lamanya waktu berjalan, yang dapat aku kenali dari mereka adalah hal yang masih begitu sedikit, mereka pun juga sepertinya demikian.
Dalam perjalanan waktu tersebut jua, banyak kedekatan yang sebenarnya sudah terjadi dengan adanya kegiatan atau aktivitas bersama yang pernah dijalani. Namun, dalam kedekatan itu, ternyata setelah aku renungi, seringnya hanyalah berupa kedekatan secara fisik saja. Kedekatan jiwa hanya sesekali terasa dan ia begitu cepat mengabur dalam memori ingatan diri.
Dalam kedekatan fisik itu jua, komunikasi yang ada rasa-rasanya hanyalah pada tataran formalitas belaka. Aku sulit menangkap bahasa kalbu dari apa yang mereka sampaikan. Menurutku, apabila kedekatan itu sudah pada tataran hubungan antarhati yang saling terpaut, maka tentunya suatu hal yang mudah untuk saling memahami bahasa kalbu masing-masing. Bahasa-bahasa yang tertuturkan adalah bahasa yang begitu kaku dan tak mencerminkan apa yang sebenarnya hati ingin sampaikan. Ada tembok penghalang yang begitu besar rasanya untuk menjadikan antara satu pribadi dengan yang lain dapat mengetahui maksud hati. Tembok itulah yang seakan membatasi hubungan yang ada dan menjadikan tidak terbuka satu sama lain. Pembatas itu begitu jelas terasa.
Padahal, anehnya terkadang manakala aku bersama dengan komunitas yang lain, aku bisa merasakan kedekatan itu hadir dan bahasa kalbu nyata-nyata ada di antara kami. Kedekatan tidak hanya sekadar fisik saja, tetapi aku bisa merasa begitu lugas menyampaikan apa saja yang hatiku ingin sampaikan. Keterbukaan itu ada dan muncul dengan sendirinya, tanpa perlu dibuat-buat ataupun ada batasan. Bersama mereka, aku menjadi diriku sendiri dan menampakkannya kepada mereka tanpa perlu harus ada yang ditutupi.
Pada komunitas lain itu, kedekatan memang begitu terasa, walaupun sebenarnya di antara kami belum sebegitunya mengenal dengan baik satu sama lain pada awalnya. Namun, seiring waktu berjalan, kedekatan itu menjadikan kami lebih mengenali. Keterbukaan yang sedari awal menjadikan kedekatan itu ada dan keterbukaan pulalah yang menjadikan proses kenal-mengenal menjadi berjalan lancar.
Seharusnya, ukhuwah antara insan yang menyatakan niatnya untuk mengabdi pada Ilahi dapat lebih baik dari sekadar pertemanan dengan komunitas lain. Lalu, manakah yang lebih baik pada tataran realitanya... Merasa sudah mengenal dengan baik, tetapi hubungan belum sebegitunya dekat seperti pada ukhuwah yang aku rasakan atau merasa dekat tetapi belum sebegitunya mengenal seperti pada komunitas lain yang aku rasakan? (nanazh’s quicknotes, 11 Maret 2011).
Mungkin persepsiku yang membebaniku selama ini. Aku menganggap mereka adalah sosok-sosok manusia setengah malaikat. Mereka adalah komunitas orang-orang yang begitu shaleh, begitu bersemangat dalam kebaikan, dan tanpa ada cela keburukan akhlak dalam pribadi mereka. Tentu sosok yang demikian adalah sosok sahabat yang ideal. Tetapi, kesempurnaan mereka itu membuatku canggung. Aku merasakan ketidakpantasanku bergabung dengan mereka karena sangat amat kusadari aku masih belum seperti mereka. Ya, karena aku bukan manusia setengah malaikat.
Aku nyata dengan kebukanmalaikatanku. Aku tampakkan diriku apa adanya kepada khalayak manusia karena aku tak ingin dianggap mempunyai topeng yang hanya dijadikan sebagai kedok belaka. Maka, aku pun hadir di kalangan mereka dengan begitu banyak sisi lemah diri. Dan mereka, subhanallah, tampak dengan persepsi kemalaikatannya di hadapanku. Namun, pada satu sisi itulah sebenarnya, aku belum melihat sosok nyata mereka. Aku belum merasakan dan melihat bahwa mereka telah menjadi apa adanya mereka.
Mungkin saja pribadi mereka memang sudah sejatinya setengah malaikat. Namun, apabila memang seperti itu nyatanya, tentu aku tidak merasa ada hal yang tersembunyi dari mereka. Tetapi, sebagaimana yang aku ungkapkan sebelumnya, perkenalan di antara kami ternyata begitu kurang berkualitas. Ada tembok pembatas yang menghalangi masing-masing antara kami untuk mengenal lebih jauh.
Bisa jadi tembok itu adalah ego, ego yang ditujukan untuk membentengi diri agar kepribadian diri masih tercitrakan dengan baik. Namun, bagiku sendiri, dalam hubungan apa pun itu, aku berusaha untuk menepis ego yang muncul. Karena, sekali lagi aku tegaskan, aku hanya ingin orang menilai aku apa adanya. Tak perlu bagiku untuk menutup-tutupi sisi diriku dan kemudian malah bertingkah menjadi sosok yang lain. Ego itu hanya bisa runtuh dengan keterbukaan.
Ukhuwah yang ingin kurasakan adalah ukhuwah yang bukan hanya lahir dari doktrinasi belaka, tetapi juga diiringi atas dasar inisiatif dan kesadaran pribadi. Agama memang mengharuskan agar muncul adanya ukhuwah di antara sesama penganutnya. Akan tetapi, karena hal ihwal ukhuwah adalah sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan hati, maka menurutku, ukhuwah itu seharusnya lahir dari inisiatif dan kesadaran pribadi. Doktrinasi adalah pekerjaan akal dan apabila ukhuwah lahir hanya dari hal tersebut, maka ukhuwah yang ada tidak akan sanggup menyatukan antarhati yang bergabung dalam bahtera ukhuwah itu.
Mungkin, sepertinya mungkin, kehambaran ukhuwah ini terasa karena hal itu. Ukhuwah hambar karena di antara kami hanya menjadikan basis logika untuk menjalankan ukhuwah ini, perasaan dan aktivitas hati begitu termarjinalkan. Ukhuwah menjadi paksaan dan tuntutan karena doktrinasi agama mengharuskan demikian. Padahal, aku yakini bahwa ukhuwah akan terasa manis apabila ada kedekatan hati yang muncul, tetapi kalau ukhuwah ini bukanlah hasil dari pekerjaan hati, bukankah hambar rasanya?
Formalitas kedekatan pun berjalan seakan tanpa makna bagiku. Bertabur kata-kata indah tentang manisnya ukhuwah yang mereka sampaikan padaku. Namun, kata-kata itu serasa masih baru berada di awang-awang. Aku belum merasakan antara diriku dan mereka dapat benar-benar merasakan kata-kata indah itu terngiang di hati. Aku tak ingin hanya sekadar kata, tetapi kuharap sangat kata itu mewujud dalam tindakan dan perilaku. Bukankah kita paham bahwa apa yang nantinya telah dikatakan oleh tiap pribadi akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya? Maka, jangan sampai kata indah itu terlantun tanpa pada aspek realitanya ia belum dapat terwujud.
Merasakan ukhuwah adalah hasil pekerjaan dari iman dalam diri. Allah-lah yang akan mengikatkan hati-hati yang terpaut pada-Nya untuk kemudian Allah persatukan dalam ukhuwah. Maka, untuk dapat dipersatukan dalam ukhuwah oleh Allah, maka diri harus menautkan hati pada Allah dengan iman yang begitu kuat. Namun, apa jadinya bila iman ini berada pada titik lemahnya?
Mungkin, sepertinya mungkin, sebagai hukumannya, ukhuwah menjadi sehambar ini. Akulah yang perlu introspeksi ke dalam hati ini, sejauh level keimanan ini ada. Kalau memang iman ini melemah, maka sudah sepatutnya kehambaran ini aku terima. Namun, apakah ukhuwah yang telah terjalin ini hanyalah untuk orang yang senantiasa mempunyai level keimanan tinggi? Lalu, bagaimanakah dengan orang yang imannya melemah? Bukankah sebagai anggota lain dalam jalinan ukhuwah itu, sebaiknya membantu saudara kita untuk kembali meningkatkan imannya?
Bila ukhuwah itu memang kumpulan orang yang saling mengingatkan dan membantu, maka orang yang lemah imannya pun seharusnya dapat bergabung dan merasakan manisnya ukhuwah, sehingga dia pun kembali pada level keimanannya yang tinggi. Dalam manisnya ukhuwah yang aku inginkan, tak ada istilah eliminasi atau penyingkiran bagi mereka yang imannya melemah dan dalam dirinya terdapat noda kesalahan. Karena ukhuwah itu menjadikan orang-orang di dalamnya untuk saling mengetahui kondisi antara satu dengan lainnya, saling memahami bagaimana perasaan hati, saling membangun kekuatan pribadi satu dengan yang lain.
Inilah isi hati yang begitu gundah menggelayutiku. Inilah sebuah tulisan yang tersusun oleh begitu kuatnya perasaan akan ukhuwah, hingga logika pun begitu kukesampingkan. Padahal untuk paham akan sesuatu, logika itu pasti tetap dibutuhkan. Logika yang ada itu mewujud dengan bentuk ilmu dan ilmu adalah sesuatu yang tidak hanya sekadar pada tataran teorinya belaka, tetapi hendaknya ia diajarkan. Maka, ajarilah aku tentang ukhuwah...
Aku tak ingin ikatan ukhuwah yang ada hanyalah terbentuk selama kedekatan fisik masih berlangsung. Hingga kemudian nantinya apabila sudah tidak ada kedekatan fisik lagi, maka ikatan itu benar-benar sudah berakhir. Aku ingin ukhuwah ini sanggup mengobati diriku yang hingga kini masih berusaha untuk menemukan sosok pengganti sahabat yang dulu begitu membuatku terkesan dengan kedekatan hati yang sangat membekas dalam memori. Ukhuwah yang ingin kurasakan tak seharusnya terasa hambar seperti ini...
Rawa tengah, 22 Maret 2011, 22.24
saya nggak mau koment dulu ya, dek nanazh..
BalasHapusini namanya comment bukan pak?
BalasHapus:-p
yaudah.. kalau nggak mau comment... dengerin nasyid dulu deh
BalasHapuskok kayak yang sering dibilang temen2 "ababiL" tapi bukan ABG lagi kan y?
BalasHapussemua ada proses... dan proses itu ada yg cepat dan ada yang lambat.
BalasHapuskeep trying!
*saya jg pernah mengalami hal yg sama. tapi cuek aja... saya berusah jadi diri sendiri
hm...
BalasHapuskerendahan hati merupakan salah satu pintu menuju terciptanya kedekatan yang baik ...
BalasHapusMaka, siapa pun yang tak mau menerima kerendahan hati seseorang, dialah yang telah menciptakan penghalang bagi sebuah kedekatan ...
dan penghalang itu bisa jadi berupa kesombongan diri yang meremehkan orang lain atau bisa jadi berupa kerendahdirian yang menganggap tinggi orang lain ...
Ukhuwah disini, maksudnya dalam hubungan dengan siapa aja gitu?
BalasHapusbanyak curcol ya akhir2 ini
BalasHapus*ninggalin jejak dlu.
BalasHapusjadi inget... ni maksudnya mau melakukan hal yang sama dengan saya di postingan bung priyo ya... wah, maaf maaf ni... tapi, bolehkan kalau saya minta tak hanya sekadar comment, tetapi nasehat untuk saya sehubungan curhat saya ni kan, bung?
BalasHapusliriknya sebagai berikut :
BalasHapus"Ajari aku tentang sunnah nabiku
Ajarilah tentang indahnya ukhuwah
Ceritakanlah tentang para syuhada
Dan kemuliaan hidup dalam kesyahidan
Mereka adalah para pembela agama
Penjaga benteng-benteng kehormatan
Yang telah merelakan jiwa raganya
Walau dengan antrean panjang
Menggadaikan diri dengan cinta Tuhan"
("Ajari Aku" by Suara Persaudaraan)
terimakasih ke mas Yudhi (septiayudhi) yang dah ngasih referensi buat nasyid ni... pas banget dah buat backsound tulisan ini
ya... sudah bukan masanya jadi ABG.. tapi kelabilan bukanlah sesuatu yang hanya dikaitkan suatu fase masa pertumbuhan... mungkin kelabilan ini memang pertanda saya masih baru sedikit pemahamannya akan sesuatu yang bernama ukhuwah
BalasHapusya... sepertinya waktu yang saya rasa cukup lama ini seharusnya masih membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk itu... proses itu membutuhkan kesabaran memang.... mungkin juga proses saya ini butuh waktu yang lama...
BalasHapusbener deh, mas... i have to keep on trying...
T_T
just wanna be myself and be accepted well
yaaaah... numpang parkir comment doang ni...
BalasHapusnasehat yang wise banget.... mungkin seperti yang saya utarakan juga... ada permasalahan dalam ego masing-masing... dan tentunya saya harus introspeksi, seberapa tinggi ego itu telah menghalangi saya untuk lebih dekat dengan sahabat-sahabat saya...
BalasHapusjazakallah, mas hendra... jempol up banget deh
hafiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiizh.... T_T....
BalasHapus*hanya pengen memanggil namamu
saya sih menyempitkan pada satu komunitas sih kak, teman2 aktivis dakwah yang saya kenal...
BalasHapusseharusnya sih ukhuwah itu tentunya untuk semua orang yang mempunyai satu iman dengan saya...
jadi, ya pengennya juga ukhuwah untuk semua sebenarnya....
keknya begitu ni, mas.... soalnya belakangan jadi sering terus terpikir tema ini... karena belum sempat menulis jurnal yang menjelaskan secara lebih lengkap seperti postingan ini, maka sebelum-sebelumnya saya pake QN...
BalasHapusyah, ni ada yang niru-niru ziyy nih... kalau ninggalin jejak, berarti ntar kudu balik lagi yo...
BalasHapussemoga di dunia nyata dan maya, Anaz tidaklah berbeda ;-)
BalasHapusaamiin... saya berusaha untuk selalu menjadi diri sendiri...ya walaupun mungkin ada orang yang berbeda menanggapinya
BalasHapuswalau belum bisa seperti mereka, namun saya senang berada di dekat mereka, karena di sanalah saya menemukan pengingat dan pemacu untuk terus berusaha menjadi lebih baik.
BalasHapusishbir teman,
BalasHapusmungkin ini jalan Alloh yang akan mengantarkan antum ke dalam ukhuwah yang sejati,,,coba dibaca lagi DDU.,jangan sampai kejadian mengalahkan hubungan...
cuek aja. yg penting punya ciri khas hehe...
BalasHapussemoga ukhuwahnya bisa menyamudera
BalasHapusseperti biasa, panjang banget. ga selese bacanya. hehehe...
BalasHapussepertinya ada bahasan tentang agak kurang nyaman dengan sahabat-sahabat yang setengah malaikat ya?
walaupun tidak nyaman, tapi bersahabat dengan orang-orang sholeh seperti itu adalah kebutuhan kita.
pada satu situasi terkadang ya seperti itulah yang kerasa... saya jadi inget tentang apa yang saya pernah jadikan QN dan posting juga tentang tombo ati yang salah satunya adalah berkumpul dengan orang shaleh...
BalasHapustetapi pada satu sisi lain, kecanggungan itu ada karena hubungan yang ada masih belum dekat...
hmm mungkin sepertinya perlu mengesampingkan rasa canggung ini... but it's not easy
iya... sepertinya saya harus paham bahwa ini menjadi proses dan butuh kesabaran serta waktu yang tidak hanya sebentar...
BalasHapustentang paparan dalam buku DDU, hal ini malah termasuk salah satu hal yang membuat saya kepikiran sejauh mana ukhuwah yang saya rasakan. dan ternyata begitu banyak kekurangan... hmm buku itupun sebenarnya memberikan solusi akan permasalahan-permasalahan ukhuwah, hanya saja itu tidak bisa diatasi oleh saya sendiri.... sepertinya butuh banyak al akh lain yang membaca buku itu agar dapat introspeksi pula sejauh mana ukhuwah dalam versi mereka sendiri dan kemudian kami bisa bersama-sama mengevaluasinya
ouke ouke ouke...
BalasHapussiip!
nice advise
Allahumma aamiin... ngepas banget kudu berdoa dan minta doanya... *dulu ada yang nyaranin kudu lebih kenceng rabithohnya
BalasHapustahu gak mas....
BalasHapuskamu termasuk yang aku maksud di "komunitas lain" lo... (baca dengan detail pasti tahu maksudnya)...
heran aja, seperti ada atmosfer yang berbeda (ya emang harusnya gitu) saat berada bersama teman2 setengah malaikat dan teman2 biasa yang sering berinteraksi... nah, yang saya inginkan tuh saya bisa menjadi senyaman saat bersama dengan teman2 setengah malaikat sama halnya saat bersama teman2 yang biasa berinteraksi
gimana yak,
BalasHapushm...postingan ini melow banget.
mengakui... ya... sedang melo-melonya kumat banget ni
BalasHapusmungkin bagi kita, tapi dari mereka sendiri belum tentu mas anas, hal semacam ini cukup subyektif tergantung siapa yang menilai n_n
BalasHapussepertinya memang begitu sih, mas... makanya saya memakai frase "saya menganggap..." karena ini adalah anggapan saya... nah, sepertinya salah satu bahan pembentuk tembok pembatas ini adalah anggapan ini... sulit tapi saya mengubah anggapan ini, gimana caranya ya?
BalasHapuskarena mereka manusia sama pasti ada kekurangannya tapi ga harus dicari kekurangannya, jadi santai saja
BalasHapushufh,,,, sepertinya memang saya terlalu tegang dan serius dengan mereka... perlu melunakkan diri... plus seperti bung dedy bilang juga cuek aja...
BalasHapuswua.. makasih mas-mas sekalian telah memberikan saran...
ukhuwah....satu kata pendek..tp dalem maknanya...
BalasHapusndak mudah untuk menemukan ukhuwah :D
@kak ario..
BalasHapusbetul... sepakat banget...
hmm sepertinya emang kesulitan ini harus saya hadapi untuk bisa benar2 merasakan manisnya ukhuwah yang begitu diharapkan